4C Manajemen Masjid

Untuk menjadikan masjid lebih menarik bagi jamaah, setidaknya masjid kekinian harus memperhatikan 4 hal: Comfort, Cognition, Clear & Connect.

Comfort, merujuk pada kenyamanan jamaah, seperti suhu ruang yang adem, keamanan alas kaki, parkir yang luas dan soundsystem yang ‘easy listening’, keramahan pengurus dan sebagainya…

Cognition, merujuk pada kemampuan masjid menjadi pusat pengetahuan. Ini ditandai dengan tema tauziah yang mencerahkan, mubalig yang komunikatif, remaja masjid yang terkader, dan kegiatan dakwah yang variatif dan berkesinambungan.

Clear, merujuk tidak hanya bersih dalam arti sebenar-benarnya seperti tempat wudu yang mengkilap, toilet yang wangi dan karpet yang tidak berdebu, tetapi Clear juga merujuk pada transparansi administrasi keuangan yang jelas dan ‘prudent’ serta kepengurusan yang bebas kepentingan.

Sedangkan Connect merujuk pada upaya untuk membangun jaringan kerja yang bersifat hybrid. Jejaring offline harus dibangun paralel dengan jejaring online dalam rangka menggalang donasi untuk pembangunan masjid.

Demikian saripati diskusi para pelaku dan pengamat manajemen masjid kekinian siang ini, yang dimoderatori oleh Herawan Syamsuddin Toni , keynote speaker oleh Taslim Jie dan dihadiri oleh Jamaah Humas dan Protokol Kota Palopo… 😀

Iklan

Mengapa Harus Kartini?

Sudahlah… Dia memang wanita Jawa, tapi dia Perempuan Indonesia juga. Ia hanya simbol perjuangan perempuan Indonesia. Dan perjuangan itu tidak hanya melalui moncong senjata, bukan pula sekadar gerakan politik. Saat Anda masih mempertanyakan mengapa harus Kartini, pada saat yang sama Anda telah mereduksi makna nasionalisme.

Negara ini dibangun dengan konsensus. Dan, Kartini sudah menjadi konsensus para pendahulu. Dan tahukah anda para pendahulu-pendahulu kita itu? Mereka yang merasakan getirnya penjajahan. Yang bertaruh nyawa, bercucur keringat, berkorban harta dan memutar otak. Merekalah generasi awal-awal Pancasila. Yang keputusannya selalu berhikmat pada Bhinneka Tunggal Ika.

Kartini hanya simbol. Sekali lagi, hanya simbol. Ia merepresentasikan ribuan perempuan-wanita Indonesia lain di belahan nusantara ini, yang juga berjuang bagi negara dan bangsa ini.

So, usah berdebat lagi… Indonesia punya banyak suku, tapi kita sepakat bahasanya adalah Bahasa Indonesia— yang merupakan turunan Melayu—sebagai simbol pemersatu. Negeri ini memang penuh dengan wanita-perempuan pejuang, tapi kita sepakat menjadikan Kartini—yang turunan Jawa— sebagai simbol perjuangannya…

Selamat Hari Kartini…

Palopo, 21 April 2016

Kerah Putih

Dan banyaklah kini foto berupa-rupa gaya, bertebaran di jagad maya. Yang lagi trendi, dengan seragam putih, mengenakan emblem Korpri. Kira-kira sejak Januari, uniform putih menjadi instruksi Menteri Dalam Negeri. Tak sedikit yang bilang, ini ala-ala Jokowi, sang Presiden RI.

Warna putih kerapkali dipakai sebagai penanda. Ia penuh akan makna-makna.

Sang saka republik ini, menyandingkan merah dan putih. Merah bermakna berani, putih berarti suci.
Para politisi, menjadikan putih sebagai simbol netralitas diri. Berusaha lepas dari asosiasi partai, yang identik dengan warna-warni.
Di Sulawesi, ia menjadi penanda duka atas adanya kerabat yang mati. Saat di medan perang, bendera putih juga menjadi pengakuan atas kekalahan diri.

Namun, uniform putih ASN adalah simbol aparatur bersih. Ia adalah bunga-bunga dari mental yang berevolusi. Harapan atas terwujudnya pamong yang tak korupsi. Yang suka melayani, tanpa harus menarik pungli.

