Resensi Buku Kartini dari Tana Luwu

Buku Hj Siti Ziarah MakkajarengBuku “Hajjah Siti Ziarah Makkajareng: Kartini dari Tana Luwu (Pejuang Pendidikan dan Pemerhati Perempuan)” karya Ria Warda ini membagi tiga poin besar mengenai kisah Siti Ziarah Makkajareng. Bagian pertama adalah tentang latar belakang keluarga, kemudian sepak terjang dan pemikiran, serta bagian terakhir adalah mengenai kepemimpinan Ziarah.

Siti Ziarah Makkajareng adalah tokoh pendidikan Tana Luwu yang sangat sentral perannya. Ia menjadi sangat menarik untuk diulas karena merupakan perempuan yang secara konsisten mengabdikan dirinya memamujukan pendidikan di Palopo dan Tana Luwu secara umum. Di tengah hegemoni peran laki-laki pada zamannya, ia tampil dengan ide-ide pembaruan khususnya dalam pendidikan yang inklusif, yakni memberi ruang dan kesempatan yang sama bagi perempuan Tana Luwu.

Terlahir dari keluarga bangsawan Luwu, Ziarah memilih untuk lebih egaliter dengan membangun kehidupan sosial yang tanpa jarak dengan siapa saja. Bapaknya adalah Andi Makkajareng Opu Tosessu dan ibunya adalah Andi Mudhara Opu Daengnna Maddutana. Namun demikian, ia memilih menghilangkan gelar “Andi” di depan namanya. Ziarah kecil belajar mengaji dari KH Daud dan banyak menimba ilmu agama dari KH Hasyim yang kedua-duanya merupakan sahabat bapaknya. Setelah lulus SGAI, Ziarah menimba ilmu di Yogyakarta dan mendapatkan gelar kesarjanaannya dari IAIN Sunan Kalijaga. Gelar “Doktoranda” yang diraihnya sekaligus menjadikan dirinya sebagai perempuan sarjana pertama di Tana Luwu pada akhir tahun 60-an. Dari gelar inilah kemudian, panggilan Opu Anda melekat kepada Ziarah, yang merupakan kependekan kata Doktoranda.

Sepak terjang Ziarah dalam buku ini diulas dalam beberapa bab yang keseluruhannya hingga mencapai 82 halaman. Bagian ini merupakan pembahasan paling banyak dalam struktur buku ini. Sepak terjang Ziarah dideskripsikan oleh penulisnya mulai dari merintis taman pendidikan Alquran, taman kanak-kanak, sekolah kejuruan (SKKA) hingga perguruan tinggi pertama di Tana Luwu, bahkan sampai kiprah Ziarah di legislatif. Dari uraian-uraian yang digambarkan di buku ini, kita dapat merasakan perjuangan Ziarah bersama para tokoh lainnya saat awal-awal merintis sejumlah institusi pendidikan penting di Kota Palopo.

Kepemimpinan Ziarah diungkap di bab-bab akhir buku ini. Ia digambarkan sebagai seorang demokrat yang karismatik. Ziarah merupakan tipikal pemimpin yang mengambil keputusan melalui diskusi dan musyawarah, mengutamakan kerja sama dan pembangun tim yang baik. Ia memiliki visi yang konkrit dan kemampuan komunikasi yang baik. Oleh karena kemampuan itu, ia memiliki wibawa dan daya tarik yang kuat bagi orang-orang yang ditemuinya.

Diperkaya dengan cerita-cerita seputar pembangunan Palopo dan Tana Luwu di zaman orde baru, buku ini memberi kita informasi mengenai tokoh-tokoh sentral dalam dakwah Islamiah dan pengembangan pendidikan di daerah ini. Di buku ini, gambaran latar kejadian di balik perjalanan dakwah modern dan pendidikan di Palopo mendapat ruang yang besar. Gambaran tersebut merupakan sudut pandang orang pertama yang memang menjadi pelaku sejarah dan orang-orang terdekat Ziarah. Itulah yang menjadi salah satu keunggulan buku ini, kaya akan ‘ceritad dari orang pertama’ atau memaparkan data primer dari narasumber yang tepat.

