MDI

Saya pertama kali mendengar sepak terjang Marwah Daud Ibrahim (MDI) dari ayah saya. Saat masih aktif sebagai PNS Departemen Transmigrasi & PPH, ayah saya mendapat kesempatan belajar dari MDI saat bertugas di Desa Binturu, Kecamatan Larompong, Kabupaten Luwu. Di desa tersebut, dengan Prof A Amiruddin, MDI mendirikan Yayasan Sinergi Karya. Pada saat yang sama, ayah saya menjadi Kepala Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) di tempat tersebut, me-manage penempatan transmigran yang dominan berasal dari Jawa Timur.

MDI banyak memberi warna bagi Desa Binturu. Daerah ini berada di perbukitan sebelah barat daya perbatasan Kabupaten Luwu dengan Kabupaten Sidrap. Sepengetahuan saya, Yayasan Sinergi Karya ini adalah lembaga pemberdayaan masyarakat yang fokus pada pengembangan teknologi tepat guna (TTG). Melalui yayasannya, MDI membangun jembatan, kompleks perkantoran, laboratorium, villa, helipad dan melengkapi dengan pembangkit listrik (yang sebagian dayanya disalurkan bagi warga desa). Di Desa Binturu, yayasan ini fokus dalam pengembangan TTG ulat sutera. Karena kiprah yayasan yang concern mengembangkan ulat sutera inilah, maka Desa Binturu juga dikenal sebagai Bukit Sutera.

MDI sering menghadirkan orang-orang penting bertandang di Yayasan Sinergi Karya. Melakukan seminar, penelitian, pelatihan atau sekadar studi banding. Yang saya ingat pada 1996, ia memboyong rombongan Pangdam VII Wirabuana dengan helikopter di pedalaman Larompong-Luwu itu. Singkatnya, yayasan ini memberi dampak positif bagi Binturu. Ia ditulis dalam jurnal-jurnal ilmiah mengenai model pemberdayaan masyarakat dan pengembangan teknologi persuteraan alam.

Waktu berlalu, saya tak pernah lagi mendengar kabar yayasan milik MDI ini. Kisah MDI hanya kita ikuti dari layar kaca, yang mengabarkan cerita dari ibukota. MDI tampak sibuk di gedung DPR/MPR. Pencapaian paling tingginya, MDI menjadi bakal calon wakil presiden dari KH Abdurrahman Wahid. Pasangan ini kemudian dinyatakan tak lolos persyaratan untuk ikut bertarung di Pilpres 2004 oleh KPU.

Banyak kekaguman saya terhadap MDI yang seorang akademisi-politisi itu. Saya membaca dengan baik buku karangannya yang terbit tahun 2003: Mengelola Hidup & Merencanakan Masa Depan (MHMMD). Buku ini menurut saya sangat applicable, memandu anak-anak muda merencanakan masa depannya. Di kemudian waktu, saya yang besar di Palopo baru tahu bahwa ada training mengenai MHMMD yang dibawa langsung oleh MDI.

Salah satu poin penting dalam MHMMD adalah peta hidup yang berisi target dan langkah pencapaian rencana. Saya menduga-duga, banyak target dan rencana MDI yang meleset dari peta hidupnya. Kegagalan menjadi cawapres misalnya, bisa mengindikasi adanya simpangan dari peta hidup MDI. Targetnya tidak tercapai, dan sejatinya harus ada penyesuaian pada peta hidupnya.

Sayangnya, dua pekan terakhir, kisah MDI hadir kembali dengan dibonceng oleh kisah buruk Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Ia konon menjadi pimpinan di yayasan padepokan taat pribadi, yayasan yang sama sekali berbeda visi-misinya dengan Yayasan Sinergi Karya yang dirintis MDI bersama Prof A Amiruddin di Bukit Sutera, Desa Binturu, Kecamatan Larompong, Kabupaten Luwu.

MDI keukeh dengan gerakannya bersama Taat Pribadi, meski harus menjadi bahan celaan di televisi dan media sosial. MDI tampaknya telah menyusun peta hidupnya yang baru, yang telah direvisinya dari peta hidup sebelumnya. Ia memiliki tujuan hidup yang baru yang kini dijalaninya dengan konsisten sebagaimana konsistennya ia dengan peta hidupnya yang dulu.

