Palopo Pore!

Ketika acara launching Palopo TV digelar beberapa waktu lalu di Aula Hotel Palopo, Edi H Maiseng, salahsatu notaris kondang Kota Palopo—yang belakangan ini juga giat menjadi motivator, mengungkapkan bahwa televisi swasta pertama di Luwu Raya ini mengangkat tagline Hebat! Menurutnya, hebat merupakan posisi tertinggi dari level baik.

Yang baik, belum tentu hebat. Namun, yang hebat sudah pasti baik. Baik menunjukkan posisi ideal, tetapi hebat memperlihatkan kualitas yang luar biasa. Setiap diri kita kadang menginginkan sesuatu yang baik-baik saja. Pendidikan yang baik, pekerjaan yang baik, berpenghasilan yang baik dan memiliki keluarga yang baik. Namun, kita tidak sadar bahwa ketika kita membuat target yang hanya ingin berada pada posisi ‘baik’, sebenarnya di saat yang sama, kita sedang mematikan potensi untuk melakukan hal-hal yang ‘hebat’. Singkatnya, hal-hal ‘baik’ adalah normatif, tetapi melakukan suatu ‘kehebatan’ itu adalah suatu hal yang extraordinary. Itulah barangkali mengapa sedari kecil kita diajarkan dengan pameo “gantungkan cita-citamu setinggi langit”.

Jika dalam Bahasa Inggris, hebat seringkali disebut sebagai ‘great’, maka di Palopo, hebat itu kita sebut dengan ‘pore’. Karena menunjukkan kualitas di atas rata-rata, hebat atau pore juga mengandung makna sesuatu yang patut untuk dibanggakan. Ia cenderung ekslusif, dan berstandar tinggi. Inspirasi inilah yang kemudian dibangun oleh Wali Kota Palopo ketika memberikan sambutan pada launching Palopo TV saat itu. Ia mengatakan bahwa bukan hanya Palopo TV yang harus hebat, tetapi Kota Palopo juga harus pore! Masyarakat kita harus memiliki kualitas hidup di atas rata-rata. Harus ada standar yang tinggi untuk mewujudkan Palopo Pore!

Memang bukan sekadar khayalan. Palopo zaman dahulu adalah bandar Tana Luwu. Palopo menguasai perdagangan rotan, pengatur lalu lintas komoditas kopi, pengekspor senjata tajam terbaik di Hindia Belanda, dan produsen kerajinan berbahan dasar hasil hutan lainnya. Gubernur Celebes tahun 1889, Morris, menuliskan bahwa kapal-kapal Palopo menguasai pelayaran dagang di bagian utara Teluk Bone. Berangkat dari dokumen Morris itulah maka tak salah jika kita mengatakan bahwa Palopo memang pore di zamannya.

Tentu kita tidak boleh larut dalam nostalgia masa lalu. Hari ini kita harus bisa lebih berprestasi dibanding zaman Morris. Palopo pore hanya bisa dicapai jika semua bahu membahu melakukan ikhtiar membangun kota ini. Tentu sesuai dengan peran masing-masing. Pemimpin bekerja dengan standar tinggi, dan masyarakat memacu diri menjadi masyarakat yang modern. Palopo pore bisa menjadi semangat untuk menggerakkan semua elemen masyarakat. Kita harus tularkan pikiran positif ini kepada seluruh aparat-aparat pemerintahan untuk lebih berprestasi. Palopo pore harus menjadi identitas bagi anak-anak muda Palopo untuk bergerak dengan kepercayaan diri yang besar atas potensi mereka. Saatnya memang seluruh elemen turun tangan membangun Palopo. Wali Kota sudah membuka pintu untuk berdiskusi dengan semua kalangan.

