Djie Adjeng, 1895-1966

Orang-orang keturunan Tiongkok, memiliki ruang tersendiri dalam perjalanan sejarah Kota Palopo. Salahsatu tokoh penting yang sempat ditulis oleh sejarah adalah Djie Adjeng.

Lahir di Kai Ping tahun 1895, Djie Adjeng mulai menetap di nusantara pada 1913 ketika Tiongkok diliputi kondisi yang tidak menentu. Ia tiba di Palopo pada tahun 1917.

Seiring dengan politik etis Pemerintah Hindia Belanda yang mulai menata wilayah-wilayah jajahannya, Palopo juga mulai mendapat sentuhan pembangunan. Melihat peluang tersebut, Djie Adjeng yang memiliki latar belakang keterampilan teknik konstruksi bangunan, membangun sebuah pabrik batu bata pertama di Palopo. Pabrik bata milik Djie berada di Sabbamparu, konon lokasinya di sekitar depan bekas Bioskop Muda – Jalan Dr. Ratulangi.

Pada tahun 1920, Djie Adjeng terlibat aktif dalam pembangunan Rumah Sakit Palopo (kini ditempati sebagai Kantor Wali Kota Palopo sementara). Di tahun 1925, ia membangun beberapa rumah milik saudagar Bugis terkenal saat itu, Daeng Tallesang.

Sebagai Aannemer pada zaman kolonial di Tana Luwu, karya-karya Djie terentang mulai dari Buriko hingga Malili. Dikisahkan oleh Djie Wang Gip (Onggip) anak kandung Djie Adjeng, sejak 1930, ayahnya membangun jembatan tua Larompong dan Salutubu. Selain itu, karya konstruksinya yang lain adalah bangunan pintu air Batusitanduk, Pompalangi Kaluku Ketulungan, dan Rantedamai. Bersamaan dengan mulainya kolonisasi/transmigrasi Bonebone/Ketulungan, pada 1939 Djie Adjeng juga membangun Bendungan Karangan di Bonebone.

Pada era pendudukan Jepang, Djie mengerjakan disain pembangunan pabrik penggergajian kayu (sawmil) di daerah Tappong. Pabrik ini milik perusahan Jepang, Nisannoring yang kemudian hari dinasionalisasi menjadi Perusahaan Kebangunan Indonesia (Kebin). Perusahaan ini dipimpin oleh Tuan Zumitshu dan Andi Hamid Opu Daeng Paonang (Opu Onang-salahseorang bangsawan Luwu). Pada era Jepang pula, tahun 1944 Djie mendapat instruksi untuk mulai menata Permandian Air Panas Makula di Tana Toraja.

Pascakemerdekaan, proses peralihan kekuasaan diwarnai ketidakpastian keamanan di wilayah Tana Luwu. Tahun 1954, Djie memperbaiki Jembatan Miring di daerah perbatasan Karetan. Pada 1956, ia juga dipercaya untuk memperbaharui jaringan air ledeng yang sudah dirintis oleh Belanda sejak 1939.

Warisan Djie Adjeng untuk Palopo tidak sekadar bangunan dan infrastruktur fisik semata. Kisah hidupnya juga meninggalkan cerita perjuangan. Ia turut andil dalam membantu para tahanan perang di Rutan Masamba pasca peristiwa Masamba Affair 1949. Semangat nasionalismenya tampaknya lahir sejak ia menikahi wanita asal Duri (Enrekang) dan menetap lama di Pararra (Sabbang).

Djie Adjeng wafat pada 29 Mei 1966. Ia dimakamkan di Pekuburan Tionghoa Palopo. Nisannya tetap berdiri kokoh di atas bukit menatap hamparan Kota Palopo—kota dimana karya-karyanya masih eksis menjadi artefak kota.

#imlek #tiongkok #palopo #sejarahkota

Palopo, 16 Februari 2018

Iklan

Helicopter View

Kadang, perdebatan terjadi karena dua orang berbeda sudut pandang dalam melihat sesuatu. Kita kerapkali melihat suatu obyek dari perspektif yang horizontal, datar dan sempit. Padahal, untuk mendudukkan suatu fenomena menjadi lebih utuh, kita perlu sudut pandang yang lebih luas. Dalam menghasilkan citra yang lebih komprehensif, helicopter view diperlukan oleh setiap orang.

Helicopter view pada prinsipnya adalah melihat suatu masalah secara sistem. Metode ini layaknya kita naik helikopter, dan melihat ke bumi dari atas. Atau yang lagi hits, anda menerbangkan drone dan memelototi layar remote control untuk melihat konsentrasi bangunan, hamparan tanah atau genangan air. Dari citra yang diperoleh, akan selalu nampak bahwa suatu bagian kecil yang mengkonstruksi sebuah permasalahan, biasanya dipengaruhi oleh fenomena lain di sisi yang berbeda.

Olehnya itu, untuk menghindari debat kusir yang tanpa ujung, cobalah meninggikan sedikit ‘posisi’ Anda. Lihatlah masalah dari sudut pandang yang lebih tinggi, luas dan beragam. Dari situ, Anda akan memperoleh kesadaran, bahwa hidup tidak hanya tentang diri Anda sendiri.

Melihat Andi Djemma di Taman Swimbath

Kita akhirnya bisa menyaksikan wajah Andi Djemma dalam rupa 3 dimensinya. Pagi tadi, bersamaan dengan peresmian Taman Swimbath Latuppa, patung Datu Luwu Ke-35 ini akhirnya dipajang di sana. Patungnya terbuat dari beton, berlapis cat warna perunggu karya Jendrik Pasassan, seniman asal Makassar. Ia tampak mengenakan jas tutup dengan hiasan jam saku di sebelah kirinya.

