Anak Muda Palsu

Tahukah kamu, siapakah anak muda palsu itu? Ialah mereka yang hilang ingatan atas sumpahnya. Mengaku berbangsa satu, tapi masih melebarkan perbedaan atas mozaik keyakinan dan paham politik.

Tahukah kamu, siapakah anak muda palsu itu? Ialah mereka yang amnesia terhadap sejarah tanah airnya. Mengaku bertumpah darah yang satu tetapi memunggungi suku bangsa yang tak berparas serupa.

Tahukah kamu siapa anak muda palsu itu? Ialah mereka yang abai akan sumpahnya. Mengaku menjunjung bahasa persatuannya, tetapi masih kaku dengan frasa ‘persatuan Indonesia’.

Sudahlah, anak muda palsu!

Di 1928 dulu, bangsa ini digagas oleh berupa-rupa paham politik, beragam-ragam suku bangsa dan oleh tidak hanya satu agama.
Kita yang kini merayakan kemerdekaan dengan sekadar avatar merah putih di media sosal, tak lagi paham makna kibaran sang saka sebenar-benarnya. Kita lantas seenak-enak lidah dan mulut menghujat-hujat orang lain. Kita lantas sebebas-bebas pikiran dan prasangka menghakim-hakimi kelompok yang lain.

Indonesia adalah milik anak muda sejati. Yang masih yakin bangsa ini tegak berdiri dengan kemajemukannya. Yang percaya dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”-nya. Yang berusaha bersatu dalam keragamannya. Yang optimis atas kesejahteraannya secara bersama-sama. Yang bergerak dengan merangkul pundak teman-temannya. Yang menarik naik untuk berdiri sama tinggi. Yang berteriak sama keras menyemangati sahabat-sahabatnya. Yang merayakan kebahagian bersama dengan lompatan setinggi-tingginya. Yang berbagi duka dengan dekapan hangat yang menenangkan.

Rindulah kita pada anak muda sejati seperti itu.

Sahabat, ayo kita gulung lengan baju, kuatkan pundak, pukulkan kepalan tangan ke depan dada.

Kita memang hidup di era dan dunia yang semakin maya, tapi jiwa dan raga yang muda ini janganlah ikut menjadi palsu.
Anak muda sejati itu adalah yang bersumpah atas nama Indonesia. Yang sebangsa, setanah air dan sebahasa. Kepada Indonesia jua-lah alasan kembali melepas egoisme sempit kesukuan, agama, ras dan golongan.

Palopo, 28 Oktober 2016

Iklan

Obama ala Indonesia

Awalnya, saya tidak tahu daya tarik apa yang ada dibalik diri Barack Hussein Obama sehingga dia nekat maju nyapres di negara paman Sam. Kulit blacky, nama agak ke-muslim-musliman, pernah tinggal di Jakarta, dan belum berpengalaman di eksekutif. Apa iya, dia mampu nantinya? Mungkin, karena rasa penasaran itulah sehingga pada medio November tahun lalu, saya serta merta membeli buku karya Anwar Holid, di toko buku langganan saya. Setidaknya, dari buku itu, pengetahuan saya tentang Obama bisalah sedikit lebih dalam memahami pribadi beliau. Ketimbang berita-berita koran, buku itu lebih komprehensif.

Hari ini, Kompas menurunkan opini seorang bule tentang Obama dan Reformasi Indonesia. Menarik sekali, si bule yakin lima tahun mendatang ada Obama ala Indonesia yang secara mendadak bakal muncul. Sepintas, saya ingat Lia Eden kalau bicara tokoh-tokoh dadakan. Anda, masih ingat juga kan? Sekarang dia dimana ya? Sudahlah, saya mau ngomong soal Obama kini.

Optimis sekali bule itu ya? Awalnya saya juga sangsi. Ada beberapa hal yang mereferensikan anggapan keraguan saya itu. Yang pertama, Baca lebih lanjut