Buku setebal 196+xxiv ini diterbitkan oleh CV Mitra Mandiri Persada – Surabaya tahun 2015 lalu. Buku ini memiliki catatan kaki (footnotes) hingga 277 buah yang memberikan informasi yang lebih detail, sekaligus memberikan ketidaknyamanan bagi pembacanya. Kekurangan lain dari buku ini adalah tidak adanya komparasi antara sepak terjang Ziarah dengan pokok-pokok pemikirannya. Hal ini disebabkan karena penulis mengalami kesulitan mendapat dokumentasi tulisan-tulisan Ziarah selama menjadi akademisi. Terlepas dari kekurangan tersebut, mengasosiakan Siti Ziarah Makkajareng dengan Kartini tidaklah berlebihan. Kedua tokoh ini, baik Kartini maupun Ziarah, sama-sama memperjuangkan perempuan dan pendidikan pada zamannya.

Dari kisah Ziarah di buku ini, kita bisa mengambil pesan positif mengenai pembangunan sumber daya manusia yang harus dibangun melalui lembaga pendidikan dan lembaga keluarga (dimana ibu atau perempuan menjadi kuncinya). Buku ini menjadi penting dibaca oleh tenaga pendidik atau akademisi, para muballig dan muballigah, pemerhati perempuan, para pelajar dan mahasiswa, sejarawan, bahkan warga Tana Luwu secara umum. (zhf)

MEA, Kota dan Warga

Setahun ini, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menjadi topik bahasan di berbagai diskusi dan seminar. Kesimpulannya hampir seragam. Semua sepakat bahwa MEA adalah peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia.

Sejatinya, MEA adalah integrasi wilayah basis produksi dan pasar tunggal ASEAN. Namun demikian, sadarkah kita bahwa pada MEA, ada kompetisi di dalamnya. Bukan kompetisi Indonesia (sebagai negara) yang secara langsung berhadap-hadapan dengan negara ASEAN lainnya, tetapi persaingan sebenar-benarnya terjadi antar kota-kota di wilayah ASEAN.

Mengapa kota-kota mengalami persaingan? Hal ini disebabkan karena secara de facto, basis produksi tiap-tiap negara ada di daerah, baik itu kota maupun kabupaten. GDP suatu negara tidak mungkin tercatat jika aktifitas ekonomi di kota dan daerah tidak berjalan. Itulah mengapa, kota/kabupaten merupakan tulang punggung ekonomi nasional.

Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah, maka dibutuhkan investasi. Beberapa daerah memiliki kapasitas fiskal yang rendah untuk men-drive pertumbuhan ekonominya. Untuk alasan inilah, maka investasi sektor swasta diharap masuk ke daerah. Nah, untuk menggaet investor, maka dibutuhkan kreatifitas dan inovasi. Kota-kota di Indonesia harus berpikir ‘canggih’ untuk menyusun strategi menarik investasi. Canggih tak selamanya rumit. Dalam kajian city marketing, untuk memasarkan sebuah kota agar menarik di mata calon investor, cukup penuhi kebutuhan calon investor anda!

Di dalam MEA, ada ribuan kota yang menjadi pilihan para investor untuk menanamkan modalnya. Sudah siapkah Palopo untuk memenangi persaingan menarik investor dari negara-negara se-kawasan ini? Siap atau tidak siap, MEA sudah diberlakukan. Oleh karena itu, kekurangan yang ada harus segera dibenahi. Salah satu yang urgen adalah sumber daya manusia.

MEA is about people

Kota dengan SDM terampil lebih mampu mendorong ekonomi secara lebih dinamis. Dengan SDM yang terampil, maka akan lebih banyak inovasi yang tercipta. Dengan adanya inovasi, maka akan tercipta efisiensi dan efektifitas dalam produksi barang dan jasa. Muaranya, daya saing akan lebih baik. Kota yang banyak menghasilkan produk dan jasa yang inovatif, akan lebih menarik di mata investor sebagai basis produksi (bukan sekadar pasar).

