Mengapa Harus Kartini?

Sudahlah… Dia memang wanita Jawa, tapi dia Perempuan Indonesia juga. Ia hanya simbol perjuangan perempuan Indonesia. Dan perjuangan itu tidak hanya melalui moncong senjata, bukan pula sekadar gerakan politik. Saat Anda masih mempertanyakan mengapa harus Kartini, pada saat yang sama Anda telah mereduksi makna nasionalisme.

Negara ini dibangun dengan konsensus. Dan, Kartini sudah menjadi konsensus para pendahulu. Dan tahukah anda para pendahulu-pendahulu kita itu? Mereka yang merasakan getirnya penjajahan. Yang bertaruh nyawa, bercucur keringat, berkorban harta dan memutar otak. Merekalah generasi awal-awal Pancasila. Yang keputusannya selalu berhikmat pada Bhinneka Tunggal Ika.

Kartini hanya simbol. Sekali lagi, hanya simbol. Ia merepresentasikan ribuan perempuan-wanita Indonesia lain di belahan nusantara ini, yang juga berjuang bagi negara dan bangsa ini.

So, usah berdebat lagi… Indonesia punya banyak suku, tapi kita sepakat bahasanya adalah Bahasa Indonesia— yang merupakan turunan Melayu—sebagai simbol pemersatu. Negeri ini memang penuh dengan wanita-perempuan pejuang, tapi kita sepakat menjadikan Kartini—yang turunan Jawa— sebagai simbol perjuangannya…

Selamat Hari Kartini…

Palopo, 21 April 2016

Iklan

Kerah Putih

Dan banyaklah kini foto berupa-rupa gaya, bertebaran di jagad maya. Yang lagi trendi, dengan seragam putih, mengenakan emblem Korpri. Kira-kira sejak Januari, uniform putih menjadi instruksi Menteri Dalam Negeri. Tak sedikit yang bilang, ini ala-ala Jokowi, sang Presiden RI.

Warna putih kerapkali dipakai sebagai penanda. Ia penuh akan makna-makna.

Sang saka republik ini, menyandingkan merah dan putih. Merah bermakna berani, putih berarti suci.
Para politisi, menjadikan putih sebagai simbol netralitas diri. Berusaha lepas dari asosiasi partai, yang identik dengan warna-warni.
Di Sulawesi, ia menjadi penanda duka atas adanya kerabat yang mati. Saat di medan perang, bendera putih juga menjadi pengakuan atas kekalahan diri.

Namun, uniform putih ASN adalah simbol aparatur bersih. Ia adalah bunga-bunga dari mental yang berevolusi. Harapan atas terwujudnya pamong yang tak korupsi. Yang suka melayani, tanpa harus menarik pungli.

Seragam putih juga adalah simbol para profesionalis. Ia serupa pekerja bisnis, tapi doktrin birokratis. ASN kerah putih memang tentang upaya keras merubah birokrasi menjadi lebih idealis. Bagi yang masih sulit bekerja dengan Microsoft Office, kita berharap sudah mulai habis. Aparat berkerah putih adalah abdi negeri yang melayani dengan senyum manis. Pekerja profesional yang dibentuk dengan mental Pancasilais.

Pekerja kerah putih (white collar) adalah pekerja profesional. Ia paham aturan yang terdiri atas pasal-pasal. Responsif terhadap perubahan dan kondisi sosial. Dan senantiasa mengembangkan diri dengan sejumlah pendidikan dan latihan fungsional. Pada akhirnya, kita berharap aparatur pekerja kerah putih akan semakin andal. Dan biasanya, harga atas profesionalisme yang andal tentu akan semakin mahal. (*)

Sejarah Kecil & Kebudayaan Sagu Tana Luwu

image

Kebudayaan sagu memang telah merentang panjang sejarahnya. Di Tana Luwu sagu disebut tawaro atau tabaro. Di Jawa, orang menyebut nasi sebagai ‘sego’ yang awalnya adalah sagu. Demikian pula orang Sunda jika menyebut nasi sebagai ‘sangu’, yang juga berawal dari sagu. Bahkan, di relief Candi Borobudur pun, konon pohon sagu pun ikut digambarkan.

