Azimat

Di akhir tahun 2004 ketika saya berkunjung ke Museum Loka Jala Crana Surabaya, saya melihat ada banyak azimat yang dipamerkan untuk pengunjung di museum tersebut. Saking banyaknya, benda-benda ‘bertuah’ itu dikumpul dalam sebuah lemari kaca khusus.

Azimat-azimat ini ada yang berbentuk buntelan kecil yang dipakai dengan cara dikalungkan; ada yang berbentuk sehelai kain yang bertuliskan aksara arab; ada yang berbentuk simpul-simpul dari bahan benang; dan ada pula yang berbentuk semacam rompi ‘anti peluru’ yang terbuat dari kulit pepohonan. Azimat ini didatangkan dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagian besar merupakan perlengkapan perang armada laut beberapa kerajaan-kerajaan yang ada di nusantara. Sebagai museum milik TNI-AL, kumpulan azimat para ‘laksamana’ tersebut tentu sangat relevan menggambarkan dua hal. Yang pertama bahwa sejarah dan budaya kebaharian kita ternyata amat sangat kaya dan beragam; dan yang kedua adalah bahwa manusia Indonesia, memang sejak dahulu kala adalah manusia yang percaya hal-hal mistik.

Jika kesimpulan kedua itu benar, maka hal itu mengonfirmasi apa yang dikatakan oleh Mochtar Lubis pada tahun 1977, bahwa salahsatu ciri manusia Indonesia adalah masyarakat yang masih percaya takhayul. Tak usah jauh-jauh, di Palopo pun juga kita mengenal hal-hal semacam itu. Masyarakat kita juga kerap memiliki azimat dengan fungsi-fungsi yang beragam. Ada yang untuk menangkal ‘serangan’ gaib dari lawan-lawan politik, ada yang bisa menghalau musibah, ada yang berfungsi mengamankan harta, tahta, wanita dan lain-lain sebagainya. Intinya, azimat itu menurut pemiliknya adalah penjaga. Penjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Penjaga diri, jiwa dan tubuh. Anda boleh mendebat itu. Namun demikian, secara pribadi, sebaik-baik penjaga sejatinya adalah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dalam blog SYL Way, Gubernur Syarul Yasin Limpo menulis bahwa ‘penjaga’ seorang lelaki adalah perempuannya. Istri adalah ‘azimat’ seorang suami. Ia menjaga agar perut suaminya tidak lapar, oleh karena itu sebagian besar istri memiliki hobi memasak. Istri menjaga agar suami betah di rumah, oleh karena itu perempuan selalu apik dalam menata rumah. Dan, istri selalu menjaga agar suaminya selalu ada di sampingnya, oleh karenanya ia selalu pandai bermanja-manja kepadanya.

Hal ini memang benar adanya. Cobalah tengok di ruang-ruang perawatan pasien di rumah sakit. Penjaga pasien pria, kalau statusnya sudah berkeluarga, selalu saja penjaganya adalah sang istri. Bukan ibu kandung, ataupun anak perempuannya. Ibu kandung (perempuan yang juga menjaga kita sejak dari lahir) memiliki keterbatasan waktu untuk hidup bersama anak lelakinya. Demikian pula dengan anak kandung perempuan kita. Ketika ia dewasa, bekerja dan berkeluarga, ia akan sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Jadilah sang istri saja yang mampu bertahan di samping anda hingga akhir hayat. Bukankah juga dulunya anda dan istri anda sudah berikrar untuk sehidup semati?

Jadi, mari rawat azimat sang ‘penjaga’ itu, saudara! Pesan sederhananya: Sayangilah istri anda! Baik-baiklah dengannya. Adakalanya memang perempuan kerapkali bawel dan menuntut materi. Namun, kita sadar, woman loves money. Untuk memahami prinsip ini, ia ibarat maintenance circle theory yang diajarkan dalam buku teks manajemen produksi. Bagi yang jomblo atau belum punya istri, segeralah miliki ‘azimat’ ini… Jangan lupa pula, tetap sayangi ibu kandung dan anak perempuan anda. Selamat Hari Kartini!

Proyek Kamar Tidur

Apa warna cat kamar anda? Kalau saya, warnanya putih. Dari dulu, sejak rumah orangtuaku ini dibangun, dinding kamarku memang warnanya putih. Kamar ortu juga putih. Adik pun demikian, putih. Dulu, waktu saya SD, kamarku sempat berwarna biru. Namun, kamar itu sekarang dijadikan gudang. Nah, sekarang saya tidur dikamarku yang sekarang ini. Karena bosan dengan putih, saya mau mengubahnya.