Penguatan pada penyiapan SDM terampil ini perlu untuk lebih diperluas. Sejauh ini, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi & UMKM Kota Palopo melaksanakan tugas ini sudah lebih baik. Sejalan dengan itu, Dinas Pendidikan juga sudah mendorong kegiatan-kegiatan pendidikan non formal dan luar sekolah.

Namun, yang penting pula untuk diinsyafi dalam penyiapan SDM yang inovatif ini adalah perhatian pada kegiatan research and development (R&D) atau litbang. SDM Kota Palopo harus mulai diakrabkan dengan kegiatan-kegiatan R&D. Kalangan kampus dan Litbang Bappeda harus dilibatkan untuk menghasilkan riset dan produk/jasa yang inovatif. Kita tentu memimpikan lahirnya kelompok-kelompok peneliti-peneliti andalan Kota Palopo. Sumber daya durian, sagu, rumput laut, kakao, langsat dan rambutan perlu ‘disulap’ agar memiliki nilai tambah. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh sumber daya manusia terampil melalui riset-risetnya yang berkualitas.

Sumber daya manusia aparatur juga perlu mendapat penguatan dalam memasuki MEA ini. Kualitas layanan publik pemerintah diukur salah satunya pada profesionalitas sumber daya aparaturnya. Bukan soal harus menguasai bahasa asing, namun lebih kepada integritas, mental melayani dan pemahaman terhadap SOP.

MEA memang adalah kompetisi antar manusia dan kota. Peluang yang besar ini harus diraih dengan upaya yang sungguh-sungguh. Saatnya-lah membuka cakrawala berpikir secara global. Bukankah MEA adalah turunan dari globalisasi? Kata orang bijak, milikilah wawasan global dan bertindaklah secara lokal. Kalau tidak bekerja maksimal, pasti kota kita akan menyesal. Selamat memasuki era MEA!

Menjaga Pusaka Kota, Menjaga Identitas

Istana Datu Luwu, 1935

Istana Datu Luwu, 1935

Tahun ini, Pemerintah Kota Palopo mendapat Program Penataan & Pelestarian Kota Pusaka dari Kementerian PUPR. Program ini bermaksud untuk mendorong penataan ruang kota yang konsisten dan berbasis pada nilai-nilai pusaka sebagai identitas sebuah kota. Hal ini tentu patut untuk didukung oleh semua pihak. Sebagai sebuah kota yang telah eksis sejak abad ke-17, Kota Palopo telah menorehkan perjalanan sejarah yang panjang, dan mewariskan sejumlah pusaka kota. Paling tidak, ada 3 kelompok besar pusaka yang dimiliki oleh Kota Palopo, yakni terdiri atas pusaka alam, pusaka ragawi dan pusaka non ragawi.

Badan Pelestrian Cagar Budaya Makassar mencatat sekurangnya ada 21 obyek cagar budaya yang patut untuk dilestarikan di kota ini. Yang paling monumental dan memiliki nilai signifaknasi budaya tertinggi tentunya adalah Masjid Jami Tua. Sebagai pusaka ragawi Kota Palopo, cagar budaya ini telah menjadi simbol kota, sekaligus sebagai monumen kelahiran Palopo sebagai sebuah kota. Oleh karena itu, sejarah perkembangan wilayah Kota Palopo, tidak bisa dilepaskan dengan sejarah Kerajaan Luwu dan perkembangan Islam.

