Menjaga Pusaka Kota, Menjaga Identitas

Istana Datu Luwu, 1935

Istana Datu Luwu, 1935

Tahun ini, Pemerintah Kota Palopo mendapat Program Penataan & Pelestarian Kota Pusaka dari Kementerian PUPR. Program ini bermaksud untuk mendorong penataan ruang kota yang konsisten dan berbasis pada nilai-nilai pusaka sebagai identitas sebuah kota. Hal ini tentu patut untuk didukung oleh semua pihak. Sebagai sebuah kota yang telah eksis sejak abad ke-17, Kota Palopo telah menorehkan perjalanan sejarah yang panjang, dan mewariskan sejumlah pusaka kota. Paling tidak, ada 3 kelompok besar pusaka yang dimiliki oleh Kota Palopo, yakni terdiri atas pusaka alam, pusaka ragawi dan pusaka non ragawi.

Badan Pelestrian Cagar Budaya Makassar mencatat sekurangnya ada 21 obyek cagar budaya yang patut untuk dilestarikan di kota ini. Yang paling monumental dan memiliki nilai signifaknasi budaya tertinggi tentunya adalah Masjid Jami Tua. Sebagai pusaka ragawi Kota Palopo, cagar budaya ini telah menjadi simbol kota, sekaligus sebagai monumen kelahiran Palopo sebagai sebuah kota. Oleh karena itu, sejarah perkembangan wilayah Kota Palopo, tidak bisa dilepaskan dengan sejarah Kerajaan Luwu dan perkembangan Islam.

Reinventing Lalebbata

Lalebbata memang menjadi entry point dalam menata pusaka Kota Palopo. Hal ini dikarenakan konsentrasi bangunan cagar budaya yang intens di kawasan ini. Karakter bentuk lahannya merupakan lanskap kota kolonial di tengah pemukiman kota moderen yang sedang tumbuh. Hal ini pula yang menjadi tantangan, karena beberapa bangunan yang tumbuh saat ini, seperti Hotel Platinum dengan disain moderen minimalis, tampaknya tidak selaras dengan rasa tempat (sense of place) yang telah ada sebelumnya, seperti gaya artdeco yang ditampilkan di Istana Luwu dan gaya arsitektur Luwu sebagaimana dalam disain bangunan Masjid Jami Tua dan Rumah Adat. Hal ini juga menjadi sinyal, bahwa betapa hampir di seluruh wilayah Kota Palopo, kita disuguhi disain arsitektur bangunan-bangunan yang semakin memperlihatkan keseragaman disain bergaya moderen minimalis, seperti ruko-ruko dan Opsal Plaza, yang amat minim sentuhan identitas ke-Luwu-annya.

Dalam fase awal perkembangan Palopo sebagai ibukota Kerajaan/Kedatuan Luwu, kota ini dilengkapi dengan alun-alun di depan istana dan pasar sebagai pusat ekonomi masyarakat. Lalebbata menjadi pusat kota kala itu yang melingkar hingga kampung Amassangan dan Malimongan seluas kurang lebih 10 ha. Di dalam buku M Irfan Mahmud, kita bisa melihat deskripsi peta kota kuno Palopo yang berorientasi utara-selatan dan memperlihatkan ciri khas kota-kota Asia Tenggara. Namun sayangnya, morfologi Kota Palopo pada perkembangan berikutnya (zaman kolonial) masih belum pernah kita dapatkan. Padahal, data atau peta morfologi kota merupakan dokumen yang penting untuk menyelami perkembangan Palopo dari masa ke masa. Dengan adanya kesadaran atas perkembangan ruang kota itu, kita tidak akan melupakan akar dan asal-usul kota. Kita dapat menjadikannya acuan dalam menata kawasan serta melestarikan pusaka-pusaka kota yang ada di Kota Palopo.