Bagi kita yang telanjur menaruh harapan besar atas masa depan MDI kembali ke jalan yang benar, cukuplah doakan agar kebaikan semoga selalu tercurah kepadanya. Mencemooh pun tak ada guna. Ini seperti menasihati orang yang lagi jatuh cinta, kepala batunya minta ampun. MDI kini tetap berjalan mengejar tujuan hidupnya yang sudah ia susun. Sebagai wanita Bugis,ia memang meyakini falsafah “sebelum berangkat tiba dulu, sebelum mulai selesai dulu”. Dan kini ia sudah dalam perjalanan…

Titi DJ, Bu Marwah! Hati-hati di jalan…

Melihat Andi Djemma di Taman Swimbath

Kita akhirnya bisa menyaksikan wajah Andi Djemma dalam rupa 3 dimensinya. Pagi tadi, bersamaan dengan peresmian Taman Swimbath Latuppa, patung Datu Luwu Ke-35 ini akhirnya dipajang di sana. Patungnya terbuat dari beton, berlapis cat warna perunggu karya Jendrik Pasassan, seniman asal Makassar. Ia tampak mengenakan jas tutup dengan hiasan jam saku di sebelah kirinya.

Selain di Taman Swimbath Latuppa, patung Andi Djemma juga hadir di Anjungan Pantai Losari. Sayangnya, pahlawan nasional ini berada paling ujung, di deretan para “pahlawan” Sulsel tersebut. Untuk melihat dengan lebih detail, Anda harus berjalan lebih jauh ke arah timur.

Demikianlah mungkin, mengapa posisi patungnya di taman Swimbath Latuppa berada paling depan. Ia memunggungi Ir. Soekarno dan Opu Daeng Risadju yang juga hadir di sana. Ia ingin lebih ditonjolkan di taman senilai 4,3 Miliar ini.

Andi Djemma adalah pahlawan sebenar-benarnya. Dari sejarah kita membaca kiprahnya, meninggalkan istana dan masuk hutan bersama pasukan, gerilya menghadapi penjajah. Di pergaulan raja-raja Nusantara, ia bahkan menggagas komitmen setia berdiri di belakang Proklamasi 1945. Takhtanya ia serahkan kepada republik. Dan, tak banyak yang tahu, bahwa akhir hayat Andi Djemma berakhir dalam kesederhanaan. Ia hanya menumpang di rumah mertuanya di Bongaya, Makassar.

Tujuh puluh satu tahun sudah, kita hidup dalam suasana kemerdekaan. Zwembad yang dibangun oleh Belanda, kini telah berganti nama menjadi Kolam Renang Swimbath dalam arti yang sama. Andi Djemma telah dimakamkan di TMP Panaikang dan kisahnya ditulis dalam berbagai buku. Kita yang hidup saat ini hanya bisa mengingat-ingat namanya dari patung, jalan dan bandara yang hanya ada di wilayah Tana Luwu. Sayangnya, tak satupun dari kita, dan lebih-lebih pemimpin kita, setia dengan jalan hidup yang dipilih Andi Djemma. Hidup sederhana, dengan prinsip keadilan, kejujuran, kebenaran dan ketegasan.

Saudara, dari patungnya di Taman Swimbath ini, Andi Djemma mengirim pesan kepada kita. Andi Djemma memang sudah mati dalam kemerdekaannya, tapi masih berjuang mengajarkan empat prinsip tadi: adele, lempu, tongeng dan getteng.

Duhai warga Palopo, wahai para pemimpin, banyak-banyaklah belajar sejarah!

 

Palopo, 10 September 2016

Resensi Buku Kartini dari Tana Luwu

Buku Hj Siti Ziarah MakkajarengBuku “Hajjah Siti Ziarah Makkajareng: Kartini dari Tana Luwu (Pejuang Pendidikan dan Pemerhati Perempuan)” karya Ria Warda ini membagi tiga poin besar mengenai kisah Siti Ziarah Makkajareng. Bagian pertama adalah tentang latar belakang keluarga, kemudian sepak terjang dan pemikiran, serta bagian terakhir adalah mengenai kepemimpinan Ziarah.

