Aamiin

Allahumma, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sumpek dan gelisah, dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut dan bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari cengkeraman utang dan kekerasan orang.

29 Ramadhan di Masjid Agung Palopo

Saya menyelesaikan tadarus ramadhanku malam ini. Yang terakhir adalah juz Amma, yang hanya beberapa menit saja kubaca dengan lancar. Tentang Surah An Nas yang mengisahkan golongan syaithan dan manusia yang selalu membisikkan kejahatan di dada ini, sejenak saya merenung. Ternyata, janganlah semata-mata menyalahkan syaithan jika ada orang yang mencuri sandal anda di masjid. Bisa jadi mungkin si pencuri itu melakukannya karena kepepet diejek sama teman yang lain. Jadinya, marilah kita sadar diri sebagai manusia, yang sebenarnya kadang-kadang pula ulahnya mirip-mirip si tanduk merah, laknatullah itu!

Tak seperti yang lalu-lalu. Malam ke-29 ini Palopo agak adem. Dari beranda selatan Masjid Agung Luwu Palopo —yang insya Allah akan dibangun dengan megah ini menjelang MTQ Sul-Sel 2010— saya samar-samar menikmati kembang api yang bersahut-sahutan dari arah kawasan Lagota. Indah sekali Baca lebih lanjut

Sofyan Bukan SBY

berdoa[1]Kemarin malam sehabis isya, saya kenalan dengan Sofyan. Orangnya kira-kira berusia 25-30 tahun. Berjanggut lebih lebat dari yang saya punya. Kulit wajahnya cerah, dan tipikal paras Bugis-Palopo sekali. Kami kenalan di sebuah kafe di bilangan jalan (setengah) lingkar, bersama seorang rekannya yang saya lupa namanya. Di tempat itu saya bersama kakak bersama suami dan anak pertamanya, dan si bungsu adikku.

Malam itu, Sofyan mengenakan gamis dan bersorban putih, memakai sandal jepit swallow dan parfum beraroma khas wewangian non alkohol. Dari ujung jalan, saya memang sudah melihat gerombolan mereka yang jumlahnya kira-kira ada enam orang. Tak tahu mengapa, dari sekian kerumunan meja yang ada di kafe itu, kami menjadi salahsatu dari tiga meja yang menjadi targetnya malam itu. Setelah berbalas salam, sembari mengacungkan tangan untuk bersalaman (kecuali kepada kakak perempuanku), Sofyan memperkenalkan dirinya. Setelah tahu namanya, dia bercerita tentang keesaan Allah SWT, tentang kemahakuasaanNya, tentang keagunganNya dan tentang kewajiban penghambaan diri ini kepadaNya. Setelah mendengar ’pote-pote’ Sofyan yang tak lebih dari dua menit itu, dan tanpa balasan (feedback) satu kata-pun dari kami, dia akhirnya melanjutkan safarinya ke kafe seberang lagi. Dari ’pote-pote’-nya itu, satu keinsyafaan yang spontan saya sadari adalah bahwa Allah SWT memang selalu memberikan orang-orang yang terbaik untuk selalu ada di dekatku.

Saya kagum dengan gaya dakwah Sofyan itu. Bukan karena gaya berbicaranya yang seperti capres SBY yang dibuat-buat, kebarat-baratan dan penuh pesona itu (dan memang Sofyan tidak seperti itu), tetapi lebih kepada delivery-nya yang menekankan kepada menghadirkan transendensi secara spontan. Kasarnya mungkin, Sofyan mau mengatakan ”Woi sadarko! Ko bisa mati kapanpun karena kekuasaan Allah!”. Jadi jangan terlalu terlena dengan kehidupan. Sofyan juga tidak ma’jonjoro’ untuk harus lakukan ini, lakukan itu. Sehingga, kesannya tidaklah mengggurui. Saya senang cara-cara seperti itu. Juga dengan keberanian Sofyan yang mendatangi ’orang-orang yang butuh pengalaman baru’, pengalaman mengecap dan merasakan manisnya Islam… Subhanallah… Jadi sadar lagi! 😉

Doa Ketika Ketemu ‘Dosen Killer’

Do’a ini saya kutip dari buku “Doa-Doa Rahasia Nabi Saw” penerbit IIMaN. Judul do’anya sebenarnya adalah Doa Rahasia Ketika Ada Perlu Kepada Penguasa, namun kayaknya bisa juga dipakai kalau lagi ada lobi, negosiasi, atau bahkan ketemu dengan dosen ‘killer’. Ini doanya:

Wahai Zat Yang lebih pantas memegang kekuasaan ini daripada dia, wahai Zat Yang lebih dekat kepadanya daripada hatinya sendiri; wahai Zat yang mengaruniainya apa yang ada dalam kekuasaannya yang aku butuhkan, hanya kepada-Mu aku memohon, hanya kepada-Mu aku meminta pertolongan agar meluluskan keperluanku. Kendalikanlah hatinya untukku ketika aku berbicara dengannya, menangkanlah aku atasnya sehingga bisa mendapatkan semua yang aku perlukan darinya tanpa ada halangan, cacian, penolakan, dan ketidak-sopanan darinya.

Wahai Zat Yang Mahahidup dalam kekayaan yang tidak akan pernah habis-habisnya, matikanlah hatinya dari menolakku dan tak memenuhi keperluanku, dan penuhilah keperluanku seperti yang pernah dia terima. Kendalikanlah dia untukku dalam hal itu seperti pengendalian orang yang agung dan berkuasa dengan hak kekuasaan-Mu yang dengannya Engkau mengendalikan alam semesta.

Selamat Lebaran!

Ya Allah, jadikan kami orang yang imannya sempurna, dapat menunaikan fardhu, menjaga shalat, menunaikan zakat, menuntut kebaikan, mengharap ampunMu, memegang petunjukMu, terlepas dari segala penyelewengan, zuhud di dunia, cinta amal untuk akhirat, sabar terhadap cobaan dan syukur atas ni’matMu.

Semoga pada hari kiamat kami dalam satu barisan di bawah panji-panji Muhammad SAW, melalui telaga sejuk masuk dalam surga, terhindar api neraka dan duduk di tahta kehormatan, didampingi oleh bidadari, mengenakan baju kebesaran, menikmati santapan surga, minum susu dan madu dalam gelas dan kendi yang tak kering-kering, bersama orang-orang yang diberi nikmat pada golongan nabi, siddiqin, syuhada dan orang shalih dan baik sekali mereka menjadi teman-teman kami. Demikianlah kemurahan Allah dan kecukupan dari Allah yang maha mengetahui dan segala puji bagiNya.