Reinventing Lalebbata

Lalebbata memang menjadi entry point dalam menata pusaka Kota Palopo. Hal ini dikarenakan konsentrasi bangunan cagar budaya yang intens di kawasan ini. Karakter bentuk lahannya merupakan lanskap kota kolonial di tengah pemukiman kota moderen yang sedang tumbuh. Hal ini pula yang menjadi tantangan, karena beberapa bangunan yang tumbuh saat ini, seperti Hotel Platinum dengan disain moderen minimalis, tampaknya tidak selaras dengan rasa tempat (sense of place) yang telah ada sebelumnya, seperti gaya artdeco yang ditampilkan di Istana Luwu dan gaya arsitektur Luwu sebagaimana dalam disain bangunan Masjid Jami Tua dan Rumah Adat. Hal ini juga menjadi sinyal, bahwa betapa hampir di seluruh wilayah Kota Palopo, kita disuguhi disain arsitektur bangunan-bangunan yang semakin memperlihatkan keseragaman disain bergaya moderen minimalis, seperti ruko-ruko dan Opsal Plaza, yang amat minim sentuhan identitas ke-Luwu-annya.

Dalam fase awal perkembangan Palopo sebagai ibukota Kerajaan/Kedatuan Luwu, kota ini dilengkapi dengan alun-alun di depan istana dan pasar sebagai pusat ekonomi masyarakat. Lalebbata menjadi pusat kota kala itu yang melingkar hingga kampung Amassangan dan Malimongan seluas kurang lebih 10 ha. Di dalam buku M Irfan Mahmud, kita bisa melihat deskripsi peta kota kuno Palopo yang berorientasi utara-selatan dan memperlihatkan ciri khas kota-kota Asia Tenggara. Namun sayangnya, morfologi Kota Palopo pada perkembangan berikutnya (zaman kolonial) masih belum pernah kita dapatkan. Padahal, data atau peta morfologi kota merupakan dokumen yang penting untuk menyelami perkembangan Palopo dari masa ke masa. Dengan adanya kesadaran atas perkembangan ruang kota itu, kita tidak akan melupakan akar dan asal-usul kota. Kita dapat menjadikannya acuan dalam menata kawasan serta melestarikan pusaka-pusaka kota yang ada di Kota Palopo.

Inilah kemudian yang disebut sebagai reinventing Lalebbata. Reinventing Lalebbata merupakan upaya menghimpun kembali nilai-nilai kearifan maupun kejeniusan lokal yang hidup di dalam kawasan Lalebbata ini. Program penataan dan pelestarian pusaka, sejatinya tidak hanya berorientasi pada renovasi bangunan cagar budaya dan revitalisasi kawasan, tetapi yang lebih penting pula adalah menemukan kembali jati diri masyarakat Palopo, yang sadar atau tidak, perkembangannya berasal dari kawasan Lalebbata ini.

Salahsatu contoh dari nilai lokal yang harus dipahami kembali di kawasan ini adalah filosofi marowa’ (ramai). Hal ini adalah idealisme yang harus dicapai di kawasan Lalebbata, sebagaimana yang disebut Sarita Pawiloy. Filosofi marowa’ ini pada prinsipnya memiliki substansi kebersamaan atau semangat komunitas (community spirit). Sudah tercapaikah idealisme ini di kawasan Lalebbata? Dahulu kala bisa jadi iya, karena adanya formasi yang kompak antara istana, masjid dan alun-alun dalam sebuah kawasan ini. Namun, jika melihat kondisi eksisting, kita tentu bisa menyatakan bahwa Lalebbata kini menjadi ruang-ruang ekslusif, yang kurang menampilkan semangat komunitasnya. Ekslusif karena masing-masing anggota komunitas yang ada di dalamnya seolah saling menutup diri. Oleh karena itu, mendorong untuk bergeraknya masyarakat di dalam kawasan untuk turut serta berperan dalam menghimpun nilai-nilai yang pernah ada di dalam kawasan dan menumbuhkan semangat komunitas sangat perlu untuk menjadi perhatian.

Program Kota Pusaka Palopo memang bukanlah upaya untuk memundurkan Palopo ke zaman dahulu kala. Program ini diharapkan lebih kepada menjaga tradisi positif yang dapat menjadi identitas atau jati diri Palopo sebagai kotaraja Kedatuan Luwu. Kita tentu berharap tidak terjadinya kebingungan identitas bagi generasi muda ke depan. Oleh karena itu, kita perlu ‘bercerita’ melalui pusaka kota. Hal ini sebagaimana Kostof menulis bahwa kota merupakan sebuah cerita, kenangan terakhir dari pergulatan manusia dan keagungan, dan tempat dimana kebanggaan masa lalu diletakkan dan dipamerkan.