Inilah kemudian yang disebut sebagai reinventing Lalebbata. Reinventing Lalebbata merupakan upaya menghimpun kembali nilai-nilai kearifan maupun kejeniusan lokal yang hidup di dalam kawasan Lalebbata ini. Program penataan dan pelestarian pusaka, sejatinya tidak hanya berorientasi pada renovasi bangunan cagar budaya dan revitalisasi kawasan, tetapi yang lebih penting pula adalah menemukan kembali jati diri masyarakat Palopo, yang sadar atau tidak, perkembangannya berasal dari kawasan Lalebbata ini.

Salahsatu contoh dari nilai lokal yang harus dipahami kembali di kawasan ini adalah filosofi marowa’ (ramai). Hal ini adalah idealisme yang harus dicapai di kawasan Lalebbata, sebagaimana yang disebut Sarita Pawiloy. Filosofi marowa’ ini pada prinsipnya memiliki substansi kebersamaan atau semangat komunitas (community spirit). Sudah tercapaikah idealisme ini di kawasan Lalebbata? Dahulu kala bisa jadi iya, karena adanya formasi yang kompak antara istana, masjid dan alun-alun dalam sebuah kawasan ini. Namun, jika melihat kondisi eksisting, kita tentu bisa menyatakan bahwa Lalebbata kini menjadi ruang-ruang ekslusif, yang kurang menampilkan semangat komunitasnya. Ekslusif karena masing-masing anggota komunitas yang ada di dalamnya seolah saling menutup diri. Oleh karena itu, mendorong untuk bergeraknya masyarakat di dalam kawasan untuk turut serta berperan dalam menghimpun nilai-nilai yang pernah ada di dalam kawasan dan menumbuhkan semangat komunitas sangat perlu untuk menjadi perhatian.

Program Kota Pusaka Palopo memang bukanlah upaya untuk memundurkan Palopo ke zaman dahulu kala. Program ini diharapkan lebih kepada menjaga tradisi positif yang dapat menjadi identitas atau jati diri Palopo sebagai kotaraja Kedatuan Luwu. Kita tentu berharap tidak terjadinya kebingungan identitas bagi generasi muda ke depan. Oleh karena itu, kita perlu ‘bercerita’ melalui pusaka kota. Hal ini sebagaimana Kostof menulis bahwa kota merupakan sebuah cerita, kenangan terakhir dari pergulatan manusia dan keagungan, dan tempat dimana kebanggaan masa lalu diletakkan dan dipamerkan.

Homo Palopoensis

Dari zaman dahulu, Palopo adalah magnet. Posisinya yang strategis selalu memikat. Kedinamisan aktifitas warganya menjadi daya tarik. Banyak yang datang, dan tak sedikit yang kembali pulang. Di awal perkembangan, Palopo adalah tempat tahta kedatuan Luwu digantungkan. Adalah suatu kehormatan menjadi warga kotanya, walaupun hanya sekadar bertandang. Demikianlah kata Sarita Pawiloy, tentang kisah kota ini di awal perkembangan.

Manusia Palopo adalah manusia yang terbuka. Terhadap kedatangan etnis dan budaya budaya baru, hal itu dianggap dinamika. Konsekuensi terhadap kotaraja yang menjadi gerbang Kerajaan Luwu paling muka. Semua menjadi cerita indah, tanpa syakwasangka. Banyak saudara kita dari Tiongkok sana, dan ada pula dari Sulawesi Utara. Di Palopo, mereka damai hidupnya. Mereka itu ibarat adik, dan sang pribumi adalah kakaknya.

Ada banyak perkembangan budaya urban di Palopo dewasa ini. Ada yang bilang, karena semakin matangnya demokrasi. Ada pula yang menyebut, karena kian kuatnya ekonomi. Namun saya bersangka, hal itu terjadi karena kita tak mengenal jati diri, dan atau tak tau budaya sendiri.

