Helicopter View

Kadang, perdebatan terjadi karena dua orang berbeda sudut pandang dalam melihat sesuatu. Kita kerapkali melihat suatu obyek dari perspektif yang horizontal, datar dan sempit. Padahal, untuk mendudukkan suatu fenomena menjadi lebih utuh, kita perlu sudut pandang yang lebih luas. Dalam menghasilkan citra yang lebih komprehensif, helicopter view diperlukan oleh setiap orang.

Helicopter view pada prinsipnya adalah melihat suatu masalah secara sistem. Metode ini layaknya kita naik helikopter, dan melihat ke bumi dari atas. Atau yang lagi hits, anda menerbangkan drone dan memelototi layar remote control untuk melihat konsentrasi bangunan, hamparan tanah atau genangan air. Dari citra yang diperoleh, akan selalu nampak bahwa suatu bagian kecil yang mengkonstruksi sebuah permasalahan, biasanya dipengaruhi oleh fenomena lain di sisi yang berbeda.

Olehnya itu, untuk menghindari debat kusir yang tanpa ujung, cobalah meninggikan sedikit ‘posisi’ Anda. Lihatlah masalah dari sudut pandang yang lebih tinggi, luas dan beragam. Dari situ, Anda akan memperoleh kesadaran, bahwa hidup tidak hanya tentang diri Anda sendiri.

Iklan

Anak Muda Palsu

Tahukah kamu, siapakah anak muda palsu itu? Ialah mereka yang hilang ingatan atas sumpahnya. Mengaku berbangsa satu, tapi masih melebarkan perbedaan atas mozaik keyakinan dan paham politik.

Tahukah kamu, siapakah anak muda palsu itu? Ialah mereka yang amnesia terhadap sejarah tanah airnya. Mengaku bertumpah darah yang satu tetapi memunggungi suku bangsa yang tak berparas serupa.

Tahukah kamu siapa anak muda palsu itu? Ialah mereka yang abai akan sumpahnya. Mengaku menjunjung bahasa persatuannya, tetapi masih kaku dengan frasa ‘persatuan Indonesia’.

Sudahlah, anak muda palsu!

Di 1928 dulu, bangsa ini digagas oleh berupa-rupa paham politik, beragam-ragam suku bangsa dan oleh tidak hanya satu agama.
Kita yang kini merayakan kemerdekaan dengan sekadar avatar merah putih di media sosal, tak lagi paham makna kibaran sang saka sebenar-benarnya. Kita lantas seenak-enak lidah dan mulut menghujat-hujat orang lain. Kita lantas sebebas-bebas pikiran dan prasangka menghakim-hakimi kelompok yang lain.

Indonesia adalah milik anak muda sejati. Yang masih yakin bangsa ini tegak berdiri dengan kemajemukannya. Yang percaya dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”-nya. Yang berusaha bersatu dalam keragamannya. Yang optimis atas kesejahteraannya secara bersama-sama. Yang bergerak dengan merangkul pundak teman-temannya. Yang menarik naik untuk berdiri sama tinggi. Yang berteriak sama keras menyemangati sahabat-sahabatnya. Yang merayakan kebahagian bersama dengan lompatan setinggi-tingginya. Yang berbagi duka dengan dekapan hangat yang menenangkan.

Rindulah kita pada anak muda sejati seperti itu.

Sahabat, ayo kita gulung lengan baju, kuatkan pundak, pukulkan kepalan tangan ke depan dada.

Kita memang hidup di era dan dunia yang semakin maya, tapi jiwa dan raga yang muda ini janganlah ikut menjadi palsu.
Anak muda sejati itu adalah yang bersumpah atas nama Indonesia. Yang sebangsa, setanah air dan sebahasa. Kepada Indonesia jua-lah alasan kembali melepas egoisme sempit kesukuan, agama, ras dan golongan.

Palopo, 28 Oktober 2016

MDI

Saya pertama kali mendengar sepak terjang Marwah Daud Ibrahim (MDI) dari ayah saya. Saat masih aktif sebagai PNS Departemen Transmigrasi & PPH, ayah saya mendapat kesempatan belajar dari MDI saat bertugas di Desa Binturu, Kecamatan Larompong, Kabupaten Luwu. Di desa tersebut, dengan Prof A Amiruddin, MDI mendirikan Yayasan Sinergi Karya. Pada saat yang sama, ayah saya menjadi Kepala Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) di tempat tersebut, me-manage penempatan transmigran yang dominan berasal dari Jawa Timur.