Sebenarnya saya suka dengan warna-warna netral, termasuk putih. Bajuku banyak yang berwarna putih. Saya juga suka dengan warna hitam. Dengan baju hitam, katanya saya tampak lebih putih. Maklum-lah, kulit orang Indonesia asli memang gak putih-putih amat kan? Jadi, untuk anda yang sehitam saya, pakailah teori pemutih ini! Insya Allah, whitening ini tanpa efek samping…

Sejak dua tahun lalu, cat eksterior rumah ortu (yang kutinggali sekarang ini) bukan lagi putih. Sejak dibangun awal 1990-an, memang warnanya putih. Sekarang, warnanya kuning. Waktu pengecatan dilakukan, almarhumah nenek saya sempat bertanya-tanya mengapa mengubah warna rumah menjadi kuning? Katanya, dulu rumah yang berwarna kuning itu Baca lebih lanjut

Tatapan Penuh Cinta

Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia sedang tidur?

Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.

Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.

Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah, rela melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

Sekarang, beralihlah. Lihatlah Baca lebih lanjut

Catatan-catatan Nenek

Akhirnya, saya tidak heran sekarang. Pertanyaan tentang: “Mengapa saya senang nge-blog?”, akhirnya terjawab oleh catatan-catatan almarhumah nenek (ibunya ayah saya), yang meninggal tahun lalu. Dari lemari peninggalan nenek, sebuah buku agenda dan tiga buah buku catatan kecil (yang dipermak sendiri oleh mama’— panggilan untuk nenekku itu), memberikan simpulan, yang tidak bisa dinegasikan bahwa: Menulis sudah menjadi budaya turun temurun di garis keturunan keluargaku!. So, nenek-ku ternyata bukan seorang pelaut (seperti lagu kebanggan kita itu), melainkan seorang yang yang gemar menulis. Seandainya pada zamannya sudah ada wordpress, beliau pasti jadi blogger juga! 😀

Konon, mama’ Midah (panggilan dari beberapa anak angkatnya), dulunya cuma ikut Sekolah Rakyat (SR). Walaupun sudah SR, tapi kemampuan menulis latinnya masih kurang. Makanya catatannya hanya menggunakan huruf lontara bugis. Tapi kalau membaca, khususnya koran, sumpah, saya berani katakan: beliau bisa diadu dengan nenek-nenek yang lain! 😀 Beliau kelahiran Watampone, pada tahun yang simpangsiur (ada yang tercatat 1920, 1925, 1928 dan ada 1930). Bapaknya konon bernama La Hajji Daeng Mallanre, seorang muslim taat yang ikut di perjuangan PD II. Katanya, dulunya buyut saya itu dimakamkan di TMP Jalan Samiun (sekarang sudah jadi RS Tentara Palopo), namun ketika TMP Palopo dipindahkan ke Salobulo, jejak makamnya hilang. Ibunya nenek saya, namanya Doho. Di nisan kuburannya di Kompleks LokkoE ditulis Ma’ Na Midah (Ibunya Hamidah — nama asli nenek saya). Ceritanya cuma sedikit yang saya tahu tentang buyut perempuanku itu.

Mama’ Midah (nenek saya, yang saya sebut penulis itu), nikah dengan kakek saya, atau bapaknya ayah saya —pusing mode on— yang namanya Abd. Hafid Dg. Paewa. Kurang tahu, dari pernikahannya itu, tante dan om saya ada berapa ya?. Soalnya sebagian besar mereka meninggal usia anak-anak semua. Yang sempat dewasa cuma anak pertama (tante saya), dan ayah saya saja.

Kembali ke catatan mama’ Midah, saya terkaget-kaget melihatnya. Soalnya catatannya sangat detil dengan tanggal dan apa-apa saja yang perlu untuk menjadi perhatian. Lihat saja gambar catatan nenek saya itu di bawah ini, seandainya saya ndak buka-buka catatannya, saya pasti akan lupa selamanya bahwa saya mulai kerja tanggal 30 Oktober 2006! Tulisan aslinya: mappammulai majjama sulehang, 30-8-2006 araba’. Atau secara sederhana diartikan: Zulham mulai bekerja pada hari Rabu, 30 Agustus 2006.

18022009425

18022009423

Baca lebih lanjut

Jadi Om Lagi

Allahu akbar Allahu akbar 2x

Asyhadu Allah ilaaha illallah 2x

Asyhadu anna Muhammadarasulullah 2x

Haiyya ala shalah 2x

Haiyya alal falah 2x

Allahu akbar 2x

Laa ilaaha illallah

Sabtu, 26 April 2008, pukul 09.00, saya jadi paman lagi. Ponakan dari kakak keempat, Rispi A. Hafid dan istrinya Nur Amalia Sahrir, lahir. Anaknya cowok. Ini ponakan cowok pertamaku. Namanya bagusnya siapa yah…? Belum ada nama sampai hari ini, jadi untuk sementara, panggil saja Aco.