Kata saya pula, manusia Palopo ini kurang berseni. Kurang subur melahirkan pencipta simponi, atau sekadar seniman tari. Jangan pula anda di sini mencari karya sastra bernilai tinggi. Karena setelah periode Galigo, Palopo minim mencatat sejarah dalam berbagai narasi dan deskripsi. Itulah mengapa manusia Palopo dewasa ini, mudah tersulut emosi. Mengulang kisah dalam novel Kota Palopo Yang Terbakar, beberapa tahun lalu api membakar beberapa gedung di sana sini.  Bisa jadi, hal ini karena kurang rekreasi dan apresiasi seni.

Manusia Palopo sendiri adalah makhluk yang royal, dan doyan dengan pesta pagi hingga malam. Mereka rajin menggelar acara makan-makan. Saling pamer barang-barang branded, walaupun hasil cicilan. Dan untuk itu, akhirnya banyak menabung utang. Untungnya, perempuan Palopo, tak seperti di negeri Bugis-Makassar bagian selatan. Bicara mahar untuk nikahan, rata-rata tidak menuntut juta yang banyak atau bahkan hingga milyaran.

Gaya hidup manusia Palopo memang kini semakin moderen. Moderen dari segi merek produk-produk yang digunakan. Begitu suatu resto baru diresmikan, dua tiga pekan pasti akan penuh atas kunjungan. Selepas itu, maka logika kreatif pihak resto dituntut, khususnya bagian pemasaran. Saya menyebutnya ini fenomena kagetan. Atau sarkasnya, anget-anget tahi ayam. Ini memang konsukuensi atas perubahan. Dan bagi calon usahawan, anda wajib berkaca dari berbagai pengalaman. Perlu kalkulasi yang presisi dari futurolog mapan. Namun demikian, secara pribadi saya optimis, kisah suram itu tak akan berkesinambungan. Bukankah Palopo selalu memberi harapan?

Manusia Palopo kini juga kurang berani. Terhadap berbagai risiko, kita kehilangan nyali. Kurang menghasilkan pengusaha sukses dari kalangan pribumi. Memang, dari dulu kita memang bermental ‘Bossy’. Kita juga dicatat sebagai pemalas oleh bangsa kompeni. Itu bukan kata saya sendiri, tetapi merupakan citra diri, sebagaimana tertulis di laporan Gubernur Sulawesi. Katanya, hal itu karena banyaknya sagu yang tumbuh sepanjang rawa dan kali. Sehingga etos kerja sebagai petani, hingga kini tak pernah dicatat sebagai prestasi yang tinggi.

Kini, manusia Palopo sebagai cermin wija Luwu seakan kehilangan kemuliaan. Dalam wira cerita La Galigo, kita memang dijadikan teladan. Yang dituakan di antara tanah Bugis-Makassar yang penuh kehormatan. Semua itu karena profil kita saat itu memang sangat memegang prinsip dan ajaran ketuhanan. Masih teguh menjaga siri dan kejujuran. Mengimplementasikan kebenaran dan keadilan. Ketika nilai itu semua kita tanggalkan, maka semuanya akan menjadi artefak kebudayaan. Dan oleh karena punahnya nilai itu semua, maka manusia Palopo pun juga ikut terkubur di kedalaman. Ia hanya akan dikenang sebagai Homo Palopoensis, manusia Palopo purba yang berkebudayaan.

Reso!

Penamaan Kabinet Kerja yang dibentuk oleh pemerintahan Jokowi-JK mengingatkan kita kepada Presiden Soekarno. Kala itu, pada rentang tahun 1959 hingga 1964, Soekarno menamakan kabinet pemerintahannya dengan nama Kabinet Kerja I sampai dengan Kabinet Kerja IV.

Sejalan dengan semangat Kabinet Kerja besutan pemerintahan Jokowi-JK, tahun ini, dalam rangka memperingati kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70, pemerintah juga mengangkat tema “Ayo Kerja”. Tema ini menandai era baru cara pemerintah kita berbahasa. Era di mana tema tidak harus diawali dengan kata “Dengan semangat…”, dan era di mana sebuah tema tidak harus dirangkai dalam sebuah kalimat yang normatif nan panjang.