Sejak dahulu, Tana Luwu memiliki lahan pertanian yang luas. Namun demikian, perhatian terhadap lapangan pekerjaan di sektor pertanian tidak begitu diseriusi, khususnya dalam menanam padi dan jagung. Hal ini diakibatkan karena Tana Luwu ditumbuhi oleh banyaknya tanaman sagu. Masyarakat umum di Tana Luwu menjadikan sagu sebagai makanan pokok. Padi saat itu menjadi makanan ekslusif bagi keluarga-keluarga pembesar.

Sagu juga menjadi salah satu alasan perpindahan pusat pemerintahan Kerajaan Luwu ke Pattimang, Malangke. Bulbeck et al (2006) menuliskan hipotesisnya bahwa salah satu faktor yang mendorong pemindahan ibukota kerajaan Luwu ke Pattimang adalah karena potensi agrikultur bagi produk sagu di daerah tersebut. Menurutnya, daerah Pattimang akan menjadi daerah kosmopolit dengan populasi penduduk yang besar. Diperkirakan oleh Sumantri et al (2006), pada abad XVI penduduk Pattimang mencapai 14.500 jiwa. Dengan demikian maka kebutuhan atau permintaan sagu juga besar. Oleh karena itu, menurut Bulbeck, daerah Pattimang tersebut dinilai mampu menyuplai kebutuhan sagu warga ibukota Kerajaan Luwu tersebut. 

Dari fakta tersebut, selain menegaskan bahwa saat itu makanan pokok masyarakat Luwu adalah sagu, hal lain yang dapat menjadi perhatian adalah bahwa komoditas sagu merupakan salah satu kekayaan sumber daya alam Tana Luwu selain rotan, madu, lilin, damar dan kayu yang merupakan sumber penghasilan yang (sepertinya) tidak pernah habis (Sarjiyanto, 2000).

Sagu menjadi komoditas andalan Tana Luwu zaman dahulu kala. Data Gubernur Celebes pada tahun 1888, pelabuhan Palopo mencatatkan ekspor sagu kurang lebih sebanyak 15.000 pikul.

Dalam laporan Braam Morris (1888), tujuan ekspor komoditas sagu Luwu salah satunya adalah ke Singapura. Perdagangan sagu ini dilakukan oleh orang-orang Arab, Cina, Makassar dan Bugis. Kapal-kapal mereka berasal dari Singapura, Pontianak, Wajo dan Makassar. Mulai tahun 1886, produksi sagu dan komoditas lainnya mengalami peningkatan. Jumlah kapal yang berlabuh di Palopo pun meningkat dari 7 kapal per tahun, menjadi 12 kapal per tahun.

Selain memasok tepung sagu, masyarakat Luwu saat itu juga mengolah sagu menjadi barang kerajinan, seperti atap rumbia dan keranjang dari pelepah pohon sagu.

Kebiasaan mengolah dan memiliki kekayaan sumber daya sagu di Tana Luwu juga menurunkan produk budaya berupa sambe. Alat atau perkakas ini berbentuk mirip kapak yang digunakan saat menghancurkan isi batang sagu. Kegiatan mengolah atau memproduksi tepung sagu sendiri disebut massambe. Menurut Anwar (2007), dengan melihat bentuk dan cara pembuatan, sambe sendiri kemungkinan besar merupakan turunan dari budaya teknologi neolitik. Kemiripan tersebut dapat dilihat dari segi bentuk alu, gagang, serta cara dan model ikatan.

Selain sambe, hadir pula balabba atau balebbe, sebagai salah satu turunan kebudayaan sagu Tana Luwu. Balabba adalah anyaman dari daun sagu berbentuk tabung tempat menyimpan tepung sagu basah. Sagu yang disimpan di balabba dapat bertahan hingga 3 bulan jika kelembabannya terjaga dengan baik. Balabba dengan diameter 50 cm dan tinggi maksimal 80 cm dapat berisi 15-40 kg sagu basah.