Siti Ziarah Makkajareng adalah tokoh pendidikan Tana Luwu yang sangat sentral perannya. Ia menjadi sangat menarik untuk diulas karena merupakan perempuan yang secara konsisten mengabdikan dirinya memamujukan pendidikan di Palopo dan Tana Luwu secara umum. Di tengah hegemoni peran laki-laki pada zamannya, ia tampil dengan ide-ide pembaruan khususnya dalam pendidikan yang inklusif, yakni memberi ruang dan kesempatan yang sama bagi perempuan Tana Luwu.

Terlahir dari keluarga bangsawan Luwu, Ziarah memilih untuk lebih egaliter dengan membangun kehidupan sosial yang tanpa jarak dengan siapa saja. Bapaknya adalah Andi Makkajareng Opu Tosessu dan ibunya adalah Andi Mudhara Opu Daengnna Maddutana. Namun demikian, ia memilih menghilangkan gelar “Andi” di depan namanya. Ziarah kecil belajar mengaji dari KH Daud dan banyak menimba ilmu agama dari KH Hasyim yang kedua-duanya merupakan sahabat bapaknya. Setelah lulus SGAI, Ziarah menimba ilmu di Yogyakarta dan mendapatkan gelar kesarjanaannya dari IAIN Sunan Kalijaga. Gelar “Doktoranda” yang diraihnya sekaligus menjadikan dirinya sebagai perempuan sarjana pertama di Tana Luwu pada akhir tahun 60-an. Dari gelar inilah kemudian, panggilan Opu Anda melekat kepada Ziarah, yang merupakan kependekan kata Doktoranda.

Sepak terjang Ziarah dalam buku ini diulas dalam beberapa bab yang keseluruhannya hingga mencapai 82 halaman. Bagian ini merupakan pembahasan paling banyak dalam struktur buku ini. Sepak terjang Ziarah dideskripsikan oleh penulisnya mulai dari merintis taman pendidikan Alquran, taman kanak-kanak, sekolah kejuruan (SKKA) hingga perguruan tinggi pertama di Tana Luwu, bahkan sampai kiprah Ziarah di legislatif. Dari uraian-uraian yang digambarkan di buku ini, kita dapat merasakan perjuangan Ziarah bersama para tokoh lainnya saat awal-awal merintis sejumlah institusi pendidikan penting di Kota Palopo.

Kepemimpinan Ziarah diungkap di bab-bab akhir buku ini. Ia digambarkan sebagai seorang demokrat yang karismatik. Ziarah merupakan tipikal pemimpin yang mengambil keputusan melalui diskusi dan musyawarah, mengutamakan kerja sama dan pembangun tim yang baik. Ia memiliki visi yang konkrit dan kemampuan komunikasi yang baik. Oleh karena kemampuan itu, ia memiliki wibawa dan daya tarik yang kuat bagi orang-orang yang ditemuinya.

Diperkaya dengan cerita-cerita seputar pembangunan Palopo dan Tana Luwu di zaman orde baru, buku ini memberi kita informasi mengenai tokoh-tokoh sentral dalam dakwah Islamiah dan pengembangan pendidikan di daerah ini. Di buku ini, gambaran latar kejadian di balik perjalanan dakwah modern dan pendidikan di Palopo mendapat ruang yang besar. Gambaran tersebut merupakan sudut pandang orang pertama yang memang menjadi pelaku sejarah dan orang-orang terdekat Ziarah. Itulah yang menjadi salah satu keunggulan buku ini, kaya akan ‘ceritad dari orang pertama’ atau memaparkan data primer dari narasumber yang tepat.

Buku setebal 196+xxiv ini diterbitkan oleh CV Mitra Mandiri Persada – Surabaya tahun 2015 lalu. Buku ini memiliki catatan kaki (footnotes) hingga 277 buah yang memberikan informasi yang lebih detail, sekaligus memberikan ketidaknyamanan bagi pembacanya. Kekurangan lain dari buku ini adalah tidak adanya komparasi antara sepak terjang Ziarah dengan pokok-pokok pemikirannya. Hal ini disebabkan karena penulis mengalami kesulitan mendapat dokumentasi tulisan-tulisan Ziarah selama menjadi akademisi. Terlepas dari kekurangan tersebut, mengasosiakan Siti Ziarah Makkajareng dengan Kartini tidaklah berlebihan. Kedua tokoh ini, baik Kartini maupun Ziarah, sama-sama memperjuangkan perempuan dan pendidikan pada zamannya.

