MDI

Saya pertama kali mendengar sepak terjang Marwah Daud Ibrahim (MDI) dari ayah saya. Saat masih aktif sebagai PNS Departemen Transmigrasi & PPH, ayah saya mendapat kesempatan belajar dari MDI saat bertugas di Desa Binturu, Kecamatan Larompong, Kabupaten Luwu. Di desa tersebut, dengan Prof A Amiruddin, MDI mendirikan Yayasan Sinergi Karya. Pada saat yang sama, ayah saya menjadi Kepala Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) di tempat tersebut, me-manage penempatan transmigran yang dominan berasal dari Jawa Timur.

MDI banyak memberi warna bagi Desa Binturu. Daerah ini berada di perbukitan sebelah barat daya perbatasan Kabupaten Luwu dengan Kabupaten Sidrap. Sepengetahuan saya, Yayasan Sinergi Karya ini adalah lembaga pemberdayaan masyarakat yang fokus pada pengembangan teknologi tepat guna (TTG). Melalui yayasannya, MDI membangun jembatan, kompleks perkantoran, laboratorium, villa, helipad dan melengkapi dengan pembangkit listrik (yang sebagian dayanya disalurkan bagi warga desa). Di Desa Binturu, yayasan ini fokus dalam pengembangan TTG ulat sutera. Karena kiprah yayasan yang concern mengembangkan ulat sutera inilah, maka Desa Binturu juga dikenal sebagai Bukit Sutera.

MDI sering menghadirkan orang-orang penting bertandang di Yayasan Sinergi Karya. Melakukan seminar, penelitian, pelatihan atau sekadar studi banding. Yang saya ingat pada 1996, ia memboyong rombongan Pangdam VII Wirabuana dengan helikopter di pedalaman Larompong-Luwu itu. Singkatnya, yayasan ini memberi dampak positif bagi Binturu. Ia ditulis dalam jurnal-jurnal ilmiah mengenai model pemberdayaan masyarakat dan pengembangan teknologi persuteraan alam.

Waktu berlalu, saya tak pernah lagi mendengar kabar yayasan milik MDI ini. Kisah MDI hanya kita ikuti dari layar kaca, yang mengabarkan cerita dari ibukota. MDI tampak sibuk di gedung DPR/MPR. Pencapaian paling tingginya, MDI menjadi bakal calon wakil presiden dari KH Abdurrahman Wahid. Pasangan ini kemudian dinyatakan tak lolos persyaratan untuk ikut bertarung di Pilpres 2004 oleh KPU.

Banyak kekaguman saya terhadap MDI yang seorang akademisi-politisi itu. Saya membaca dengan baik buku karangannya yang terbit tahun 2003: Mengelola Hidup & Merencanakan Masa Depan (MHMMD). Buku ini menurut saya sangat applicable, memandu anak-anak muda merencanakan masa depannya. Di kemudian waktu, saya yang besar di Palopo baru tahu bahwa ada training mengenai MHMMD yang dibawa langsung oleh MDI.

Salah satu poin penting dalam MHMMD adalah peta hidup yang berisi target dan langkah pencapaian rencana. Saya menduga-duga, banyak target dan rencana MDI yang meleset dari peta hidupnya. Kegagalan menjadi cawapres misalnya, bisa mengindikasi adanya simpangan dari peta hidup MDI. Targetnya tidak tercapai, dan sejatinya harus ada penyesuaian pada peta hidupnya.

Sayangnya, dua pekan terakhir, kisah MDI hadir kembali dengan dibonceng oleh kisah buruk Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Ia konon menjadi pimpinan di yayasan padepokan taat pribadi, yayasan yang sama sekali berbeda visi-misinya dengan Yayasan Sinergi Karya yang dirintis MDI bersama Prof A Amiruddin di Bukit Sutera, Desa Binturu, Kecamatan Larompong, Kabupaten Luwu.

MDI keukeh dengan gerakannya bersama Taat Pribadi, meski harus menjadi bahan celaan di televisi dan media sosial. MDI tampaknya telah menyusun peta hidupnya yang baru, yang telah direvisinya dari peta hidup sebelumnya. Ia memiliki tujuan hidup yang baru yang kini dijalaninya dengan konsisten sebagaimana konsistennya ia dengan peta hidupnya yang dulu.

Bagi kita yang telanjur menaruh harapan besar atas masa depan MDI kembali ke jalan yang benar, cukuplah doakan agar kebaikan semoga selalu tercurah kepadanya. Mencemooh pun tak ada guna. Ini seperti menasihati orang yang lagi jatuh cinta, kepala batunya minta ampun. MDI kini tetap berjalan mengejar tujuan hidupnya yang sudah ia susun. Sebagai wanita Bugis,ia memang meyakini falsafah “sebelum berangkat tiba dulu, sebelum mulai selesai dulu”. Dan kini ia sudah dalam perjalanan…

Titi DJ, Bu Marwah! Hati-hati di jalan…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s