Kalimat Ayo Kerja adalah kalimat yang sederhana, lugas, namun substantif. Tampaknya, tema Ayo Kerja ini ingin membangun kesadaran kolektif bangsa, mendorong masyarakat untuk bergerak lebih cepat, dan memberikan semangat juang dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Sebagai masyarakat Bugis-Makassar, kita mengenal Ayo Kerja ini sebagai Reso! Nene Mallomo di tanah Bugis Sidenreng, dahulu kala mewariskan wejangan “reso temmangngingngi malomoi naletei pammase dewata”. Oleh Budayawan Rahman Arge, spirit ini disebutnya sebagai “etos reso”, sebuah budaya kerja manusia Bugis. Substansinya, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, yang mana hal itu memungkinkan turunnya berkah dari Tuhan.

Etos reso sejatinya menjadi spirit kita semua. Sebagai “wanua mappatuwo”, Tana Luwu ini memang dilimpahi anugerah sumber daya alam yang luar biasa kaya. Namun demikian, frase ini selalu diikuti dengan “naewai alena”. Sadarkah anda, bahwa pada prinsipnya, “naewai alena” itu adalah sebuah etos reso? Ia adalah sebuah semangat untuk survive, daya hidup yang amat kuat, dan prinsip kemandirian yang amat tegas dari seorang wija dan bija Luwu.

Demikian pula di Ulang Tahun Kota Palopo yang ke-13 tahun ini. Kota ini dilahirkan dengan harapan, dan dibesarkan dengan kerja-kerja nyata (reso). Tidak hanya oleh satu orang wali kota, melainkan dengan ratusan ribu penduduknya. Pasang surut perjalanan sejarah Palopo dilalui dengan etos reso, yang di dalamnya ada keyakinan bahwa inilah ‘wanua mappatuwo’. Palopo adalah harapan atas kehidupan yang lebih baik.

Bulan ini, Palopo genap berusia 13 tahun. Angka BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi di wilayah ini sudah di atas 8 persen.  Pembangunan konstruksi gedung semakin menggeliat. Hotel dan restoran semakin ramai. Dan kelas menengah baru semakin tumbuh seiring semakin banyaknya usahawan-usahawan baru yang muncul. Dalam kajian ekonomi, inilah yang disebut kewirausahaan, yang oleh Schumpeter menjadi salah satu kunci untuk menghadirkan kesejahteraan suatu wilayah.

Kita sejatinya mengawinkan prinsip Schumpeter dengan wejangan Nene Mallomo. Etos reso para wirausahawan baru Kota Palopo, sedapat mungkin berorientasi pada pencarian rahmat Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa. Harapannya, etos reso manusia Palopo tidak lepas dari ikatan nilai-nilai agama. Bisnis tidak harus merusak moral generasi penerus, menciptakan manusia-manusia yang tamak dan melukai ekosistem atau lingkungan hidup. Pada bagian ini, saya ingin mengingatkan atas doktrin tentang dimensi religi, yang sedari dulu hadir dalam perencanaan pembangunan kota otonom ini.

Akhirnya, selamat merayakan HUT Kota Palopo yang ke-13, dan selamat menyongsong HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70. Gerakan “Ayo Kerja” harus didukung oleh segenap masyarakat Indonesia. Sebagai implementasinya, mari kita tanamkan etos “Reso” ini kepada seluruh manusia Palopo. Buktikanlah dengan hasil kerja terbaik kita. Buktikanlah melalui karya yang bermanfaat bagi alam dan sesama…

Mengapa 21 Januari 1268 Menjadi Hari Jadi Luwu?

Lambang Kedatuan Luwu (doc) - CopyJati diri sebuah masyarakat selalu dilihat dari latar belakang sejarahnya. Kita patut bersyukur karena jati diri masyarakat Luwu dapat ditelusuri oleh sejumlah pakar. Penelusuran paling monumental adalah penetapan Hari Jadi Luwu. Angka 1268 didapat, dan 21 Januari ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Luwu Nomor 17 Tahun 1994 tentang Penetapan Hari Jadi Luwu.