Dari kisah Ziarah di buku ini, kita bisa mengambil pesan positif mengenai pembangunan sumber daya manusia yang harus dibangun melalui lembaga pendidikan dan lembaga keluarga (dimana ibu atau perempuan menjadi kuncinya). Buku ini menjadi penting dibaca oleh tenaga pendidik atau akademisi, para muballig dan muballigah, pemerhati perempuan, para pelajar dan mahasiswa, sejarawan, bahkan warga Tana Luwu secara umum. (zhf)

Sejarah Kecil & Kebudayaan Sagu Tana Luwu

image

Kebudayaan sagu memang telah merentang panjang sejarahnya. Di Tana Luwu sagu disebut tawaro atau tabaro. Di Jawa, orang menyebut nasi sebagai ‘sego’ yang awalnya adalah sagu. Demikian pula orang Sunda jika menyebut nasi sebagai ‘sangu’, yang juga berawal dari sagu. Bahkan, di relief Candi Borobudur pun, konon pohon sagu pun ikut digambarkan.

Sejak dahulu, Tana Luwu memiliki lahan pertanian yang luas. Namun demikian, perhatian terhadap lapangan pekerjaan di sektor pertanian tidak begitu diseriusi, khususnya dalam menanam padi dan jagung. Hal ini diakibatkan karena Tana Luwu ditumbuhi oleh banyaknya tanaman sagu. Masyarakat umum di Tana Luwu menjadikan sagu sebagai makanan pokok. Padi saat itu menjadi makanan ekslusif bagi keluarga-keluarga pembesar.

Sagu juga menjadi salah satu alasan perpindahan pusat pemerintahan Kerajaan Luwu ke Pattimang, Malangke. Bulbeck et al (2006) menuliskan hipotesisnya bahwa salah satu faktor yang mendorong pemindahan ibukota kerajaan Luwu ke Pattimang adalah karena potensi agrikultur bagi produk sagu di daerah tersebut. Menurutnya, daerah Pattimang akan menjadi daerah kosmopolit dengan populasi penduduk yang besar. Diperkirakan oleh Sumantri et al (2006), pada abad XVI penduduk Pattimang mencapai 14.500 jiwa. Dengan demikian maka kebutuhan atau permintaan sagu juga besar. Oleh karena itu, menurut Bulbeck, daerah Pattimang tersebut dinilai mampu menyuplai kebutuhan sagu warga ibukota Kerajaan Luwu tersebut. 

Dari fakta tersebut, selain menegaskan bahwa saat itu makanan pokok masyarakat Luwu adalah sagu, hal lain yang dapat menjadi perhatian adalah bahwa komoditas sagu merupakan salah satu kekayaan sumber daya alam Tana Luwu selain rotan, madu, lilin, damar dan kayu yang merupakan sumber penghasilan yang (sepertinya) tidak pernah habis (Sarjiyanto, 2000).

Sagu menjadi komoditas andalan Tana Luwu zaman dahulu kala. Data Gubernur Celebes pada tahun 1888, pelabuhan Palopo mencatatkan ekspor sagu kurang lebih sebanyak 15.000 pikul.

Dalam laporan Braam Morris (1888), tujuan ekspor komoditas sagu Luwu salah satunya adalah ke Singapura. Perdagangan sagu ini dilakukan oleh orang-orang Arab, Cina, Makassar dan Bugis. Kapal-kapal mereka berasal dari Singapura, Pontianak, Wajo dan Makassar. Mulai tahun 1886, produksi sagu dan komoditas lainnya mengalami peningkatan. Jumlah kapal yang berlabuh di Palopo pun meningkat dari 7 kapal per tahun, menjadi 12 kapal per tahun.

Selain memasok tepung sagu, masyarakat Luwu saat itu juga mengolah sagu menjadi barang kerajinan, seperti atap rumbia dan keranjang dari pelepah pohon sagu.

Kebiasaan mengolah dan memiliki kekayaan sumber daya sagu di Tana Luwu juga menurunkan produk budaya berupa sambe. Alat atau perkakas ini berbentuk mirip kapak yang digunakan saat menghancurkan isi batang sagu. Kegiatan mengolah atau memproduksi tepung sagu sendiri disebut massambe. Menurut Anwar (2007), dengan melihat bentuk dan cara pembuatan, sambe sendiri kemungkinan besar merupakan turunan dari budaya teknologi neolitik. Kemiripan tersebut dapat dilihat dari segi bentuk alu, gagang, serta cara dan model ikatan.