Seragam putih juga adalah simbol para profesionalis. Ia serupa pekerja bisnis, tapi doktrin birokratis. ASN kerah putih memang tentang upaya keras merubah birokrasi menjadi lebih idealis. Bagi yang masih sulit bekerja dengan Microsoft Office, kita berharap sudah mulai habis. Aparat berkerah putih adalah abdi negeri yang melayani dengan senyum manis. Pekerja profesional yang dibentuk dengan mental Pancasilais.

Pekerja kerah putih (white collar) adalah pekerja profesional. Ia paham aturan yang terdiri atas pasal-pasal. Responsif terhadap perubahan dan kondisi sosial. Dan senantiasa mengembangkan diri dengan sejumlah pendidikan dan latihan fungsional. Pada akhirnya, kita berharap aparatur pekerja kerah putih akan semakin andal. Dan biasanya, harga atas profesionalisme yang andal tentu akan semakin mahal. (*)

Palopo 3.0

Aplikasi Explore Palopo

Aplikasi Explore Palopo

Sepanjang pekan ini, kita disuguhi berita-berita penuh optimisme tentang Palopo. Mulai dari launching IMB online oleh Distarcip, target pelayanan perizinan online di November mendatang, dan terakhir peresmian operasionalisasi Sistem SIPARAPE oleh Dinas Pendidikan. Rentetan pencapaian Pemkot ini seakan meneguhkan hadirnya wajah baru kota ini, yaitu: Palopo 3.0

Sistem Informasi Pemantauan Pembelajaran dan Prestasi Belajar (SIPARAPE), misalnya. Inovasi Dinas Pendidikan ini memberikan fitur yang mampu mendeteksi kehadiran dan bahkan nilai ujian harian pelajar-pelajar Palopo. Orang tua siswa tinggal memantau prestasi dan tugas rumah anaknya melalui smartphone.

Setahun sebelum SIPARAPE, Dinas Pendidikan juga telah menyelenggarakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online. Sistem ini menghilangkan potensi kongkalikong dalam penerimaan siswa baru yang selama ini menjadi momok bagi sekolah-sekolah favorit.

Di penataan ruang dan pemukiman hadir IMB online. Semangat IMB online adalah untuk mengurangi frekuensi tatap muka antara aparat perizinan dengan warga yang ingin membangun (yang biasanya rawan terjadi praktik perjokian).

Di bidang perencanaan pembangunan, Palopo juga kini memiliki e-musrenbang. Aplikasi ini memungkinkan partisipasi aktif warga Palopo dalam mengontrol usulan-usulan pembangunan. Dan yang sementara disusun, sistem perizinan secara elektronik oleh BPMPPT yang ditarget selesai November 2016.

Palopo dengan Generasi Baru

Palopo 3.0 adalah generasi baru dari kota ini yang ditandai dengan Baca lebih lanjut

Resensi Buku Kartini dari Tana Luwu

Buku Hj Siti Ziarah MakkajarengBuku “Hajjah Siti Ziarah Makkajareng: Kartini dari Tana Luwu (Pejuang Pendidikan dan Pemerhati Perempuan)” karya Ria Warda ini membagi tiga poin besar mengenai kisah Siti Ziarah Makkajareng. Bagian pertama adalah tentang latar belakang keluarga, kemudian sepak terjang dan pemikiran, serta bagian terakhir adalah mengenai kepemimpinan Ziarah.

Siti Ziarah Makkajareng adalah tokoh pendidikan Tana Luwu yang sangat sentral perannya. Ia menjadi sangat menarik untuk diulas karena merupakan perempuan yang secara konsisten mengabdikan dirinya memamujukan pendidikan di Palopo dan Tana Luwu secara umum. Di tengah hegemoni peran laki-laki pada zamannya, ia tampil dengan ide-ide pembaruan khususnya dalam pendidikan yang inklusif, yakni memberi ruang dan kesempatan yang sama bagi perempuan Tana Luwu.