Dokumen Perda inilah yang mendasari perayaan Hari Jadi Luwu (HJL) tiap tahunnya kita gelar. Adalah Ikatan Profesi Dosen Kerukunan Keluarga Luwu (IPD-KKL) yang menginisiasi penelusuran kejadian Luwu ini. Atas direktif Bupati HM Yunus Bandu saat itu, maka Ketua Umum IPD-KKL kala itu, Prof AS Achmad, mulai mengumpulkan informasi dan data faktual yang dapat dijadikan rujukan menurut prinsip-prinsip ilmu sejarah, walaupun disadari hal itu tentu sangat terbatas keberadaannya. IPD-KKL juga melakukan konsultasi dengan pihak-pihak yang dianggap berkompeten. Temuan awal kemudian didiskusikan dalam sebuah forum pada tanggal 29 Mei 1994 di Restoran Pualam Ujung Pandang. Di forum awal tersebut, hadir beberapa pakar sejarah dan budayawan, sesepuh dan tokoh masyarakat Tana Luwu.

Pasca forum diskusi tersebut, kajian mengenai Hari Jadi Luwu ini kemudian menemukan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut:
1. Tahun ‘Hari Jadi’ pemerintahan di Luwu adalah pada masa pemerintahan Simpurusiang. Jastifikasinya adalah hampir seluruh catatan sejarah yang absah mengngkapkan bahwa Kerajaan Luwu pada masa itu, menurut konsepsi politik modern, telah memiliki wilayah yang nyata, rakyat yang kongkrit, pemerintahan (raja) yang berdaulat dan adanya hubungan dengan dunia luar yang lain yang mapan.
2. Bulan ‘Hari Jadi’ mengacu kepada bulan terjadinya suatu peristiwa besar dan penting di masa yang lalu dan amat mempengaruhi pandangan hidup rakyatnya, bersifat populis dan mempersatukan serta mengandung motivasi yang kuat bagi masyakat membangun daerahnya.
3. Tanggal ‘Hari Jadi’ merujuk kepada tanggal peristiwa yang dipandang paling bersejarah, membangkitkan rasa kebanggaan bagi semua dan diterima oleh segala lapisan masyarakat (semua orang Luwu).

Penelusuran kemudian dilakukan ke dalam suatu forum ilmiah yang lebih luas, yakni dalam sebuah Tudang Ade’ yang digelar di Aula Simpurusiang Palopo tanggal 13 Agustus 1994 untuk mengkrongkritkan tanggal, bulan dan tahun dari Hari Jadi Luwu. Dalam Tudang Ade’ itu dihadirkan beberapa pemakalah antara lain: Prof Mr Dr H Andi Zainal Abidin (Mantan Rektor Universitas 45 Ujung Pandang), Prof Dr HA Mattulada (Guru Besar Antropologi Universitas Hasanuddin), Prof Dr Abu Hamid (Guru Besar Antropologi Universitas Hasanuddin), Drs HD Mangemba (Pakar Budaya Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin), Dr Edward L Poelinggomang (Pakar Sejarah Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin), Drs Sarita Pawiloy (Dosen Pendidikan Sejarah IKIP Ujung Pandang) dan Anthon Andi Pangerang (Budayawan Luwu).

Hasilnya, bahwa berdasar konsepsi ilmu politik modern tersebut di atas, maka pangkal tolak menentukan tahun lahirnya Luwu bermula pada waktu masuknya Islam di Luwu yakni tahun 1593. Dari tahun ini kemudian dihitung mundur 13 Raja yang pernah berkuasa sampai masa Raja Simpurusiang. Dengan asumsi 1 Raja masing-masing memiliki periode 25 tahun, maka ditemukanlah angka 1268 sebagai awal mula tahun kejadian Luwu. Angka 21 Januari kemudian dipilih sebagai Tanggal dan Bulan Jadi Luwu karena mengacu pada tanggal dan bulan yang bernilai sejarah dalam mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan RI. Tanggal dan bulan tersebut adalah waktu pemberian ultimatum kepada Tentara Sekutu sebelum pecahnya Perlawanan Semesta Rakyat Luwu (23 Januari 1946).