Homo Palopoensis

Dari zaman dahulu, Palopo adalah magnet. Posisinya yang strategis selalu memikat. Kedinamisan aktifitas warganya menjadi daya tarik. Banyak yang datang, dan tak sedikit yang kembali pulang. Di awal perkembangan, Palopo adalah tempat tahta kedatuan Luwu digantungkan. Adalah suatu kehormatan menjadi warga kotanya, walaupun hanya sekadar bertandang. Demikianlah kata Sarita Pawiloy, tentang kisah kota ini di awal perkembangan.

Manusia Palopo adalah manusia yang terbuka. Terhadap kedatangan etnis dan budaya budaya baru, hal itu dianggap dinamika. Konsekuensi terhadap kotaraja yang menjadi gerbang Kerajaan Luwu paling muka. Semua menjadi cerita indah, tanpa syakwasangka. Banyak saudara kita dari Tiongkok sana, dan ada pula dari Sulawesi Utara. Di Palopo, mereka damai hidupnya. Mereka itu ibarat adik, dan sang pribumi adalah kakaknya.

Ada banyak perkembangan budaya urban di Palopo dewasa ini. Ada yang bilang, karena semakin matangnya demokrasi. Ada pula yang menyebut, karena kian kuatnya ekonomi. Namun saya bersangka, hal itu terjadi karena kita tak mengenal jati diri, dan atau tak tau budaya sendiri.

Kata saya pula, manusia Palopo ini kurang berseni. Kurang subur melahirkan pencipta simponi, atau sekadar seniman tari. Jangan pula anda di sini mencari karya sastra bernilai tinggi. Karena setelah periode Galigo, Palopo minim mencatat sejarah dalam berbagai narasi dan deskripsi. Itulah mengapa manusia Palopo dewasa ini, mudah tersulut emosi. Mengulang kisah dalam novel Kota Palopo Yang Terbakar, beberapa tahun lalu api membakar beberapa gedung di sana sini.  Bisa jadi, hal ini karena kurang rekreasi dan apresiasi seni.

Manusia Palopo sendiri adalah makhluk yang royal, dan doyan dengan pesta pagi hingga malam. Mereka rajin menggelar acara makan-makan. Saling pamer barang-barang branded, walaupun hasil cicilan. Dan untuk itu, akhirnya banyak menabung utang. Untungnya, perempuan Palopo, tak seperti di negeri Bugis-Makassar bagian selatan. Bicara mahar untuk nikahan, rata-rata tidak menuntut juta yang banyak atau bahkan hingga milyaran.

Gaya hidup manusia Palopo memang kini semakin moderen. Moderen dari segi merek produk-produk yang digunakan. Begitu suatu resto baru diresmikan, dua tiga pekan pasti akan penuh atas kunjungan. Selepas itu, maka logika kreatif pihak resto dituntut, khususnya bagian pemasaran. Saya menyebutnya ini fenomena kagetan. Atau sarkasnya, anget-anget tahi ayam. Ini memang konsukuensi atas perubahan. Dan bagi calon usahawan, anda wajib berkaca dari berbagai pengalaman. Perlu kalkulasi yang presisi dari futurolog mapan. Namun demikian, secara pribadi saya optimis, kisah suram itu tak akan berkesinambungan. Bukankah Palopo selalu memberi harapan?

Manusia Palopo kini juga kurang berani. Terhadap berbagai risiko, kita kehilangan nyali. Kurang menghasilkan pengusaha sukses dari kalangan pribumi. Memang, dari dulu kita memang bermental ‘Bossy’. Kita juga dicatat sebagai pemalas oleh bangsa kompeni. Itu bukan kata saya sendiri, tetapi merupakan citra diri, sebagaimana tertulis di laporan Gubernur Sulawesi. Katanya, hal itu karena banyaknya sagu yang tumbuh sepanjang rawa dan kali. Sehingga etos kerja sebagai petani, hingga kini tak pernah dicatat sebagai prestasi yang tinggi.

