Palopo 3.0

Aplikasi Explore Palopo

Aplikasi Explore Palopo

Sepanjang pekan ini, kita disuguhi berita-berita penuh optimisme tentang Palopo. Mulai dari launching IMB online oleh Distarcip, target pelayanan perizinan online di November mendatang, dan terakhir peresmian operasionalisasi Sistem SIPARAPE oleh Dinas Pendidikan. Rentetan pencapaian Pemkot ini seakan meneguhkan hadirnya wajah baru kota ini, yaitu: Palopo 3.0

Sistem Informasi Pemantauan Pembelajaran dan Prestasi Belajar (SIPARAPE), misalnya. Inovasi Dinas Pendidikan ini memberikan fitur yang mampu mendeteksi kehadiran dan bahkan nilai ujian harian pelajar-pelajar Palopo. Orang tua siswa tinggal memantau prestasi dan tugas rumah anaknya melalui smartphone.

Setahun sebelum SIPARAPE, Dinas Pendidikan juga telah menyelenggarakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online. Sistem ini menghilangkan potensi kongkalikong dalam penerimaan siswa baru yang selama ini menjadi momok bagi sekolah-sekolah favorit.

Di penataan ruang dan pemukiman hadir IMB online. Semangat IMB online adalah untuk mengurangi frekuensi tatap muka antara aparat perizinan dengan warga yang ingin membangun (yang biasanya rawan terjadi praktik perjokian).

Di bidang perencanaan pembangunan, Palopo juga kini memiliki e-musrenbang. Aplikasi ini memungkinkan partisipasi aktif warga Palopo dalam mengontrol usulan-usulan pembangunan. Dan yang sementara disusun, sistem perizinan secara elektronik oleh BPMPPT yang ditarget selesai November 2016.

Palopo dengan Generasi Baru

Palopo 3.0 adalah generasi baru dari kota ini yang ditandai dengan semakin dekatnya Pemkot Palopo melayani warganya. Jika Palopo 1.0 ditandai dengan layanan birokrasi yang seadanya dan sangat tradisional; Palopo 2.0 ditandai dengan perubahan ke konsep good governance; maka Palopo 3.0 ditandai dengan perubahan ke konsep “connectivity”.

Saat Palopo 1.0 berjalan, pelaksanaan pemerintahan menggunakan pendekatan birokrasi yang tradisional. Surat menyurat menggunakan layanan pos dan eksistensi caraka sangat vital. Izin-izin pemerintah dikeluarkan setelah melalui berbagai meja. Layanan pemerintah sangat product oriented, tanpa memerhatikan kepuasan penggunanya.

Setelah itu, Palopo 2.0 hadir. Ia memberikan perubahan seiring konsep good governance mengalami perkembangan. Palopo 2.0 ditandai dengan berdirinya Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu (KPTSP) Kota Palopo yang sangat costumer centric. Pelayanan prima yang berbuah kepuasan pengguna layanan KPTSP menjadi utama pada ranah ini.

Sedangkan di Palopo 3.0, pendekatan yang digunakan adalah citizen centric. Masyarakat tidak lagi dipandang sebagai pelanggan atau pengguna layanan pemerintah semata, namun lebih daripada itu, yakni sebagai warga kota sebenar-benarnya. Mereka adalah pemegang hak tertinggi atas kota ini yang harus ikut menentukan arah pembangunan, terlibat aktif di dalamnya, sekaligus sebagai pengawas yang kritis. Oleh karena itu, pemerintahan harus bersifat horizontal, tidak lagi vertikal. Pemerintah harus membumi dan tidak sekadar memberi instruksi tetapi interaksi antara pemerintah dan warga harus dalam sistem 2 arah.

Palopo 3.0 yang semakin horizontal ini terwujud dengan adanya layanan yang berbasis teknologi informasi. Warga Palopo akan semakin terkoneksi melalui aplikasi-aplikasi yang dihadirkan Pemkot dalam pelayanan publiknya. Ia bersifat dua arah dan interaktif, tidak lagi satu arah dan pasif.

Sistem yang semakin terbuka mengejawantahkan prinsip-prinsip good governance. Di Palopo 3.0, prinsip ini mengalami perkembangan lebih lanjut seiring perkembangan smartphone, internet murah dan teknologi open source. Dinamika lain yang mendorong lahirnya Palopo 3.0 adalah kultur masyarakat kekinian yang juga semakin berubah. Saat ini, warga Palopo (yang semakin tumbuh kelas menengahnya) semakin mager (malas bergerak). Masyarakat kita lebih menuntut efesiensi waktu dan minimalisasi produk-produk perizinan. Kelas menengah ini semakin gadget freak dan senantiasa ter-‘connect’.

Palopo 3.0 juga hadir merespon kondisi warga kota yang juga menghadapi serbuan Virus K(reatifitas). Penetrasi virus ini ditandai dengan semakin tumbuhnya komunitas-komunitas berbasis seni, teknologi informasi hingga komunitas lokal yang concern terhadap diskusi ilmah secara mandiri dan independen.

Agenda Ke Depan

Lahirnya generasi baru Palopo 3.0 tidak serta merta memberi peluang namun pula menghadirkan tantangan baru. Beberapa agenda penting yang patut diseriusi adalah edukasi masyarakat, pembangunan infrastruktur jaringan innternet, redistribusi dan reorientasi ASN Palopo, dan pengembangan aplikasi secara berkesinambungan.

Pemkot Palopo tidak boleh sendirian dalam membesarkan generasi barunya. Kolaborasi dengan dunia usaha harus tetap berjalan, baik itu untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan mereka, maupun untuk pembiayaan project yang juga tidak sedikit. Untuk lebih komprehensifnya, komunitas-komunitas IT juga harus mendapat ruang dalam membesarkan generasi baru ini. Sadar atau tidak, sebagaimana yang telah disebut di atas, Palopo 3.0 lahir salah satunya didorong oleh gerakan-gerakan komunitas yang bersifat mandiri dan independen.

Palopo 3.0 ini mendapat momentumnya dengan hadirnya sejumlah paket ekonomi Presiden Jokowi yang menginginkan adanya debirokratisasi, pengembangan industri kreatif dan intensifikasi pembangunan infrastruktur. Untungnya, Palopo mampu meraih dan memanfaatkan peluang tersebut. Palopo kini memang sedang berbenah diri. Perubahan positif diwujudkan satu per satu.

One thought on “Palopo 3.0

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s