MDI banyak memberi warna bagi Desa Binturu. Daerah ini berada di perbukitan sebelah barat daya perbatasan Kabupaten Luwu dengan Kabupaten Sidrap. Sepengetahuan saya, Yayasan Sinergi Karya ini adalah lembaga pemberdayaan masyarakat yang fokus pada pengembangan teknologi tepat guna (TTG). Melalui yayasannya, MDI membangun jembatan, kompleks perkantoran, laboratorium, villa, helipad dan melengkapi dengan pembangkit listrik (yang sebagian dayanya disalurkan bagi warga desa). Di Desa Binturu, yayasan ini fokus dalam pengembangan TTG ulat sutera. Karena kiprah yayasan yang concern mengembangkan ulat sutera inilah, maka Desa Binturu juga dikenal sebagai Bukit Sutera.

MDI sering menghadirkan orang-orang penting bertandang di Yayasan Sinergi Karya. Melakukan seminar, penelitian, pelatihan atau sekadar studi banding. Yang saya ingat pada 1996, ia memboyong rombongan Pangdam VII Wirabuana dengan helikopter di pedalaman Larompong-Luwu itu. Singkatnya, yayasan ini memberi dampak positif bagi Binturu. Ia ditulis dalam jurnal-jurnal ilmiah mengenai model pemberdayaan masyarakat dan pengembangan teknologi persuteraan alam.

Waktu berlalu, saya tak pernah lagi mendengar kabar yayasan milik MDI ini. Kisah MDI hanya kita ikuti dari layar kaca, yang mengabarkan cerita dari ibukota. MDI tampak sibuk di gedung DPR/MPR. Pencapaian paling tingginya, MDI menjadi bakal calon wakil presiden dari KH Abdurrahman Wahid. Pasangan ini kemudian dinyatakan tak lolos persyaratan untuk ikut bertarung di Pilpres 2004 oleh KPU.

Banyak kekaguman saya terhadap MDI yang seorang akademisi-politisi itu. Saya membaca dengan baik buku karangannya yang terbit tahun 2003: Mengelola Hidup & Merencanakan Masa Depan (MHMMD). Buku ini menurut saya sangat applicable, memandu anak-anak muda merencanakan masa depannya. Di kemudian waktu, saya yang besar di Palopo baru tahu bahwa ada training mengenai MHMMD yang dibawa langsung oleh MDI.

Salah satu poin penting dalam MHMMD adalah peta hidup yang berisi target dan langkah pencapaian rencana. Saya menduga-duga, banyak target dan rencana MDI yang meleset dari peta hidupnya. Kegagalan menjadi cawapres misalnya, bisa mengindikasi adanya simpangan dari peta hidup MDI. Targetnya tidak tercapai, dan sejatinya harus ada penyesuaian pada peta hidupnya.

Sayangnya, dua pekan terakhir, kisah MDI hadir kembali dengan dibonceng oleh kisah buruk Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Ia konon menjadi pimpinan di yayasan padepokan taat pribadi, yayasan yang sama sekali berbeda visi-misinya dengan Yayasan Sinergi Karya yang dirintis MDI bersama Prof A Amiruddin di Bukit Sutera, Desa Binturu, Kecamatan Larompong, Kabupaten Luwu.

MDI keukeh dengan gerakannya bersama Taat Pribadi, meski harus menjadi bahan celaan di televisi dan media sosial. MDI tampaknya telah menyusun peta hidupnya yang baru, yang telah direvisinya dari peta hidup sebelumnya. Ia memiliki tujuan hidup yang baru yang kini dijalaninya dengan konsisten sebagaimana konsistennya ia dengan peta hidupnya yang dulu.

Bagi kita yang telanjur menaruh harapan besar atas masa depan MDI kembali ke jalan yang benar, cukuplah doakan agar kebaikan semoga selalu tercurah kepadanya. Mencemooh pun tak ada guna. Ini seperti menasihati orang yang lagi jatuh cinta, kepala batunya minta ampun. MDI kini tetap berjalan mengejar tujuan hidupnya yang sudah ia susun. Sebagai wanita Bugis,ia memang meyakini falsafah “sebelum berangkat tiba dulu, sebelum mulai selesai dulu”. Dan kini ia sudah dalam perjalanan…

Titi DJ, Bu Marwah! Hati-hati di jalan…

MEA, Kota dan Warga

Setahun ini, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menjadi topik bahasan di berbagai diskusi dan seminar. Kesimpulannya hampir seragam. Semua sepakat bahwa MEA adalah peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia.