Demikianlah Hari Jadi Luwu ini kemudian ditetapkan melalui Perda pada tanggal 29 November 1994, dan kita mulai merayakan setiap tahunnya. Menurut Prof AS Achmad, Hari Jadi Luwu ini akan membantu kita untuk lebih mengenal akan diri kita sendiri dengan lebih baik, mengenal akan kenyataan yang menyelimuti Luwu, mengenai hakikat dan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi. Peringatan Hari Jadi Luwu mengandung motivasi untuk merencanakan dan melaksanakan pembangunan di segala bidang. Dirgahayu Ke 747 Tana Luwu…

Nyanyian Sendu Pedagang PNP

Sebagai episentrum pergerakan ekonomi kerakyatan, banyak hal-hal menarik jika kita bertandang ke Pusat Niaga Palopo. Salahsatunya adalah laku para pedagang ikan yang berada di blok basah sebelah utara. Di sana, kita kerap didendangkan nyanyian-nyanyian merdu khas Bugis pesisir. Suara mereka serak-serak basah, menari-nari, dan terkadang jenaka. Galibnya sebuah nyanyian, lantunan merdu berbahasa Bugis itu adalah penghibur. Namun demikian, sadarkah anda bahwa nyanyian-nyanyian tersebut ternyata adalah sebuah ‘pemikat’?

Itulah yang biasa kita sebut kelong-kelong ugi! Jenisnya termasuk elong eja-eja yang bersyair hiburan atau berpantun jenaka. Di dalam lingkungan PNP, ia merupakan penghibur, karena syairnya akan membangkitkan semangat si pedagang ikan tersebut. Dan bersifat ‘pemikat’ karena ia bertendensi untuk menarik perhatian pembeli.

Karena tendensi untuk menarik perhatian pembeli itulah kemudian, laku budaya para pedagang ikan ini bisa kita golongkan sebagai salahsatu strategi pemasaran. Walau berlabel pasar tradisional, ternyata pada dasarnya, praktik pemasaran modern juga telah diterapkan. Mungkin, kelong-kelong ugi ini bisa kita asosiasikan dengan jingle-jingle pada iklan produk yang diperdengarkan di minimarket dan tenant-tenant pasar modern. Perbedaannya, jingle iklan tersebut sudah dikemas permanen secara digital dan diputar secara elektronik, dan kelong-kelong ugi masih manual didendangkan langsung dari mulut si pemasar. Jingle iklan unggul pada kualitas suara dan aransemennya, sedangkan kelong-kelong ugi unggul pada content yang costumize atau bisa diimprovisasi.

Namun sayangnya, kelong-kelong ugi ini semakin hari semakin tidak nyaring bunyinya. Nyanyian yang bersahut-sahutan dan memekakkan telinga mungkin tinggal nostalgia tahun 90-an dan sebelumnya saja. Salahsatu penyebabnya adalah karena adanya regenerasi pada individu pedagang ikan yang ada di PNP. Saat ini merupakan era generasi kedua-ketiga dari generasi awal para pedagang ikan di PNP (dulu Pasar Sentral Palopo). Dan seperti sikap dari kebanyakan orang-orang tua kita terhadap ritus-ritus budaya, elong-kelong ugi ini gagal untuk diwariskan. Dan atas nama modernisasi, generasi kedua-ketiga ini pun apatis terhadap metode pemasaran tersebut. Seakan ingin mengikuti karakter pasar modern, radio tape pun diboyong masuk PNP, dan berdendanglah musik beraliran dangdut dan metal (melayu total). Alhasil, kita kemudian mengalami ancaman terhadap hilangnya karakter Pusat Niaga Palopo. Nyanyian para pedagang ikan kita semakin sendu!