Kini, manusia Palopo sebagai cermin wija Luwu seakan kehilangan kemuliaan. Dalam wira cerita La Galigo, kita memang dijadikan teladan. Yang dituakan di antara tanah Bugis-Makassar yang penuh kehormatan. Semua itu karena profil kita saat itu memang sangat memegang prinsip dan ajaran ketuhanan. Masih teguh menjaga siri dan kejujuran. Mengimplementasikan kebenaran dan keadilan. Ketika nilai itu semua kita tanggalkan, maka semuanya akan menjadi artefak kebudayaan. Dan oleh karena punahnya nilai itu semua, maka manusia Palopo pun juga ikut terkubur di kedalaman. Ia hanya akan dikenang sebagai Homo Palopoensis, manusia Palopo purba yang berkebudayaan.

Nyanyian Sendu Pedagang PNP

Sebagai episentrum pergerakan ekonomi kerakyatan, banyak hal-hal menarik jika kita bertandang ke Pusat Niaga Palopo. Salahsatunya adalah laku para pedagang ikan yang berada di blok basah sebelah utara. Di sana, kita kerap didendangkan nyanyian-nyanyian merdu khas Bugis pesisir. Suara mereka serak-serak basah, menari-nari, dan terkadang jenaka. Galibnya sebuah nyanyian, lantunan merdu berbahasa Bugis itu adalah penghibur. Namun demikian, sadarkah anda bahwa nyanyian-nyanyian tersebut ternyata adalah sebuah ‘pemikat’?

Itulah yang biasa kita sebut kelong-kelong ugi! Jenisnya termasuk elong eja-eja yang bersyair hiburan atau berpantun jenaka. Di dalam lingkungan PNP, ia merupakan penghibur, karena syairnya akan membangkitkan semangat si pedagang ikan tersebut. Dan bersifat ‘pemikat’ karena ia bertendensi untuk menarik perhatian pembeli.

Karena tendensi untuk menarik perhatian pembeli itulah kemudian, laku budaya para pedagang ikan ini bisa kita golongkan sebagai salahsatu strategi pemasaran. Walau berlabel pasar tradisional, ternyata pada dasarnya, praktik pemasaran modern juga telah diterapkan. Mungkin, kelong-kelong ugi ini bisa kita asosiasikan dengan jingle-jingle pada iklan produk yang diperdengarkan di minimarket dan tenant-tenant pasar modern. Perbedaannya, jingle iklan tersebut sudah dikemas permanen secara digital dan diputar secara elektronik, dan kelong-kelong ugi masih manual didendangkan langsung dari mulut si pemasar. Jingle iklan unggul pada kualitas suara dan aransemennya, sedangkan kelong-kelong ugi unggul pada content yang costumize atau bisa diimprovisasi.

Namun sayangnya, kelong-kelong ugi ini semakin hari semakin tidak nyaring bunyinya. Nyanyian yang bersahut-sahutan dan memekakkan telinga mungkin tinggal nostalgia tahun 90-an dan sebelumnya saja. Salahsatu penyebabnya adalah karena adanya regenerasi pada individu pedagang ikan yang ada di PNP. Saat ini merupakan era generasi kedua-ketiga dari generasi awal para pedagang ikan di PNP (dulu Pasar Sentral Palopo). Dan seperti sikap dari kebanyakan orang-orang tua kita terhadap ritus-ritus budaya, elong-kelong ugi ini gagal untuk diwariskan. Dan atas nama modernisasi, generasi kedua-ketiga ini pun apatis terhadap metode pemasaran tersebut. Seakan ingin mengikuti karakter pasar modern, radio tape pun diboyong masuk PNP, dan berdendanglah musik beraliran dangdut dan metal (melayu total). Alhasil, kita kemudian mengalami ancaman terhadap hilangnya karakter Pusat Niaga Palopo. Nyanyian para pedagang ikan kita semakin sendu!