Selain sambe, hadir pula balabba atau balebbe, sebagai salah satu turunan kebudayaan sagu Tana Luwu. Balabba adalah anyaman dari daun sagu berbentuk tabung tempat menyimpan tepung sagu basah. Sagu yang disimpan di balabba dapat bertahan hingga 3 bulan jika kelembabannya terjaga dengan baik. Balabba dengan diameter 50 cm dan tinggi maksimal 80 cm dapat berisi 15-40 kg sagu basah.

Sagu telah mewarnai kebudayaan masyarakat di Tana Luwu. Dari sekadar kebutuhan makanan pokok, hingga memengaruhi aktifitas ekonomi dan bahkan politik kewilayahan. Pada akhirnya, kita berharap komoditas ini tidak lagi menjadi daftar panjang artefak kebudayaan Luwu yang tak terlihat lagi wujudnya. Kita tidak ingin, sagu Luwu mengikuti jejak sagu Jawa yang kini hanya bisa dinikmati di relief-relief Candi Borobudur.

Di samping alasan diversifikasi dan ketahanan pangan, atas dasar latar budaya ini pula, menjadi patut-lah bagi kita untuk tetap menjaga lestarinya sagu di Tana Luwu. Sambe kini mungkin sudah termodifikasi menjadi perkakas yang lebih modern, dan balabba mungkin sudah berganti dengan tupperware, tapi citarasa kapurung berbahan dasar sagu, tak bisa tergantikan oleh sekadar tepung kanji, saudara!

Panjang umur, sagu Luwu…

Foto: http://www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2015/05/Sagu-2.jpg

Membumikan Etos Reso

image

Setiap memperingati Hari Jadi Luwu (HJL) dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL), saya kerapkali teringat dengan film The Last Samurai. Dikisahkan di film itu, Kaisar Meiji di Jepang berpidato di hadapan seorang samurai bernama Tokugawa dan pembesar istana lainnya. Ia menyampaikan bahwa Jepang boleh saja maju dengan teknologi mutakhirnya, tapi orang Jepang tidak boleh sekali-kali melupakan asal muasal-nya sebagai manusia yang berbudaya. Inilah salah satu tonggak Restorasi Meiji yang amat terkenal, yang kemudian membawa Jepang menjadi salah satu negara yang berpengaruh secara ekonomi.

Kemampuan Jepang menggerakkan ekonomi melalui pendekatan kebudayaan adalah suatu model yang patut untuk diduplikasi. Ajaran Bushido dan Kaizen yang dimiliki manusia Jepang, kini menjadi referensi dalam teori-teori manajemen. Ajaran Bushido mengajarkan tentang kerja keras, etika, loyalitas, disiplin, kerelaan berkorban,  ketajaman berpikir dan beberapa nilai-nilai yang lain. Sedangkan Kaizen, mengarahkan kita untuk melakukan perubahan positif secara terus-menerus. Namun jangan salah, ternyata pendahulu-pendahulu kita, leluhur masyarakat Luwu, di zaman lampau juga mewariskan nilai-nilai positif seperti itu.

Adalah cendekiawan To Maccae Ri Luwu yang secara cermat menjelaskan kepada kita bentuk-bentuk ideal manusia Luwu. Jika disimak secara seksama, inti amanahnya adalah tentang kejujuran, kebenaran, keadilan dan ketegasan. Oleh karena itu, sadarkah kita bahwa untuk membangun Luwu menjadi kawasan yang maju, penguatan integritas pada diri wija dan bija Luwu adalah salahsatu kunci yang penting?

Amanah lain To Maccae Ri Luwu yang diwariskan kepada La Baso To Akkarangeng adalah tentang ‘resep’ di balik kebesaran Luwu kala itu. Lagi-lagi, ia mengungkapkan tentang pentingnya manajemen sumber daya manusia dan penegakan hukum. Kata To Maccae Ri Luwu, untuk membesarkan Luwu maka harus ada takaran yang dipakai dan menjaga peradatan. Takaran ini adalah “tidak disuruh seseorang tidur pada suatu tempat jika tidak ia senang tidur padanya, tidak dibebani seseorang yang tidak disukainya, tidak disuruh seseorang membawa sesuatu yang tidak sesuai kemampuannya, tidak dikenakan pada seseorang dua beban yang berat, serta tidak disuruh mengerjakan dua pekerjaan yang sama”. Secara tekstual, amanah ini tentu amat filosofis. Namun secara sederhana, substansi amanah ini menunjukkan betapa pengelolaan pada variabel sumber daya manusia sekali lagi menjadi kunci untuk memajukan Luwu.

