MEA, Kota dan Warga

Setahun ini, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menjadi topik bahasan di berbagai diskusi dan seminar. Kesimpulannya hampir seragam. Semua sepakat bahwa MEA adalah peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia.

Sejatinya, MEA adalah integrasi wilayah basis produksi dan pasar tunggal ASEAN. Namun demikian, sadarkah kita bahwa pada MEA, ada kompetisi di dalamnya. Bukan kompetisi Indonesia (sebagai negara) yang secara langsung berhadap-hadapan dengan negara ASEAN lainnya, tetapi persaingan sebenar-benarnya terjadi antar kota-kota di wilayah ASEAN.

Mengapa kota-kota mengalami persaingan? Hal ini disebabkan karena secara de facto, basis produksi tiap-tiap negara ada di daerah, baik itu kota maupun kabupaten. GDP suatu negara tidak mungkin tercatat jika aktifitas ekonomi di kota dan daerah tidak berjalan. Itulah mengapa, kota/kabupaten merupakan tulang punggung ekonomi nasional.

Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah, maka dibutuhkan investasi. Beberapa daerah memiliki kapasitas fiskal yang rendah untuk men-drive pertumbuhan ekonominya. Untuk alasan inilah, maka investasi sektor swasta diharap masuk ke daerah. Nah, untuk menggaet investor, maka dibutuhkan kreatifitas dan inovasi. Kota-kota di Indonesia harus berpikir ‘canggih’ untuk menyusun strategi menarik investasi. Canggih tak selamanya rumit. Dalam kajian city marketing, untuk memasarkan sebuah kota agar menarik di mata calon investor, cukup penuhi kebutuhan calon investor anda!

Di dalam MEA, ada ribuan kota yang menjadi pilihan para investor untuk menanamkan modalnya. Sudah siapkah Palopo untuk memenangi persaingan menarik investor dari negara-negara se-kawasan ini? Siap atau tidak siap, MEA sudah diberlakukan. Oleh karena itu, kekurangan yang ada harus segera dibenahi. Salah satu yang urgen adalah sumber daya manusia.

MEA is about people

Kota dengan SDM terampil lebih mampu mendorong ekonomi secara lebih dinamis. Dengan SDM yang terampil, maka akan lebih banyak inovasi yang tercipta. Dengan adanya inovasi, maka akan tercipta efisiensi dan efektifitas dalam produksi barang dan jasa. Muaranya, daya saing akan lebih baik. Kota yang banyak menghasilkan produk dan jasa yang inovatif, akan lebih menarik di mata investor sebagai basis produksi (bukan sekadar pasar).

Penguatan pada penyiapan SDM terampil ini perlu untuk lebih diperluas. Sejauh ini, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi & UMKM Kota Palopo melaksanakan tugas ini sudah lebih baik. Sejalan dengan itu, Dinas Pendidikan juga sudah mendorong kegiatan-kegiatan pendidikan non formal dan luar sekolah.

Namun, yang penting pula untuk diinsyafi dalam penyiapan SDM yang inovatif ini adalah perhatian pada kegiatan research and development (R&D) atau litbang. SDM Kota Palopo harus mulai diakrabkan dengan kegiatan-kegiatan R&D. Kalangan kampus dan Litbang Bappeda harus dilibatkan untuk menghasilkan riset dan produk/jasa yang inovatif. Kita tentu memimpikan lahirnya kelompok-kelompok peneliti-peneliti andalan Kota Palopo. Sumber daya durian, sagu, rumput laut, kakao, langsat dan rambutan perlu ‘disulap’ agar memiliki nilai tambah. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh sumber daya manusia terampil melalui riset-risetnya yang berkualitas.

Sumber daya manusia aparatur juga perlu mendapat penguatan dalam memasuki MEA ini. Kualitas layanan publik pemerintah diukur salah satunya pada profesionalitas sumber daya aparaturnya. Bukan soal harus menguasai bahasa asing, namun lebih kepada integritas, mental melayani dan pemahaman terhadap SOP.

MEA memang adalah kompetisi antar manusia dan kota. Peluang yang besar ini harus diraih dengan upaya yang sungguh-sungguh. Saatnya-lah membuka cakrawala berpikir secara global. Bukankah MEA adalah turunan dari globalisasi? Kata orang bijak, milikilah wawasan global dan bertindaklah secara lokal. Kalau tidak bekerja maksimal, pasti kota kita akan menyesal. Selamat memasuki era MEA!

Iklan

Citra Palopo: Durian, Kapurung & Labombo?