Sejatinya, MEA adalah integrasi wilayah basis produksi dan pasar tunggal ASEAN. Namun demikian, sadarkah kita bahwa pada MEA, ada kompetisi di dalamnya. Bukan kompetisi Indonesia (sebagai negara) yang secara langsung berhadap-hadapan dengan negara ASEAN lainnya, tetapi persaingan sebenar-benarnya terjadi antar kota-kota di wilayah ASEAN.

Mengapa kota-kota mengalami persaingan? Hal ini disebabkan karena secara de facto, basis produksi tiap-tiap negara ada di daerah, baik itu kota maupun kabupaten. GDP suatu negara tidak mungkin tercatat jika aktifitas ekonomi di kota dan daerah tidak berjalan. Itulah mengapa, kota/kabupaten merupakan tulang punggung ekonomi nasional.

Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah, maka dibutuhkan investasi. Beberapa daerah memiliki kapasitas fiskal yang rendah untuk men-drive pertumbuhan ekonominya. Untuk alasan inilah, maka investasi sektor swasta diharap masuk ke daerah. Nah, untuk menggaet investor, maka dibutuhkan kreatifitas dan inovasi. Kota-kota di Indonesia harus berpikir ‘canggih’ untuk menyusun strategi menarik investasi. Canggih tak selamanya rumit. Dalam kajian city marketing, untuk memasarkan sebuah kota agar menarik di mata calon investor, cukup penuhi kebutuhan calon investor anda!

Di dalam MEA, ada ribuan kota yang menjadi pilihan para investor untuk menanamkan modalnya. Sudah siapkah Palopo untuk memenangi persaingan menarik investor dari negara-negara se-kawasan ini? Siap atau tidak siap, MEA sudah diberlakukan. Oleh karena itu, kekurangan yang ada harus segera dibenahi. Salah satu yang urgen adalah sumber daya manusia.

MEA is about people

Kota dengan SDM terampil lebih mampu mendorong ekonomi secara lebih dinamis. Dengan SDM yang terampil, maka akan lebih banyak inovasi yang tercipta. Dengan adanya inovasi, maka akan tercipta efisiensi dan efektifitas dalam produksi barang dan jasa. Muaranya, daya saing akan lebih baik. Kota yang banyak menghasilkan produk dan jasa yang inovatif, akan lebih menarik di mata investor sebagai basis produksi (bukan sekadar pasar).

Penguatan pada penyiapan SDM terampil ini perlu untuk lebih diperluas. Sejauh ini, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi & UMKM Kota Palopo melaksanakan tugas ini sudah lebih baik. Sejalan dengan itu, Dinas Pendidikan juga sudah mendorong kegiatan-kegiatan pendidikan non formal dan luar sekolah.

Namun, yang penting pula untuk diinsyafi dalam penyiapan SDM yang inovatif ini adalah perhatian pada kegiatan research and development (R&D) atau litbang. SDM Kota Palopo harus mulai diakrabkan dengan kegiatan-kegiatan R&D. Kalangan kampus dan Litbang Bappeda harus dilibatkan untuk menghasilkan riset dan produk/jasa yang inovatif. Kita tentu memimpikan lahirnya kelompok-kelompok peneliti-peneliti andalan Kota Palopo. Sumber daya durian, sagu, rumput laut, kakao, langsat dan rambutan perlu ‘disulap’ agar memiliki nilai tambah. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh sumber daya manusia terampil melalui riset-risetnya yang berkualitas.

Sumber daya manusia aparatur juga perlu mendapat penguatan dalam memasuki MEA ini. Kualitas layanan publik pemerintah diukur salah satunya pada profesionalitas sumber daya aparaturnya. Bukan soal harus menguasai bahasa asing, namun lebih kepada integritas, mental melayani dan pemahaman terhadap SOP.

MEA memang adalah kompetisi antar manusia dan kota. Peluang yang besar ini harus diraih dengan upaya yang sungguh-sungguh. Saatnya-lah membuka cakrawala berpikir secara global. Bukankah MEA adalah turunan dari globalisasi? Kata orang bijak, milikilah wawasan global dan bertindaklah secara lokal. Kalau tidak bekerja maksimal, pasti kota kita akan menyesal. Selamat memasuki era MEA!