Manusia Luwu kini memang harus lebih bekerja keras. Sejalan dengan konsep Ayo Kerja-nya Jokowi, kitapun mengenal konsep ini sebagai ajaran Reso! Masih ingat dengan petuah “reso temmangngingngi malomoi naletei pammase dewata”?. Oleh Budayawan Rahman Arge, spirit ini disebutnya sebagai “etos reso”, sebuah budaya kerja manusia Sulawesi Selatan, di mana Luwu dianggap sebagai akarnya. Substansinya, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, yang mana hal itu memungkinkan turunnya berkah dari Tuhan.

Etos reso sejatinya menjadi spirit kita semua. Sebagai “wanua mappatuwo”, Tana Luwu ini memang dilimpahi anugerah sumber daya alam yang luar biasa kaya. Ia bersifat an sich. Namun demikian, frase ini selalu diikuti dengan “naewai alena”. Sadarkah anda, bahwa pada prinsipnya, “naewai alena” itu adalah sebuah etos reso? Ia adalah sebuah semangat untuk survive, daya hidup yang amat kuat, dan prinsip kemandirian yang amat tegas dari seorang wija dan bija Luwu. Sekali lagi, ini adalah doktrin untuk mengembangkan sumber daya manusia Luwu.

Di Hari Jadi Luwu Ke-748 dan HPRL Ke-70 ini, diperlukan upaya untuk mempertegas komitmen bekerja bersama-sama untuk kemajuan masyarakat Tana Luwu. IPM kabupaten/kota di Tana Luwu memang sudah menunjukkan peringkat yang cukup baik karena masuk dalam top 10 Sulawesi Selatan. Tantangan yang dihadapi sekarang adalah bagaimana memarelkan agar IPM ini juga diikuti dengan reduksi persentase kemiskinan di Tana Luwu. Data menunjukkan bahwa 2 kabupaten di kawasan ini masih memiliki persentase kemiskinan yang lebih tinggi dibanding rata-rata kabupaten/kota lain di Sulawesi Selatan.

HJL dan HPRL kita peringati kembali tahun ini di Luwu Timur, asal muasal Tana Luwu ini muncul. Pasang surut perjalanan sejarah Luwu yang memasuki tahun 748 ini, selalu dilalui dengan etos reso. Di dalamnya ada keyakinan bahwa inilah ‘wanua mappatuwo’, Luwu adalah harapan atas kehidupan yang lebih baik. Dengan pendekatan kebudayaan seperti ini, sense of belonging sebagai wija to Luwu sejatinya dapat didorong. Seperti halnya dengan Jepang, kita perlu kembali membuka-buka amanah pendahulu-pendahulu kita. Ia bisa menjadi referensi dalam membangun Tana Luwu, lebih khusus kepada manusia-manusianya. Belajarlah sejarah dan pahamilah budaya, sebab jika kehilangan keduanya, kamu akan kehilangan bagian dari dirimu sendiri. Begitulah kata sejarawan Anhar Gonggong.

Terakhir, dengan kesamaan identitas dan latar belakang sejarah, HJL dan HPRL juga sejatinya menguatkan kohesi seluruh wija to Luwu. To Maccae Ri Luwu mengatakan, mengenai kesatuan rakyat, ada delapan jenisnya yang disebut bersatu itu. Seiya sekata mereka dalam negeri, jujur mereka sesamanya, saling berkata benar di antara mereka, mereka saling memalui, dalam duka mereka bersatu dan dalam suka mereka bersatu, ke gunung sama mendaki dan ke ranah sama menurun, dan saling membenarkan menurut adanya. Akhirnya, mari bekerja bersama-sama. Kita semua punya beban moral untuk mengembalikan kebesaran Tana Luwu ini. Selamat Hari Jadi Luwu Ke-748 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu Ke-70. Selamat menikmati atraksi terjun payung dan Sukhoi di acara seremonialnya di Malili nanti. Tabe.