Tradisional versus Modern

Nyanyian sendu ini bisajadi juga mengonfirmasi betapa energi berbisnis di PNP juga semakin meredup akibat persaingan dengan minimarket dan pasar-pasar modern lain. Kita tak boleh menutup mata dan telinga atas keluhan para pedagang-pedagang ini. Pertumbuhan minimarket dan pasar modern 2 tahun belakangan ini semakin menggeser dominasi PNP. Hal ini sesuai pula hasil riset yang dilakukan Anggraini (2013) di Semarang yang menunjukkan bahwa terjadi konflik yang ditandai  dengan irisan/persinggungan  antara  jangkauan  pelayanan minimarket dan pasar tradisional.

Oleh karena itu, untuk melecutkan energi di PNP, kita sejatinya meninjau kembali kebijakan terbuka terhadap investasi retail modern atau minimarket-minimarket baru. Sudah saatnya melakukan pengetatan izin dan memberikan kesempatan kepada pasar-pasar tradisional untuk memacu dan memburu ketertinggalannya. Memang, ada perbedaan mendasar pada karakter pasar tradisional dan pasar modern, namun sekali lagi, para pedagang kita sudah tidak lagi ‘bernyanyi semerdu dulu’. Mereka kini mulai ‘berteriak tak berdaya’ atas kompetisi yang semakin atraktif yang mereka hadapi.

Selera dan gaya para pembeli dalam berbelanja yang ingin keamanan, kenyamanan, kepraktisan dan kebersihan memang sulit untuk diubah. Namun, pasar tradisional kita (PNP, Andi Tadda, dan Telluwanua) tentu bisa membaca perilaku pelanggan tersebut dan melakukan penyesuaian-penyesuaian. Saatnya memang berkaca dan belajar untuk lebih mengerti keinginan pasar (baca: pembeli dan masyarakat). Pasar tradisional harus berubah tanpa menghilangkan karakteristiknya yang genuine. Hal itu penting karena selain sebagi ruang ekonomi, pasar tradisional juga merupakan ruang terjadinya pembauran dan transformasi budaya (Hamid, 2010).

Transformasi menjadi pasar yang lebih baik adalah dambaan seluruh warga Kota Palopo. Kebersihan pasar bukan hanya satu-satunya layanan bagi pembeli. Namun, lebih daripada itu semua, ada banyak harapan dari masyarakat kita yang semakin hari semakin cerdas dan idealis. Untuk memulai transformasi manajemen pasar tradisional, kita sejatinya melakukan riset perilaku pelanggan, sebagaimana yang telah disebut di atas. Assesment ini untuk memetakan permasalahan dan preferensi pembeli di PNP. Beberapa hal yang patut untuk ditanyakan kepada pembeli PNP antara lain: apakah mereka nyaman, aman dan praktis belanja di PNP?; apakah mereka tidak terganggu dengan koridor PNP yang menyempit akibat luberan dagangan di tepi dan bagian tengah koridor?; apakah mereka tidak terganggu dengan sepeda motor yang masih biasa kita temukan berjalan di koridor PNP?; amankah mereka memarkir kendaraannya di sekitar PNP?; atau adakah costumer service yang berfungsi di PNP?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sejatinya sudah dipetakan oleh manajemen pasar tradisional kita. Dan hasil dari preferensi pembeli tersebut harus dikomunikasikan dengan para pedagang. Dalam proses ini, asosiasi pedagang sejatinya juga harus bersikap terbuka untuk melakukan perubahan. Manajemen dan pedagang memang harus berubah. Kata meme di media sosial: “Kesatria Baja Hitam saja harus berubah untuk menang melawan monster, apalagi kita!”. Oleh karena itu, mari kita kembalikan energi dan  nyanyian riuh pada pedagang pasar tradisional kita. Saatnya pasar tradisional meraih kembali kemenangan dan kejayaannya.