Melihat Andi Djemma di Taman Swimbath

Kita akhirnya bisa menyaksikan wajah Andi Djemma dalam rupa 3 dimensinya. Pagi tadi, bersamaan dengan peresmian Taman Swimbath Latuppa, patung Datu Luwu Ke-35 ini akhirnya dipajang di sana. Patungnya terbuat dari beton, berlapis cat warna perunggu karya Jendrik Pasassan, seniman asal Makassar. Ia tampak mengenakan jas tutup dengan hiasan jam saku di sebelah kirinya.

Selain di Taman Swimbath Latuppa, patung Andi Djemma juga hadir di Anjungan Pantai Losari. Sayangnya, pahlawan nasional ini berada paling ujung, di deretan para “pahlawan” Sulsel tersebut. Untuk melihat dengan lebih detail, Anda harus berjalan lebih jauh ke arah timur.

Demikianlah mungkin, mengapa posisi patungnya di taman Swimbath Latuppa berada paling depan. Ia memunggungi Ir. Soekarno dan Opu Daeng Risadju yang juga hadir di sana. Ia ingin lebih ditonjolkan di taman senilai 4,3 Miliar ini.

Andi Djemma adalah pahlawan sebenar-benarnya. Dari sejarah kita membaca kiprahnya, meninggalkan istana dan masuk hutan bersama pasukan, gerilya menghadapi penjajah. Di pergaulan raja-raja Nusantara, ia bahkan menggagas komitmen setia berdiri di belakang Proklamasi 1945. Takhtanya ia serahkan kepada republik. Dan, tak banyak yang tahu, bahwa akhir hayat Andi Djemma berakhir dalam kesederhanaan. Ia hanya menumpang di rumah mertuanya di Bongaya, Makassar.

Tujuh puluh satu tahun sudah, kita hidup dalam suasana kemerdekaan. Zwembad yang dibangun oleh Belanda, kini telah berganti nama menjadi Kolam Renang Swimbath dalam arti yang sama. Andi Djemma telah dimakamkan di TMP Panaikang dan kisahnya ditulis dalam berbagai buku. Kita yang hidup saat ini hanya bisa mengingat-ingat namanya dari patung, jalan dan bandara yang hanya ada di wilayah Tana Luwu. Sayangnya, tak satupun dari kita, dan lebih-lebih pemimpin kita, setia dengan jalan hidup yang dipilih Andi Djemma. Hidup sederhana, dengan prinsip keadilan, kejujuran, kebenaran dan ketegasan.

Saudara, dari patungnya di Taman Swimbath ini, Andi Djemma mengirim pesan kepada kita. Andi Djemma memang sudah mati dalam kemerdekaannya, tapi masih berjuang mengajarkan empat prinsip tadi: adele, lempu, tongeng dan getteng.

Duhai warga Palopo, wahai para pemimpin, banyak-banyaklah belajar sejarah!

 

Palopo, 10 September 2016

Profil Singkat Datu Luwu Ke 40

Andi Maradang Mackulau Opu Daeng Bau: Perjuangan Belum Selesai

Arengkalinga manekko tomaegae lilina Luwu, limpona Ware. Leleni ripammasena Allah taala Datue ri Luwu. Tennatiwi adatungenna, tennasellureng roalebbong alebirenna. Naiya selengngai silessurenna riasengnge Andi Maradang Mackulau Opu Daeng Bau.

Demikianlah prosesi pengumuman penasbihan Datu Luwu XL kepada Andi Maradang Mackulau pada akhir Desember 2012 lalu. Andi Maradang menggantikan kakaknya, Andi Luwu Opu Daengna Patiware Petta Mattinroe Ri Alebirenna, yang mangkat dua hari sebelumnya.

Di kalangan keluarga istana, Andi Maradang bukanlah orang asing. Ia merupakan putera dari Andi Mackulau Opu Daeng Parebba, anak kandung Andi Djemma dari perkawinan dengan istri pertamanya, Andi Kasirang. Namun karena kiprah dan sepak terjangnya lebih banyak dihabiskan di Jakarta dan Yogyakarta, maka masyarakat Palopo secara umum masih belum familiar dengan Datu Luwu yang berusia 56 tahun ini.

Datu Luwu XLAndi Maradang Mackulau Opu Daeng Bau’ lahir di Makassar pada tanggal 17 Desember 1957. Masa kecil beliau dihabiskan di Makassar dan Jakarta. Andi Maradang meniti jenjang pendidikan dasar di Makassar dan ketika menginjak Kelas 6, ia hijrah ke Jakarta. Ketika masih di Makassar, Andi Maradang mengisahkan bahwa dirinya sering disuruh orangtuanya untuk membawakan uang belanja kepada kakeknya, Andi Djemma. “Andi Djemma papoatae itu orangnya sangat sederhana. Di mana-mana, seorang Raja biasanya kaya raya, punya banyak harta, menguasai banyak tanah dan hidup dalam kemewahan. Tapi tidak dengan kakek saya (Andi Djemma). Dia tidak punya rumah. Almarhum hanya numpang di rumah mertuanya di Makassar”, kenang Andi Maradang.

Demikian pula dengan orangtua Andi Maradang. Ayahnya mewarisi sifat kakeknya yang memilih hidup sederhana. Baginya, kemuliaan tidak diukur dengan limpahan harta dan tahta. Oleh karena prinsip itulah maka Andi Maradang mengaku tidak disiapkan oleh orangtuanya untuk menjadi seorang ‘bangsawan’, lebih-lebih lagi untuk memangku jabatan Datu Luwu.

“Orangtua saya sangat moderat. Ia tidak membentuk kami menjadi bangsawan, birokrat apalagi berharap menjadi Datu di Luwu. Bahkan dalam urusan pernikahan-pun, kami dibebaskan untuk menikah dengan siapa saja. Beliau hanya menyaratkan untuk tidak berbeda agama. Jadilah saya mempersunting wanita Yogyakarta pada tahun 1983”, kata Andi Maradang.

Tahun 1969, ayahnya mengirim Andi Maradang ke Jakarta. Alasannya Baca lebih lanjut