Membumikan Etos Reso

image

Setiap memperingati Hari Jadi Luwu (HJL) dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL), saya kerapkali teringat dengan film The Last Samurai. Dikisahkan di film itu, Kaisar Meiji di Jepang berpidato di hadapan seorang samurai bernama Tokugawa dan pembesar istana lainnya. Ia menyampaikan bahwa Jepang boleh saja maju dengan teknologi mutakhirnya, tapi orang Jepang tidak boleh sekali-kali melupakan asal muasal-nya sebagai manusia yang berbudaya. Inilah salah satu tonggak Restorasi Meiji yang amat terkenal, yang kemudian membawa Jepang menjadi salah satu negara yang berpengaruh secara ekonomi.

Kemampuan Jepang menggerakkan ekonomi melalui pendekatan kebudayaan adalah suatu model yang patut untuk diduplikasi. Ajaran Bushido dan Kaizen yang dimiliki manusia Jepang, kini menjadi referensi dalam teori-teori manajemen. Ajaran Bushido mengajarkan tentang kerja keras, etika, loyalitas, disiplin, kerelaan berkorban,  ketajaman berpikir dan beberapa nilai-nilai yang lain. Sedangkan Kaizen, mengarahkan kita untuk melakukan perubahan positif secara terus-menerus. Namun jangan salah, ternyata pendahulu-pendahulu kita, leluhur masyarakat Luwu, di zaman lampau juga mewariskan nilai-nilai positif seperti itu.

Adalah cendekiawan To Maccae Ri Luwu yang secara cermat menjelaskan kepada kita bentuk-bentuk ideal manusia Luwu. Jika disimak secara seksama, inti amanahnya adalah tentang kejujuran, kebenaran, keadilan dan ketegasan. Oleh karena itu, sadarkah kita bahwa untuk membangun Luwu menjadi kawasan yang maju, penguatan integritas pada diri wija dan bija Luwu adalah salahsatu kunci yang penting?

Amanah lain To Maccae Ri Luwu yang diwariskan kepada La Baso To Akkarangeng adalah tentang ‘resep’ di balik kebesaran Luwu kala itu. Lagi-lagi, ia mengungkapkan tentang pentingnya manajemen sumber daya manusia dan penegakan hukum. Kata To Maccae Ri Luwu, untuk membesarkan Luwu maka harus ada takaran yang dipakai dan menjaga peradatan. Takaran ini adalah “tidak disuruh seseorang tidur pada suatu tempat jika tidak ia senang tidur padanya, tidak dibebani seseorang yang tidak disukainya, tidak disuruh seseorang membawa sesuatu yang tidak sesuai kemampuannya, tidak dikenakan pada seseorang dua beban yang berat, serta tidak disuruh mengerjakan dua pekerjaan yang sama”. Secara tekstual, amanah ini tentu amat filosofis. Namun secara sederhana, substansi amanah ini menunjukkan betapa pengelolaan pada variabel sumber daya manusia sekali lagi menjadi kunci untuk memajukan Luwu.

Manusia Luwu kini memang harus lebih bekerja keras. Sejalan dengan konsep Ayo Kerja-nya Jokowi, kitapun mengenal konsep ini sebagai ajaran Reso! Masih ingat dengan petuah “reso temmangngingngi malomoi naletei pammase dewata”?. Oleh Budayawan Rahman Arge, spirit ini disebutnya sebagai “etos reso”, sebuah budaya kerja manusia Sulawesi Selatan, di mana Luwu dianggap sebagai akarnya. Substansinya, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, yang mana hal itu memungkinkan turunnya berkah dari Tuhan.

Etos reso sejatinya menjadi spirit kita semua. Sebagai “wanua mappatuwo”, Tana Luwu ini memang dilimpahi anugerah sumber daya alam yang luar biasa kaya. Ia bersifat an sich. Namun demikian, frase ini selalu diikuti dengan “naewai alena”. Sadarkah anda, bahwa pada prinsipnya, “naewai alena” itu adalah sebuah etos reso? Ia adalah sebuah semangat untuk survive, daya hidup yang amat kuat, dan prinsip kemandirian yang amat tegas dari seorang wija dan bija Luwu. Sekali lagi, ini adalah doktrin untuk mengembangkan sumber daya manusia Luwu.

Di Hari Jadi Luwu Ke-748 dan HPRL Ke-70 ini, diperlukan upaya untuk mempertegas komitmen bekerja bersama-sama untuk kemajuan masyarakat Tana Luwu. IPM kabupaten/kota di Tana Luwu memang sudah menunjukkan peringkat yang cukup baik karena masuk dalam top 10 Sulawesi Selatan. Tantangan yang dihadapi sekarang adalah bagaimana memarelkan agar IPM ini juga diikuti dengan reduksi persentase kemiskinan di Tana Luwu. Data menunjukkan bahwa 2 kabupaten di kawasan ini masih memiliki persentase kemiskinan yang lebih tinggi dibanding rata-rata kabupaten/kota lain di Sulawesi Selatan.

HJL dan HPRL kita peringati kembali tahun ini di Luwu Timur, asal muasal Tana Luwu ini muncul. Pasang surut perjalanan sejarah Luwu yang memasuki tahun 748 ini, selalu dilalui dengan etos reso. Di dalamnya ada keyakinan bahwa inilah ‘wanua mappatuwo’, Luwu adalah harapan atas kehidupan yang lebih baik. Dengan pendekatan kebudayaan seperti ini, sense of belonging sebagai wija to Luwu sejatinya dapat didorong. Seperti halnya dengan Jepang, kita perlu kembali membuka-buka amanah pendahulu-pendahulu kita. Ia bisa menjadi referensi dalam membangun Tana Luwu, lebih khusus kepada manusia-manusianya. Belajarlah sejarah dan pahamilah budaya, sebab jika kehilangan keduanya, kamu akan kehilangan bagian dari dirimu sendiri. Begitulah kata sejarawan Anhar Gonggong.