Sagu telah mewarnai kebudayaan masyarakat di Tana Luwu. Dari sekadar kebutuhan makanan pokok, hingga memengaruhi aktifitas ekonomi dan bahkan politik kewilayahan. Pada akhirnya, kita berharap komoditas ini tidak lagi menjadi daftar panjang artefak kebudayaan Luwu yang tak terlihat lagi wujudnya. Kita tidak ingin, sagu Luwu mengikuti jejak sagu Jawa yang kini hanya bisa dinikmati di relief-relief Candi Borobudur.

Di samping alasan diversifikasi dan ketahanan pangan, atas dasar latar budaya ini pula, menjadi patut-lah bagi kita untuk tetap menjaga lestarinya sagu di Tana Luwu. Sambe kini mungkin sudah termodifikasi menjadi perkakas yang lebih modern, dan balabba mungkin sudah berganti dengan tupperware, tapi citarasa kapurung berbahan dasar sagu, tak bisa tergantikan oleh sekadar tepung kanji, saudara!

Panjang umur, sagu Luwu…

Foto: http://www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2015/05/Sagu-2.jpg

Membumikan Etos Reso

image

Setiap memperingati Hari Jadi Luwu (HJL) dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL), saya kerapkali teringat dengan film The Last Samurai. Dikisahkan di film itu, Kaisar Meiji di Jepang berpidato di hadapan seorang samurai bernama Tokugawa dan pembesar istana lainnya. Ia menyampaikan bahwa Jepang boleh saja maju dengan teknologi mutakhirnya, tapi orang Jepang tidak boleh sekali-kali melupakan asal muasal-nya sebagai manusia yang berbudaya. Inilah salah satu tonggak Restorasi Meiji yang amat terkenal, yang kemudian membawa Jepang menjadi salah satu negara yang berpengaruh secara ekonomi.

Kemampuan Jepang menggerakkan ekonomi melalui pendekatan kebudayaan adalah suatu model yang patut untuk diduplikasi. Ajaran Bushido dan Kaizen yang dimiliki manusia Jepang, kini menjadi referensi dalam teori-teori manajemen. Ajaran Bushido mengajarkan tentang kerja keras, etika, loyalitas, disiplin, kerelaan berkorban,  ketajaman berpikir dan beberapa nilai-nilai yang lain. Sedangkan Kaizen, mengarahkan kita untuk melakukan perubahan positif secara terus-menerus. Namun jangan salah, ternyata pendahulu-pendahulu kita, leluhur masyarakat Luwu, di zaman lampau juga mewariskan nilai-nilai positif seperti itu.

Adalah cendekiawan To Maccae Ri Luwu yang secara cermat menjelaskan kepada kita bentuk-bentuk ideal manusia Luwu. Jika disimak secara seksama, inti amanahnya adalah tentang kejujuran, kebenaran, keadilan dan ketegasan. Oleh karena itu, sadarkah kita bahwa untuk membangun Luwu menjadi kawasan yang maju, penguatan integritas pada diri wija dan bija Luwu adalah salahsatu kunci yang penting?

Amanah lain To Maccae Ri Luwu yang diwariskan kepada La Baso To Akkarangeng adalah tentang ‘resep’ di balik kebesaran Luwu kala itu. Lagi-lagi, ia mengungkapkan tentang pentingnya manajemen sumber daya manusia dan penegakan hukum. Kata To Maccae Ri Luwu, untuk membesarkan Luwu maka harus ada takaran yang dipakai dan menjaga peradatan. Takaran ini adalah “tidak disuruh seseorang tidur pada suatu tempat jika tidak ia senang tidur padanya, tidak dibebani seseorang yang tidak disukainya, tidak disuruh seseorang membawa sesuatu yang tidak sesuai kemampuannya, tidak dikenakan pada seseorang dua beban yang berat, serta tidak disuruh mengerjakan dua pekerjaan yang sama”. Secara tekstual, amanah ini tentu amat filosofis. Namun secara sederhana, substansi amanah ini menunjukkan betapa pengelolaan pada variabel sumber daya manusia sekali lagi menjadi kunci untuk memajukan Luwu.