Tradisional versus Modern

Nyanyian sendu ini bisajadi juga mengonfirmasi betapa energi berbisnis di PNP juga semakin meredup akibat persaingan dengan minimarket dan pasar-pasar modern lain. Kita tak boleh menutup mata dan telinga atas keluhan para pedagang-pedagang ini. Pertumbuhan minimarket dan pasar modern 2 tahun belakangan ini semakin menggeser dominasi PNP. Hal ini sesuai pula hasil riset yang dilakukan Anggraini (2013) di Semarang yang menunjukkan bahwa terjadi konflik yang ditandai  dengan irisan/persinggungan  antara  jangkauan  pelayanan minimarket dan pasar tradisional.

Oleh karena itu, untuk melecutkan energi di PNP, kita sejatinya meninjau kembali kebijakan terbuka terhadap investasi retail modern atau minimarket-minimarket baru. Sudah saatnya melakukan pengetatan izin dan memberikan kesempatan kepada pasar-pasar tradisional untuk memacu dan memburu ketertinggalannya. Memang, ada perbedaan mendasar pada karakter pasar tradisional dan pasar modern, namun sekali lagi, para pedagang kita sudah tidak lagi ‘bernyanyi semerdu dulu’. Mereka kini mulai ‘berteriak tak berdaya’ atas kompetisi yang semakin atraktif yang mereka hadapi.

Selera dan gaya para pembeli dalam berbelanja yang ingin keamanan, kenyamanan, kepraktisan dan kebersihan memang sulit untuk diubah. Namun, pasar tradisional kita (PNP, Andi Tadda, dan Telluwanua) tentu bisa membaca perilaku pelanggan tersebut dan melakukan penyesuaian-penyesuaian. Saatnya memang berkaca dan belajar untuk lebih mengerti keinginan pasar (baca: pembeli dan masyarakat). Pasar tradisional harus berubah tanpa menghilangkan karakteristiknya yang genuine. Hal itu penting karena selain sebagi ruang ekonomi, pasar tradisional juga merupakan ruang terjadinya pembauran dan transformasi budaya (Hamid, 2010).

Transformasi menjadi pasar yang lebih baik adalah dambaan seluruh warga Kota Palopo. Kebersihan pasar bukan hanya satu-satunya layanan bagi pembeli. Namun, lebih daripada itu semua, ada banyak harapan dari masyarakat kita yang semakin hari semakin cerdas dan idealis. Untuk memulai transformasi manajemen pasar tradisional, kita sejatinya melakukan riset perilaku pelanggan, sebagaimana yang telah disebut di atas. Assesment ini untuk memetakan permasalahan dan preferensi pembeli di PNP. Beberapa hal yang patut untuk ditanyakan kepada pembeli PNP antara lain: apakah mereka nyaman, aman dan praktis belanja di PNP?; apakah mereka tidak terganggu dengan koridor PNP yang menyempit akibat luberan dagangan di tepi dan bagian tengah koridor?; apakah mereka tidak terganggu dengan sepeda motor yang masih biasa kita temukan berjalan di koridor PNP?; amankah mereka memarkir kendaraannya di sekitar PNP?; atau adakah costumer service yang berfungsi di PNP?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sejatinya sudah dipetakan oleh manajemen pasar tradisional kita. Dan hasil dari preferensi pembeli tersebut harus dikomunikasikan dengan para pedagang. Dalam proses ini, asosiasi pedagang sejatinya juga harus bersikap terbuka untuk melakukan perubahan. Manajemen dan pedagang memang harus berubah. Kata meme di media sosial: “Kesatria Baja Hitam saja harus berubah untuk menang melawan monster, apalagi kita!”. Oleh karena itu, mari kita kembalikan energi dan  nyanyian riuh pada pedagang pasar tradisional kita. Saatnya pasar tradisional meraih kembali kemenangan dan kejayaannya.