Mencintai Palopo Lewat Kaos Oblong

kaosPernah dengar virus K yang sedang menjangkiti bangsa kita akhir-akhir ini? Kalau anda sering membaca koran Kompas dan update portal yang ini, saya yakin anda pastilah sudah kenal betul tentang virus K. Yup, virus K adalah virus Kreatif! Sejak 2009, bersamaan dengan diluncurkannya Gerakan Indonesia Kreatif, virus ini disebar secara massif ke seluruh pelosok tanah air. Karena penetrasinya begitu agresif, maka kemudian banyak anak-anak muda yang semakin membanggakan, mencintai, membeli dan mendukung produk dalam negeri. Paralel dengan itu, makin banyak pula orang Indonesia yang intuitif, inovatif, imajinatif, dan inspirasional. Mereka-mereka inilah yang menjadi aktor utama mengaktualkan virus K. Hasilnya, industri kreatif menjelma menjadi masa depan ekonomi Indonesia.

Palopo demikian pula saya pikir. Ekspansi virus K sudah sampai di kota kecil ini. Dari penelitian saya saja (waktu nyusun skripsi bulan Agustus lalu), paling tidak di Palopo sudah ada Baca lebih lanjut

Peluang Ekonomi Kreatif di Palopo

Pernahkah anda menonton pertunjukan teater dengan lakon cerita Sawerigading atau I La Galigo di kota ini? Kalau tidak, berarti ada satu peluang ekonomi gelombang keempat (setelah ekonomi pertanian, industry dan informasi) yang luput untuk kita kembangkan. Olehnya itu, saat ini marilah kita bicara tentang ekonomi kreatif, yang mengakomodir peluang meraup keuntungan dari warisan budaya kita sendiri itu.


Keunikan budaya Indonesia saat ini menjadi modal besar untuk pengembangan ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif merupakan kajian system ekonomi kontemporer yang pada perkembangannya membuat industry-industri yang berbasis kreatifitas, talenta atau keterampilan. Oleh karena diyakini mampu menciptakan tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan, maka Presiden SBY pun gencar mengampanyekan untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia sejak medio 2007 lalu.


Pemerintah sebenarnya agak lelet menginsyafi akan besarnya potensi ekonomi kreatif di negeri ini. Kita baru sadar ketika motif perhiasan perak Bali nyaris dicaplok pengusaha Kanada, Kopi Gayo dan Kopi Toraja yang dipatenkan oleh Belanda, batik diakui sebagai warisan budaya Malaysia, dan bahkan Teater La Galigo yang dibawakan oleh orang Amerika. Sebenarnya, bukan hal-hal tentang budaya saja yang masuk sector industry kreatif. Paling tidak, ada 14 sektor-sektor kreatif seperti periklanan; arsitektur; pasar seni dan barang antic; kerajinan; disain; fesyen; video-film-fotografi; permainan interaktif; music; seni pertunjukan; penerbitan & percetakan; layanan komputer dan piranti lunak; televisi & radio; sera riset dan pengembangan (R&D), yang menjadi focus pengembangan di Indonesia. Konon, sector-sektor tersebut mampu menyerap 5,4 juta pekerja dengan tingkat pertumbuhan sebesar 17,6 persen di tahun 2006.


Tawaran Agenda

Lantas, agenda apa yang perlu menjadi perhatian kita? Mari tinggalkan sejenak konsep-kosep bias tentang ekonomi kerakyatan yang selama ini menjadi tema pidato, sambutan bahkan kampanye pejabat-pejabat kita. Untuk masuk ke area ekonomi kreatif local, atau industry kreatif di Palopo, perlu disadari bahwa saat ini memang telah terjadi pergeseran orientasi ekonomi dari pertanian-industri-informasi ke fenomena ekonomi berbasis ide atau kreatifitas. Generasi baru pelaku kreatifitas di Palopo, tanpa disadari telah lahir dan Baca lebih lanjut