Selain di Taman Swimbath Latuppa, patung Andi Djemma juga hadir di Anjungan Pantai Losari. Sayangnya, pahlawan nasional ini berada paling ujung, di deretan para “pahlawan” Sulsel tersebut. Untuk melihat dengan lebih detail, Anda harus berjalan lebih jauh ke arah timur.

Demikianlah mungkin, mengapa posisi patungnya di taman Swimbath Latuppa berada paling depan. Ia memunggungi Ir. Soekarno dan Opu Daeng Risadju yang juga hadir di sana. Ia ingin lebih ditonjolkan di taman senilai 4,3 Miliar ini.

Andi Djemma adalah pahlawan sebenar-benarnya. Dari sejarah kita membaca kiprahnya, meninggalkan istana dan masuk hutan bersama pasukan, gerilya menghadapi penjajah. Di pergaulan raja-raja Nusantara, ia bahkan menggagas komitmen setia berdiri di belakang Proklamasi 1945. Takhtanya ia serahkan kepada republik. Dan, tak banyak yang tahu, bahwa akhir hayat Andi Djemma berakhir dalam kesederhanaan. Ia hanya menumpang di rumah mertuanya di Bongaya, Makassar.

Tujuh puluh satu tahun sudah, kita hidup dalam suasana kemerdekaan. Zwembad yang dibangun oleh Belanda, kini telah berganti nama menjadi Kolam Renang Swimbath dalam arti yang sama. Andi Djemma telah dimakamkan di TMP Panaikang dan kisahnya ditulis dalam berbagai buku. Kita yang hidup saat ini hanya bisa mengingat-ingat namanya dari patung, jalan dan bandara yang hanya ada di wilayah Tana Luwu. Sayangnya, tak satupun dari kita, dan lebih-lebih pemimpin kita, setia dengan jalan hidup yang dipilih Andi Djemma. Hidup sederhana, dengan prinsip keadilan, kejujuran, kebenaran dan ketegasan.

Saudara, dari patungnya di Taman Swimbath ini, Andi Djemma mengirim pesan kepada kita. Andi Djemma memang sudah mati dalam kemerdekaannya, tapi masih berjuang mengajarkan empat prinsip tadi: adele, lempu, tongeng dan getteng.

Duhai warga Palopo, wahai para pemimpin, banyak-banyaklah belajar sejarah!

 

Palopo, 10 September 2016

Fitnah Wanita

Siang ini, khatib KH Zainuddin Samide memberi banyak nasihat di Masjid Agung Luwu Palopo (MALP). Mengenakan jas hitam yang 47 kali ia betulkan letaknya, pak kiyai mengungkapkan bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah hilangnya rasa malu para wanita. Tema khutbahnya memang seputar itu, kondisi umat akhir zaman. Ia menyampaikannya selama kurang lebih 18 menit.

Kemarin, Plt. Sekda Palopo juga menyampaikan keresahannya tentang gadis-gadis remaja kita. Saat membuka pelatihan fasilitator kesehatan reproduksi remaja di salah satu hotel di bilangan Pongsimpin sana, ia mengangkat fenomena wanita-wanita muda yang sering mangkal di Lapangan Pancasila. Tadi malam, saya betul-betul menyaksikan itu. Selepas mengantar istri dari dokter. Di tepi lapangan, mereka berpakaian minim, penuh pupur, dan bersolek gincu. Saat itu, saya ingat kata-kata Plt Sekda kemarin. Katanya, hanya ‘lelaki bodoh’ yang tidak terpikat untuk memerkosanya.

Saudaraku para lelaki, dunia memang makin menua. Zaman makin renta. Wanita kini jadi fitnah. Namun, sekejam-kejamnya fitnah itu, jangan sampai Anda hilang rasa terhadapnya. Karena, lebih beradab mencintai wanita, daripada menyayangi sesama pria.

Selamat menjemput akhir pekan, para lelaki akhir zaman!

Palopo 3.0

Aplikasi Explore Palopo

Aplikasi Explore Palopo

Sepanjang pekan ini, kita disuguhi berita-berita penuh optimisme tentang Palopo. Mulai dari launching IMB online oleh Distarcip, target pelayanan perizinan online di November mendatang, dan terakhir peresmian operasionalisasi Sistem SIPARAPE oleh Dinas Pendidikan. Rentetan pencapaian Pemkot ini seakan meneguhkan hadirnya wajah baru kota ini, yaitu: Palopo 3.0

Sistem Informasi Pemantauan Pembelajaran dan Prestasi Belajar (SIPARAPE), misalnya. Inovasi Dinas Pendidikan ini memberikan fitur yang mampu mendeteksi kehadiran dan bahkan nilai ujian harian pelajar-pelajar Palopo. Orang tua siswa tinggal memantau prestasi dan tugas rumah anaknya melalui smartphone.

Setahun sebelum SIPARAPE, Dinas Pendidikan juga telah menyelenggarakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online. Sistem ini menghilangkan potensi kongkalikong dalam penerimaan siswa baru yang selama ini menjadi momok bagi sekolah-sekolah favorit.

Di penataan ruang dan pemukiman hadir IMB online. Semangat IMB online adalah untuk mengurangi frekuensi tatap muka antara aparat perizinan dengan warga yang ingin membangun (yang biasanya rawan terjadi praktik perjokian).

Di bidang perencanaan pembangunan, Palopo juga kini memiliki e-musrenbang. Aplikasi ini memungkinkan partisipasi aktif warga Palopo dalam mengontrol usulan-usulan pembangunan. Dan yang sementara disusun, sistem perizinan secara elektronik oleh BPMPPT yang ditarget selesai November 2016.

Palopo dengan Generasi Baru

Palopo 3.0 adalah generasi baru dari kota ini yang ditandai dengan Baca lebih lanjut