Palopo pore adalah impian kita. Sepintas. tagline ini memang hampir mirip dengan tagline Indonesia Hebat milik salahsatu pasangan capres-cawapres! Namun, itulah memang idealnya. Palopo memang harus tetap unggul dibanding kota-kota yang lain. Oleh karena itu, sudah siapkah anda ikut bagian dalam agenda besar Palopo Pore ini? Kalau anda tidak siap, berarti anda akan menjadi penonton saja…

Iklan

Mapappe’

Tak banyak (atau mungkin tidak ada) yang tahu persis sejarah munculnya kata ini. Namun, saya yakin, seperti kata-kata ‘aneh’ lainnya di masyarakat Palopo (khususnya remaja), pasti kata ini dipopulerkan oleh seseorang dalam waktu tertentu dan diadopsi oleh kelompok atau pribadi-pribadi latah. Yang jelasnya, dalam lirik lagu “ABG Palopo” (yang saya anggap kritik sosial), kata ini muncul. Hal ini tentu menjadi justifikasi bahwa, kata ini secara umum telah diterima dan dipahami oleh masyarakat Palopo dan sekitarnya.

Mapappe’ sendiri, dalam pengucapannya, kadang ada yang menyebutkan dengan Mappappe’. Gak tahu yang mana yang benar, karena kata ini sendiri memang belum dikaji secara ilmiah. Begitu pula dengan bahasa-bahasa keseharian masyarakat Palopo, yang cenderung membentuk karakter tersendiri. Kalaupun ada yang meneliti, mungkin publikasinya yang kurang bergema. Karakter bahasa (atau apalah terminologinya dalam disiplin ilmu humaniora) keseharian masyarakat Palopo sendiri, cenderung mencombine antara Bahasa Indonesia, Bugis, Luwu dan pure Palopo language . Dan saya berasumsi bahwa, mapappe’ atau mappappe’ ini adalah terkategori pada pure Palopo language. Mapappe’ satu kelompok dengan kata seperti “bah” atau “bi”. Kata atau partikel “bah” sendiri konon tidak dimiliki oleh daerah lain di Sulawesi Selatan. Yang saya tahu, cuma orang Batak saja yang juga menggunakan kata Bah ini. Bah sendiri menurut saya mirip-mirip dengan kata atau partikel “lo” di Sinjai, “je’” di Sidrap, atau mungkin juga kata “kora” di Luwu bagian selatan. Bah sendiri tidak ditemukan di bahasa Bugis dan Luwu. Beda dengan kata atau partikel akhiran “e” atau kata “bammi” yang ditemukan di bahasa Bugis dan partikel “le’” yang ditemukan di bahasa Luwu. Le’ sendiri kini menjadi ciri khas orang Palopo (dan juga Luwu umumnya).

Kalau bah cenderung terkategori menjadi partikel bias makna, maka Mapappe’ tadi cenderung tergolong sebagai suatu kata yang bermakna. Mapappe’ atau mappappe’ dapat dimaknai sebagai bagus, cantik, gagah, indah atau sesuatu yang ideal. Di masyarakat Palopo (khususnya remaja), saya sering mendengar kalimat: “Mappappe’ mi kawan!”, yang berarti: “Sudah bagus, kawan!” dalam konteks situasi seseorang remaja yang mengakhiri kegiatan memperbaiki motor sahabatnya. Atau kalimat: “Bi…mapappe’nya!” (arti: Wow, cantiknya!) dalam konteks situasi seorang remaja pria yang mengagumi kecantikan (atau keseksian) seorang cewek.

Demikianlah, mappappe’ atau mapappe’ secara umum hanya digunakan di kalangan remaja. Saya berkesimpulan bahwa, kata mapappe’ atau mappappe’ ini adalah bahasa gaul remaja Palopo. Sehingga pula kata ini dipakai dalam lirik lagu kritik “ABG Palopo”, yang notabene target marketnya adalah remaja. Olehnya itu, jangan heran jika kelak 5 hingga 10 tahun mendatang, mappappe’ atau mapappe’ bakal ditinggalkan oleh remaja Palopo. Alasan sederhanya karena, mereka menganggap kata ini adalah ‘teori kebahasaan gaul’ lawas. Yang tumbuh dan berkembang di generasi sebelum mereka, generasi jadul!. Sehingga tidak cocok lagi digunakan di era mereka. Ya, kan? Kapeng…