Foto by AntaraApa yang ada di benak warga Sulsel tentang Palopo? Jika kita bertanya demikian, sebagian besar akan menjawab: Durian! Di tempat kedua, ada yang menjawab Kapurung dan ada pula beberapa yang menyebut kemolekan cewek-cewek Labombo. Inilah image atau citra Palopo! Ia terbentuk atau berasosiasi di alam bawah sadar masyarakat tentang sebuah kota.

Sebuah kota membutuhkan citra karena 2 alasan, yakni karena alasan ekonomi dan alasan politik. Sebagai entitas ekonomi, sebuah kota harus mampu menarik investor dan pelaku bisnis masuk untuk berusaha dan menanamkan modalnya. Di lain pihak, sebuah kota juga harus mampu menarik wisatawan untuk datang berkunjung, menginap dan berbelanja. Sebagai entitas politik, kota memang harus melakukan diplomasi publik untuk mendukung promosi produk dan jasa yang dihasilkannya. Di samping itu, kota juga harus mampu mempertegas identitas dan jatidiri masyarakatnya.

Kota dengan citra positif akan lebih diperhitungkan dalam konteks persaingan dengan kota lainnya. Dalam MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) misalnya, kota harus memenangkan persaingan untuk mendapatkan sumber daya seperti uang, orang, pekerjaan dan pula perhatian. Tujuan tersebut akan lebih mudah dicapai jika Kota Palopo memiliki citra positif yang kuat, karena ia menjadi sebuah jaminan bagi pelaku bisnis dan investor serta turis akan kepastian atas kebutuhannya.

Dalam kajian ekonomi, kita mengenal County Of Origin Effect (COO Effect/efek negara asal). Efek COO menyatakan bahwa produk dari negara tertentu memiliki citra yang lebih baik dan asosiasi yang lebih kuat dalam arti positif. Asosiasi ini terbangun berkat citra yang dimiliki tempat, baik itu negara, region atau kota (Yananda, 2014). Singkatnya, ada keterkaitan antara tempat dengan produk. Mesin terbaik buatan Jerman atau Jepang, jam tangan terbaik berasal dari Switzerland, dodol terbaik berasal dari Garut, dan beras paling mantap berasal dari Cianjur. Namun demikian, untuk beras Cianjur, sejumlah besar komoditi yang ada di Cianjur justru didatangkan dari daerah penghasil beras lain untuk sekadar mendapatkan label beras Cianjur. Nah inilah gejala yang menunjukkan betapa citra sebuah kota mampu menjadi pengungkit bagi citra produk yang terkait dengan kota tersebut.

Seperti beras Cianjur, Durian Palopo mengalami Baca lebih lanjut

Membangun Daya Saing Kota Palopo

MEA 2015 memiliki konsekuensi terhadap kota-kota di Indonesia. Salah satunya adalah persaingan antarkota. Persaingan tersebut bukan hanya dalam membangun ekonomi masing-masing kota, melainkan persaingan dalam merebut pasar, merebut investor, menarik wisatawan, mendatangakan atau menciptakan tanaga kerja profesional, penguasaan teknologi dan sebagainya. Oleh karena ketat dan atraktifnya persaingan tersebut, maka tiap kota tentu harus punya daya saing.

Choe dan Roberts (2011) menulis dalam Competitive Cities In The 21st Century bahwa ada 6 (enam) penggerak dalam daya saing sebuah kota. Keenam penggerak tersebut adalah biaya melakukan bisnis, dinamika ekonomi lokal, SDM dan SDA, infrastruktur, unit pemerintah lokal yang responsif, dan kualitas hidup. Nah, Bagaimana dengan kondisi eksisting Kota Palopo dalam daya saing kota-nya? Kita sebenarnya punya pengalaman baik dalam hal daya saing kota ini. Pada tahun 2011, Kota Palopo termasuk salah satu kota hasil pemekaran (pasca pemberlakuan otonomi daerah) yang memiliki daya saing kota yang baik.

Setelah 2011, kita tentu harus mengevaluasi lagi posisi daya saing kita. dari aspek biaya melakukan bisnis misalnya. Masihkah ada keluhan di ruang kolom publik pada media cetak atau mention ke akun twitter Pemkot Palopo? Jika masih ada keluhan terkait adanya pungli dan ketidakpuasan terhadap layanan perizinan kita tentu hal tersebut harus segera dibenahi. Bukan hanya mengenai pungli, tentang alur perizinan yang tidak berbelit dan memakan waktu lama juga harus diputus. Prinsip efisiensi harus benar-benar dilaksanakan. Sepanjang ini, Kantor Pelayanan Terpadu (KPT) kita dipandang telah melakukan hal itu dengan baik. Salahsatu indikatornya adalah Baca lebih lanjut