Reso!

Penamaan Kabinet Kerja yang dibentuk oleh pemerintahan Jokowi-JK mengingatkan kita kepada Presiden Soekarno. Kala itu, pada rentang tahun 1959 hingga 1964, Soekarno menamakan kabinet pemerintahannya dengan nama Kabinet Kerja I sampai dengan Kabinet Kerja IV.

Sejalan dengan semangat Kabinet Kerja besutan pemerintahan Jokowi-JK, tahun ini, dalam rangka memperingati kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70, pemerintah juga mengangkat tema “Ayo Kerja”. Tema ini menandai era baru cara pemerintah kita berbahasa. Era di mana tema tidak harus diawali dengan kata “Dengan semangat…”, dan era di mana sebuah tema tidak harus dirangkai dalam sebuah kalimat yang normatif nan panjang.

Kalimat Ayo Kerja adalah kalimat yang sederhana, lugas, namun substantif. Tampaknya, tema Ayo Kerja ini ingin membangun kesadaran kolektif bangsa, mendorong masyarakat untuk bergerak lebih cepat, dan memberikan semangat juang dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Sebagai masyarakat Bugis-Makassar, kita mengenal Ayo Kerja ini sebagai Reso! Nene Mallomo di tanah Bugis Sidenreng, dahulu kala mewariskan wejangan “reso temmangngingngi malomoi naletei pammase dewata”. Oleh Budayawan Rahman Arge, spirit ini disebutnya sebagai “etos reso”, sebuah budaya kerja manusia Bugis. Substansinya, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, yang mana hal itu memungkinkan turunnya berkah dari Tuhan.

Etos reso sejatinya menjadi spirit kita semua. Sebagai “wanua mappatuwo”, Tana Luwu ini memang dilimpahi anugerah sumber daya alam yang luar biasa kaya. Namun demikian, frase ini selalu diikuti dengan “naewai alena”. Sadarkah anda, bahwa pada prinsipnya, “naewai alena” itu adalah sebuah etos reso? Ia adalah sebuah semangat untuk survive, daya hidup yang amat kuat, dan prinsip kemandirian yang amat tegas dari seorang wija dan bija Luwu.

Demikian pula di Ulang Tahun Kota Palopo yang ke-13 tahun ini. Kota ini dilahirkan dengan harapan, dan dibesarkan dengan kerja-kerja nyata (reso). Tidak hanya oleh satu orang wali kota, melainkan dengan ratusan ribu penduduknya. Pasang surut perjalanan sejarah Palopo dilalui dengan etos reso, yang di dalamnya ada keyakinan bahwa inilah ‘wanua mappatuwo’. Palopo adalah harapan atas kehidupan yang lebih baik.

Bulan ini, Palopo genap berusia 13 tahun. Angka BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi di wilayah ini sudah di atas 8 persen.  Pembangunan konstruksi gedung semakin menggeliat. Hotel dan restoran semakin ramai. Dan kelas menengah baru semakin tumbuh seiring semakin banyaknya usahawan-usahawan baru yang muncul. Dalam kajian ekonomi, inilah yang disebut kewirausahaan, yang oleh Schumpeter menjadi salah satu kunci untuk menghadirkan kesejahteraan suatu wilayah.

Kita sejatinya mengawinkan prinsip Schumpeter dengan wejangan Nene Mallomo. Etos reso para wirausahawan baru Kota Palopo, sedapat mungkin berorientasi pada pencarian rahmat Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa. Harapannya, etos reso manusia Palopo tidak lepas dari ikatan nilai-nilai agama. Bisnis tidak harus merusak moral generasi penerus, menciptakan manusia-manusia yang tamak dan melukai ekosistem atau lingkungan hidup. Pada bagian ini, saya ingin mengingatkan atas doktrin tentang dimensi religi, yang sedari dulu hadir dalam perencanaan pembangunan kota otonom ini.

Akhirnya, selamat merayakan HUT Kota Palopo yang ke-13, dan selamat menyongsong HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70. Gerakan “Ayo Kerja” harus didukung oleh segenap masyarakat Indonesia. Sebagai implementasinya, mari kita tanamkan etos “Reso” ini kepada seluruh manusia Palopo. Buktikanlah dengan hasil kerja terbaik kita. Buktikanlah melalui karya yang bermanfaat bagi alam dan sesama…