Terakhir, dengan kesamaan identitas dan latar belakang sejarah, HJL dan HPRL juga sejatinya menguatkan kohesi seluruh wija to Luwu. To Maccae Ri Luwu mengatakan, mengenai kesatuan rakyat, ada delapan jenisnya yang disebut bersatu itu. Seiya sekata mereka dalam negeri, jujur mereka sesamanya, saling berkata benar di antara mereka, mereka saling memalui, dalam duka mereka bersatu dan dalam suka mereka bersatu, ke gunung sama mendaki dan ke ranah sama menurun, dan saling membenarkan menurut adanya. Akhirnya, mari bekerja bersama-sama. Kita semua punya beban moral untuk mengembalikan kebesaran Tana Luwu ini. Selamat Hari Jadi Luwu Ke-748 dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu Ke-70. Selamat menikmati atraksi terjun payung dan Sukhoi di acara seremonialnya di Malili nanti. Tabe.

Iklan

Reso!

Penamaan Kabinet Kerja yang dibentuk oleh pemerintahan Jokowi-JK mengingatkan kita kepada Presiden Soekarno. Kala itu, pada rentang tahun 1959 hingga 1964, Soekarno menamakan kabinet pemerintahannya dengan nama Kabinet Kerja I sampai dengan Kabinet Kerja IV.

Sejalan dengan semangat Kabinet Kerja besutan pemerintahan Jokowi-JK, tahun ini, dalam rangka memperingati kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70, pemerintah juga mengangkat tema “Ayo Kerja”. Tema ini menandai era baru cara pemerintah kita berbahasa. Era di mana tema tidak harus diawali dengan kata “Dengan semangat…”, dan era di mana sebuah tema tidak harus dirangkai dalam sebuah kalimat yang normatif nan panjang.

Kalimat Ayo Kerja adalah kalimat yang sederhana, lugas, namun substantif. Tampaknya, tema Ayo Kerja ini ingin membangun kesadaran kolektif bangsa, mendorong masyarakat untuk bergerak lebih cepat, dan memberikan semangat juang dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Sebagai masyarakat Bugis-Makassar, kita mengenal Ayo Kerja ini sebagai Reso! Nene Mallomo di tanah Bugis Sidenreng, dahulu kala mewariskan wejangan “reso temmangngingngi malomoi naletei pammase dewata”. Oleh Budayawan Rahman Arge, spirit ini disebutnya sebagai “etos reso”, sebuah budaya kerja manusia Bugis. Substansinya, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, yang mana hal itu memungkinkan turunnya berkah dari Tuhan.

Etos reso sejatinya menjadi spirit kita semua. Sebagai “wanua mappatuwo”, Tana Luwu ini memang dilimpahi anugerah sumber daya alam yang luar biasa kaya. Namun demikian, frase ini selalu diikuti dengan “naewai alena”. Sadarkah anda, bahwa pada prinsipnya, “naewai alena” itu adalah sebuah etos reso? Ia adalah sebuah semangat untuk survive, daya hidup yang amat kuat, dan prinsip kemandirian yang amat tegas dari seorang wija dan bija Luwu.

Demikian pula di Ulang Tahun Kota Palopo yang ke-13 tahun ini. Kota ini dilahirkan dengan harapan, dan dibesarkan dengan kerja-kerja nyata (reso). Tidak hanya oleh satu orang wali kota, melainkan dengan ratusan ribu penduduknya. Pasang surut perjalanan sejarah Palopo dilalui dengan etos reso, yang di dalamnya ada keyakinan bahwa inilah ‘wanua mappatuwo’. Palopo adalah harapan atas kehidupan yang lebih baik.

Bulan ini, Palopo genap berusia 13 tahun. Angka BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi di wilayah ini sudah di atas 8 persen.  Pembangunan konstruksi gedung semakin menggeliat. Hotel dan restoran semakin ramai. Dan kelas menengah baru semakin tumbuh seiring semakin banyaknya usahawan-usahawan baru yang muncul. Dalam kajian ekonomi, inilah yang disebut kewirausahaan, yang oleh Schumpeter menjadi salah satu kunci untuk menghadirkan kesejahteraan suatu wilayah.

Kita sejatinya mengawinkan prinsip Schumpeter dengan wejangan Nene Mallomo. Etos reso para wirausahawan baru Kota Palopo, sedapat mungkin berorientasi pada pencarian rahmat Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa. Harapannya, etos reso manusia Palopo tidak lepas dari ikatan nilai-nilai agama. Bisnis tidak harus merusak moral generasi penerus, menciptakan manusia-manusia yang tamak dan melukai ekosistem atau lingkungan hidup. Pada bagian ini, saya ingin mengingatkan atas doktrin tentang dimensi religi, yang sedari dulu hadir dalam perencanaan pembangunan kota otonom ini.

Akhirnya, selamat merayakan HUT Kota Palopo yang ke-13, dan selamat menyongsong HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-70. Gerakan “Ayo Kerja” harus didukung oleh segenap masyarakat Indonesia. Sebagai implementasinya, mari kita tanamkan etos “Reso” ini kepada seluruh manusia Palopo. Buktikanlah dengan hasil kerja terbaik kita. Buktikanlah melalui karya yang bermanfaat bagi alam dan sesama…