Terlahir dari keluarga bangsawan Luwu, Ziarah memilih untuk lebih egaliter dengan membangun kehidupan sosial yang tanpa jarak dengan siapa saja. Bapaknya adalah Andi Makkajareng Opu Tosessu dan ibunya adalah Andi Mudhara Opu Daengnna Maddutana. Namun demikian, ia memilih menghilangkan gelar “Andi” di depan namanya. Ziarah kecil belajar mengaji dari KH Daud dan banyak menimba ilmu agama dari KH Hasyim yang kedua-duanya merupakan sahabat bapaknya. Setelah lulus SGAI, Ziarah menimba ilmu di Yogyakarta dan mendapatkan gelar kesarjanaannya dari IAIN Sunan Kalijaga. Gelar “Doktoranda” yang diraihnya sekaligus menjadikan dirinya sebagai perempuan sarjana pertama di Tana Luwu pada akhir tahun 60-an. Dari gelar inilah kemudian, panggilan Opu Anda melekat kepada Ziarah, yang merupakan kependekan kata Doktoranda.

Sepak terjang Ziarah dalam buku ini diulas dalam beberapa bab yang keseluruhannya hingga mencapai 82 halaman. Bagian ini merupakan pembahasan paling banyak dalam struktur buku ini. Sepak terjang Ziarah dideskripsikan oleh penulisnya mulai dari merintis taman pendidikan Alquran, taman kanak-kanak, sekolah kejuruan (SKKA) hingga perguruan tinggi pertama di Tana Luwu, bahkan sampai kiprah Ziarah di legislatif. Dari uraian-uraian yang digambarkan di buku ini, kita dapat merasakan perjuangan Ziarah bersama para tokoh lainnya saat awal-awal merintis sejumlah institusi pendidikan penting di Kota Palopo.

Kepemimpinan Ziarah diungkap di bab-bab akhir buku ini. Ia digambarkan sebagai seorang demokrat yang karismatik. Ziarah merupakan tipikal pemimpin yang mengambil keputusan melalui diskusi dan musyawarah, mengutamakan kerja sama dan pembangun tim yang baik. Ia memiliki visi yang konkrit dan kemampuan komunikasi yang baik. Oleh karena kemampuan itu, ia memiliki wibawa dan daya tarik yang kuat bagi orang-orang yang ditemuinya.

Diperkaya dengan cerita-cerita seputar pembangunan Palopo dan Tana Luwu di zaman orde baru, buku ini memberi kita informasi mengenai tokoh-tokoh sentral dalam dakwah Islamiah dan pengembangan pendidikan di daerah ini. Di buku ini, gambaran latar kejadian di balik perjalanan dakwah modern dan pendidikan di Palopo mendapat ruang yang besar. Gambaran tersebut merupakan sudut pandang orang pertama yang memang menjadi pelaku sejarah dan orang-orang terdekat Ziarah. Itulah yang menjadi salah satu keunggulan buku ini, kaya akan ‘ceritad dari orang pertama’ atau memaparkan data primer dari narasumber yang tepat.

Buku setebal 196+xxiv ini diterbitkan oleh CV Mitra Mandiri Persada – Surabaya tahun 2015 lalu. Buku ini memiliki catatan kaki (footnotes) hingga 277 buah yang memberikan informasi yang lebih detail, sekaligus memberikan ketidaknyamanan bagi pembacanya. Kekurangan lain dari buku ini adalah tidak adanya komparasi antara sepak terjang Ziarah dengan pokok-pokok pemikirannya. Hal ini disebabkan karena penulis mengalami kesulitan mendapat dokumentasi tulisan-tulisan Ziarah selama menjadi akademisi. Terlepas dari kekurangan tersebut, mengasosiakan Siti Ziarah Makkajareng dengan Kartini tidaklah berlebihan. Kedua tokoh ini, baik Kartini maupun Ziarah, sama-sama memperjuangkan perempuan dan pendidikan pada zamannya.

Dari kisah Ziarah di buku ini, kita bisa mengambil pesan positif mengenai pembangunan sumber daya manusia yang harus dibangun melalui lembaga pendidikan dan lembaga keluarga (dimana ibu atau perempuan menjadi kuncinya). Buku ini menjadi penting dibaca oleh tenaga pendidik atau akademisi, para muballig dan muballigah, pemerhati perempuan, para pelajar dan mahasiswa, sejarawan, bahkan warga Tana Luwu secara umum. (zhf)