Fitnah Wanita

Siang ini, khatib KH Zainuddin Samide memberi banyak nasihat di Masjid Agung Luwu Palopo (MALP). Mengenakan jas hitam yang 47 kali ia betulkan letaknya, pak kiyai mengungkapkan bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah hilangnya rasa malu para wanita. Tema khutbahnya memang seputar itu, kondisi umat akhir zaman. Ia menyampaikannya selama kurang lebih 18 menit.

Kemarin, Plt. Sekda Palopo juga menyampaikan keresahannya tentang gadis-gadis remaja kita. Saat membuka pelatihan fasilitator kesehatan reproduksi remaja di salah satu hotel di bilangan Pongsimpin sana, ia mengangkat fenomena wanita-wanita muda yang sering mangkal di Lapangan Pancasila. Tadi malam, saya betul-betul menyaksikan itu. Selepas mengantar istri dari dokter. Di tepi lapangan, mereka berpakaian minim, penuh pupur, dan bersolek gincu. Saat itu, saya ingat kata-kata Plt Sekda kemarin. Katanya, hanya ‘lelaki bodoh’ yang tidak terpikat untuk memerkosanya.

Saudaraku para lelaki, dunia memang makin menua. Zaman makin renta. Wanita kini jadi fitnah. Namun, sekejam-kejamnya fitnah itu, jangan sampai Anda hilang rasa terhadapnya. Karena, lebih beradab mencintai wanita, daripada menyayangi sesama pria.

Selamat menjemput akhir pekan, para lelaki akhir zaman!

Iklan

4C Manajemen Masjid

Untuk menjadikan masjid lebih menarik bagi jamaah, setidaknya masjid kekinian harus memperhatikan 4 hal: Comfort, Cognition, Clear & Connect.

Comfort, merujuk pada kenyamanan jamaah, seperti suhu ruang yang adem, keamanan alas kaki, parkir yang luas dan soundsystem yang ‘easy listening’, keramahan pengurus dan sebagainya…

Cognition, merujuk pada kemampuan masjid menjadi pusat pengetahuan. Ini ditandai dengan tema tauziah yang mencerahkan, mubalig yang komunikatif, remaja masjid yang terkader, dan kegiatan dakwah yang variatif dan berkesinambungan.

Clear, merujuk tidak hanya bersih dalam arti sebenar-benarnya seperti tempat wudu yang mengkilap, toilet yang wangi dan karpet yang tidak berdebu, tetapi Clear juga merujuk pada transparansi administrasi keuangan yang jelas dan ‘prudent’ serta kepengurusan yang bebas kepentingan.

Sedangkan Connect merujuk pada upaya untuk membangun jaringan kerja yang bersifat hybrid. Jejaring offline harus dibangun paralel dengan jejaring online dalam rangka menggalang donasi untuk pembangunan masjid.

Demikian saripati diskusi para pelaku dan pengamat manajemen masjid kekinian siang ini, yang dimoderatori oleh Herawan Syamsuddin Toni , keynote speaker oleh Taslim Jie dan dihadiri oleh Jamaah Humas dan Protokol Kota Palopo… 😀

Aamiin

Allahumma, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sumpek dan gelisah, dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut dan bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari cengkeraman utang dan kekerasan orang.

29 Ramadhan di Masjid Agung Palopo

Saya menyelesaikan tadarus ramadhanku malam ini. Yang terakhir adalah juz Amma, yang hanya beberapa menit saja kubaca dengan lancar. Tentang Surah An Nas yang mengisahkan golongan syaithan dan manusia yang selalu membisikkan kejahatan di dada ini, sejenak saya merenung. Ternyata, janganlah semata-mata menyalahkan syaithan jika ada orang yang mencuri sandal anda di masjid. Bisa jadi mungkin si pencuri itu melakukannya karena kepepet diejek sama teman yang lain. Jadinya, marilah kita sadar diri sebagai manusia, yang sebenarnya kadang-kadang pula ulahnya mirip-mirip si tanduk merah, laknatullah itu!

Tak seperti yang lalu-lalu. Malam ke-29 ini Palopo agak adem. Dari beranda selatan Masjid Agung Luwu Palopo —yang insya Allah akan dibangun dengan megah ini menjelang MTQ Sul-Sel 2010— saya samar-samar menikmati kembang api yang bersahut-sahutan dari arah kawasan Lagota. Indah sekali Baca lebih lanjut

Sofyan Bukan SBY

berdoa[1]Kemarin malam sehabis isya, saya kenalan dengan Sofyan. Orangnya kira-kira berusia 25-30 tahun. Berjanggut lebih lebat dari yang saya punya. Kulit wajahnya cerah, dan tipikal paras Bugis-Palopo sekali. Kami kenalan di sebuah kafe di bilangan jalan (setengah) lingkar, bersama seorang rekannya yang saya lupa namanya. Di tempat itu saya bersama kakak bersama suami dan anak pertamanya, dan si bungsu adikku.

Malam itu, Sofyan mengenakan gamis dan bersorban putih, memakai sandal jepit swallow dan parfum beraroma khas wewangian non alkohol. Dari ujung jalan, saya memang sudah melihat gerombolan mereka yang jumlahnya kira-kira ada enam orang. Tak tahu mengapa, dari sekian kerumunan meja yang ada di kafe itu, kami menjadi salahsatu dari tiga meja yang menjadi targetnya malam itu. Setelah berbalas salam, sembari mengacungkan tangan untuk bersalaman (kecuali kepada kakak perempuanku), Sofyan memperkenalkan dirinya. Setelah tahu namanya, dia bercerita tentang keesaan Allah SWT, tentang kemahakuasaanNya, tentang keagunganNya dan tentang kewajiban penghambaan diri ini kepadaNya. Setelah mendengar ’pote-pote’ Sofyan yang tak lebih dari dua menit itu, dan tanpa balasan (feedback) satu kata-pun dari kami, dia akhirnya melanjutkan safarinya ke kafe seberang lagi. Dari ’pote-pote’-nya itu, satu keinsyafaan yang spontan saya sadari adalah bahwa Allah SWT memang selalu memberikan orang-orang yang terbaik untuk selalu ada di dekatku.

Saya kagum dengan gaya dakwah Sofyan itu. Bukan karena gaya berbicaranya yang seperti capres SBY yang dibuat-buat, kebarat-baratan dan penuh pesona itu (dan memang Sofyan tidak seperti itu), tetapi lebih kepada delivery-nya yang menekankan kepada menghadirkan transendensi secara spontan. Kasarnya mungkin, Sofyan mau mengatakan ”Woi sadarko! Ko bisa mati kapanpun karena kekuasaan Allah!”. Jadi jangan terlalu terlena dengan kehidupan. Sofyan juga tidak ma’jonjoro’ untuk harus lakukan ini, lakukan itu. Sehingga, kesannya tidaklah mengggurui. Saya senang cara-cara seperti itu. Juga dengan keberanian Sofyan yang mendatangi ’orang-orang yang butuh pengalaman baru’, pengalaman mengecap dan merasakan manisnya Islam… Subhanallah… Jadi sadar lagi! 😉