Manusia Luwu kini memang harus lebih bekerja keras. Sejalan dengan konsep Ayo Kerja-nya Jokowi, kitapun mengenal konsep ini sebagai ajaran Reso! Masih ingat dengan petuah “reso temmangngingngi malomoi naletei pammase dewata”?. Oleh Budayawan Rahman Arge, spirit ini disebutnya sebagai “etos reso”, sebuah budaya kerja manusia Sulawesi Selatan, di mana Luwu dianggap sebagai akarnya. Substansinya, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, yang mana hal itu memungkinkan turunnya berkah dari Tuhan.

Etos reso sejatinya menjadi spirit kita semua. Sebagai “wanua mappatuwo”, Tana Luwu ini memang dilimpahi anugerah sumber daya alam yang luar biasa kaya. Ia bersifat an sich. Namun demikian, frase ini selalu diikuti dengan “naewai alena”. Sadarkah anda, bahwa pada prinsipnya, “naewai alena” itu adalah sebuah etos reso? Ia adalah sebuah semangat untuk survive, daya hidup yang amat kuat, dan prinsip kemandirian yang amat tegas dari seorang wija dan bija Luwu. Sekali lagi, ini adalah doktrin untuk mengembangkan sumber daya manusia Luwu.

Di Hari Jadi Luwu Ke-748 dan HPRL Ke-70 ini, diperlukan upaya untuk mempertegas komitmen bekerja bersama-sama untuk kemajuan masyarakat Tana Luwu. IPM kabupaten/kota di Tana Luwu memang sudah menunjukkan peringkat yang cukup baik karena masuk dalam top 10 Sulawesi Selatan. Tantangan yang dihadapi sekarang adalah bagaimana memarelkan agar IPM ini juga diikuti dengan reduksi persentase kemiskinan di Tana Luwu. Data menunjukkan bahwa 2 kabupaten di kawasan ini masih memiliki persentase kemiskinan yang lebih tinggi dibanding rata-rata kabupaten/kota lain di Sulawesi Selatan.

HJL dan HPRL kita peringati kembali tahun ini di Luwu Timur, asal muasal Tana Luwu ini muncul. Pasang surut perjalanan sejarah Luwu yang memasuki tahun 748 ini, selalu dilalui dengan etos reso. Di dalamnya ada keyakinan bahwa inilah ‘wanua mappatuwo’, Luwu adalah harapan atas kehidupan yang lebih baik. Dengan pendekatan kebudayaan seperti ini, sense of belonging sebagai wija to Luwu sejatinya dapat didorong. Seperti halnya dengan Jepang, kita perlu kembali membuka-buka amanah pendahulu-pendahulu kita. Ia bisa menjadi referensi dalam membangun Tana Luwu, lebih khusus kepada manusia-manusianya. Belajarlah sejarah dan pahamilah budaya, sebab jika kehilangan keduanya, kamu akan kehilangan bagian dari dirimu sendiri. Begitulah kata sejarawan Anhar Gonggong.

Terakhir, dengan kesamaan identitas dan latar belakang sejarah, HJL dan HPRL juga sejatinya menguatkan kohesi seluruh wija to Luwu. To Maccae Ri Luwu mengatakan, mengenai kesatuan rakyat, ada delapan jenisnya yang disebut bersatu itu. Seiya sekata mereka dalam negeri, jujur mereka sesamanya, saling berkata benar di antara mereka, mereka saling memalui, dalam duka mereka bersatu dan dalam suka mereka bersatu, ke gunung sama mendaki dan ke ranah sama menurun, dan saling membenarkan menurut adanya. Akhirnya, mari bekerja bersama-sama. Kita semua punya beban moral untuk mengembalikan kebesaran Tana Luwu ini. Selamat Hari Jadi Luwu Ke-748 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu Ke-70. Selamat menikmati atraksi terjun payung dan Sukhoi di acara seremonialnya di Malili nanti. Tabe.