School Branding

Kalau kita bertanya kepada remaja usia sekolah mengenai sekolah ideal yang bagaimana yang ingin mereka masuki, kita pasti akan mendengar jawaban sekolah yang berkualitas namun tetap gaul. Inilah perilaku konsumen pendidikan kita dewasa ini. Cenderung lebih selektif dalam memilih sekolah sebagai identitasnya. Mereka ingin lebih enjoy namun tetap smart. Olehnya itu, menjadi suatu tuntutan bagi manajemen sekolah, untuk senantiasa menganalisis tren konsumen pendidikan secara mutakhir.

School Branding adalah suatu pencitraan yang mampu mendeskripsikan secara general positioning dan keadaan suatu sekolah. Olehnya itu, di era perkembangan strategi pemasaran yang lagi gencar-gencarnya dewasa ini, bukanlah suatu yang aneh, jika sekolah pun meluncurkan school branding sebagai identitasnya. Dalam dunia pariwisata, kita mengenal Malaysia dengan Tourism Branding-nya yaitu Truly Asia, yang secara nyata mampu meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat Malaysia karena adanya Money Boom dari sektor pelayanan jasa pariwisatanya. Bukannya ingin menyamakan sekolah sebagai profit institution dan cenderung kapitalis, tetapi bukankah Baca lebih lanjut

Iklan

Ada Apa Dengan Pendidikan Gratis?

Ada masalah apa sebenarnya dalam program pendidikan gratis di Palopo? Koran lokal mengabarkan sejumlah keluhan-keluhan kepsek khususnya SMA Negeri. Keluhannya antara lain dari kurangnya dana penerimaan siswa baru, dilarangnya memungut satu sen pun uang dari siswa baru, keterpaksaan mengurangi jumlah kelas unggulan, hingga membanjirnya siswa luar kota Palopo yang mendaftar di SMA-SMA Palopo.

Sebenarnya, untuk hal-hal yang menyangkut finansial, misalnya uang pendaftaran, dan tidak bolehnya memungut biaya apapun, pada dasarnya idenya memang bagus, apalagi dalam kondisi BBM lagi naik-naiknya. Saya sebenarnya dukung program gratis-gratisan ini. Olehnya itu, masalah finansial ini sebenarnya menjadi tantangan Kepsek untuk mengembangkan kreatifitas mencari sumber-sumber dana alternatif, yang halal, toyyib dan tidak melanggar perda (tapi ngomong-ngomong perdanya sudah diteken belum ya?). Dalam bentuk apakah itu? Saya pikir bisa dalam bentuk penggalangan CSR (terutama perusahaan penerbitan), kelompok sosial pendidikan maupun alumni. Memang agak gampang idenya, tapi apa iya ada yang mau secara sukarela nyumbang kiri-kanan saat-saat ini? Saya tidak jamin juga sih, tapi kan namanya usaha, lagipula ingat, masa-masa sekarang kan pre campaign era, jadi tampaknya akan banyak dana-dana sosial yang bakal digelontorkan.

Terus, tentang masalah banyaknya calon siswa baru yang masuk ke Palopo, saya pikir sah-sah saja. Malah menurut hemat saya ini tanda positif jek! Kota tujuan pendidikan telah menampakkan wujudnya, dan tentu merupakan kesuksesan para kepsek. Ya kan?

Jadi, masalah sebenarnya mungkin belum terlalu terstrukturnya program gratisan ini. Untuk sesuatu yang bersifat awal, hal itu sebenarnya wajar. Tapi kalau sampai hampir semua kepsek mengeluh, itu hal yang wajar. Apakah ini isyarat kurangnya pemasukan sekolah dari uang formulir pendaftaran hingga biaya pengadaan tanda lokasi sekolah? Wallahu a’lam. Tapi saya masih lebih kuat kepada asumsi bahwa, kepsek-kepsek kita belum bisa beradaptasi kepada kondisi yang serba gratisan ini. Solusinya, lebih banyak belajar dan gali kreatifitas. Salahsatunya, mungkin study banding ke kota gratisan lainnya? 🙂

Kelompok Ilmiah Remaja: Qualistyle Sekolah Unggulan

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah blogwalking, tanpa sadar saya mengunjungi http://hasrilpmp.wordpress.com , blog milik seorang guru saya. Seketika, saya teringat kembali tentang pengalaman mengikuti kegiatan Perkemahan Ilmiah Remaja bersamanya. Mengesankan sekali, dan sedikit banyak hal itulah yang menginspirasi saya untuk menjadi seorang ilmuwan, atau paling kurang menjadi trainer penulisan karya ilmiah, seperti guru saya itu. Profesi yang kedua sempat sih, tapi cuma hampir tiga bulan. Yah, menjadi trainer buat adik-adik kelas waktu SMA, hehehe.

Masa-masa SMP dan SMA memang belum terlalu diorientasikan untuk melakukan penelitian. Masa tersebut, oleh program pendidikan nasional kita (kecuali sekolah kejuruan), baru difokuskan untuk meletakkan fondasi teoritis dari disiplin-disiplin ilmu. Olehnya itu, penelitian di tingkat SMP dan SMA diistilahkan sebagai penelitian ilmiah remaja. Oleh karena sifatnya masih ‘amatiran’, maka ada banyak sisi-sisi fun yang diselipkan di dalamnya. Baca lebih lanjut