10 Tokoh Yang Merubah Wajah Palopo

Tujuh belas tahun adalah usia administratif Palopo sebagai kota yang otonom. Penanggalan 2 Juli 2002 merujuk pada prasasti peresmian Kota Palopo sebagai kota yang mandiri—terpisah dari Kabupaten Luwu sebagai induknya—pasca disahkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Mamasa dan Kota Palopo di Sulawesi Selatan.

Namun, sejarah kota ini sebenarnya sudah terentang panjang (setidaknya) selama kurang lebih 4 abad. Penanda awal yang paling monumental, dan bisa menjadi legitimasi Palopo sebagai kota yang tumbuh moderen, adalah Masjid Jami Tua. Secara konstruksi, arsitektur dan historis, para ahli sepakat bahwa penanggalan 1604, dapat diterima secara ilmiah sebagai tahun pembangunan Masjid Jami Tua Palopo.

Sepanjang 4 abad ini, kita tentu dapat merasakan perubahan citra Kota Palopo. Hal itu tentu tidak berubah serta-merta, ada tokoh dan orang-orang yang memiliki andil besar dalam perubahan itu. Tulisan ini akan mencoba memantik ingatan dan pengetahuan kita tentang tokoh dan orang-orang tersebut. Tentu subyektif, dan mungkin lebih banyak tokoh yang memiliki kontribusi yang lebih besar dari tokoh-tokoh sepanjang masa yang saya sampaikan ini. Namun, sependek pengetahuan saya, nama-nama berikut Baca lebih lanjut

Iklan

Review Buku: Potret Politik, Birokrasi & Kemasyarakatan

Sebagai sebuah potret, buku ini adalah galeri atas fenomena-fenomena sosiologi-politik beserta birokrasi yang menyertainya. Layaknya sebuah citra, Surahman membingkai 3 tema tersebut dalam aras lokal, yakni Kota Palopo—tempat domisili sang penulis.

Sebagai Direktur pada Sawerigading Riset Center, Surahman memaparkan lanskap politik lokal yang penuh dinamika dan memiliki karakternya sendiri. Keaktifannya mendalami alam pikir dan perilaku pemilih, memberi warna dalam perspektif Surahman melihat politik lokal.

Proyeksinya terkait HM Judas Amir—sebagai Bakal Cawalkot Palopo— dan Basmin Mattayang—sebagai Bakal Cabup Luwu—dengan tingkat keterpilihan tertinggi, akhirnya kemudian terbukti dengan terpilihnya kedua figur ini di daerah masing-masing. Preferensi politik, menurut Surahman, tidak lagi sekadar tentang identitas, namun lebih luas daripada itu, sangat penting melihat kelas sosial pemilih. Buku ini, lebih jauh memberi referensi baru dalam praktik politik yang bukan lagi semata-mata tentang branding, tetapi kini telah berkembang sebagai eksperimen pemasaran yang utuh melalui konsep 4P (product, pull, push & polling).

Pada bagian kedua, buku ini memaparkan kecacatan desentralisasi yang masih belum optimal menciptakan reformasi birokrasi di daerah. Hal ini disebut Surahman karena praktik KKN masih kerapkali menyertai layanan publik kita.

Buku ini juga memberi highlight pada pemerintahan yang seharusnya tidak berjalan seperti bisnis, tetapi idealnya seperti demokrasi. Pemerintahan yang berorientasi pada bisnis memandang rakyat sebagai pelanggan (costumer), dan pemerintah memosisikan diri sebagai produsen, bukan pelayan publik. Oleh karenanya, model pemerintahan demokratis yang direkomendasikan buku ini adalah Model Denhardt (2007), yang prinsip-prinsip dasarnya antara lain adalah: pelayanan warga negara; pengutamaan kepentingan publik; penghargaan bagi warga negara daripada pengusaha; berpikir strategis dan bertindak demokratis; akuntabilitas; pelayanan, bukan pengendalian; serta penghargaan terhadap kemanusiaan.

Sebagai milenial yang menjadi saksi lahirnya Revolusi 4.0, penulis memberi atensi besar terhadap Baca lebih lanjut

Historia Repete

Kantor Wali Kota Palopo dibangun di atas reruntuhan kantor wali kota lama yang dibakar oleh massa kalah Pilkada.

Palopo adalah kota yang dibangun di atas reruntuhan zaman. Takdirnya selalu sama: sejarahnya selalu berulang (historia repete).

Kota ini dibuka pasca perdamaian Ratona digelar. Perdamaian inilah yang mengakhiri perang saudara antara orang ‘utara’ dan orang ‘selatan’ di wilayah Kedatuan Luwu. Kira-kira empat tahun lamanya perang ini berlangsung.

Masjid Jami Tua kemudian dibangun di tengah-tengah kota. Monumen ini penanda atas 2 hal yang paling mendasar dari kota ini: rekonsiliasi & transformasi.

Rekonsiliasi menjadi spirit dalam pembangunan Masjid Jami Tua. Dari momen inilah, seluruh rakyat Tana Luwu kembali menyatu dalam sebuah ‘proyek akbar’— yang tentunya membutuhkan banyak tenaga kerja. Dari kisahnya, tersebutlah orang-orang dari atas (Toraja) menjadi arsiteknya, walau sebagian lagi menyebut dari Cina. Dan, pekerja-pekerja dari Utara dan Selatan didatangkan untuk membantu penyelesaian mega proyek Datu Luwu, Patipasaung ini. Rezim Patipasaung memilih gaya masjid-masjid di Jawa, yang saat itu memang lagi menjadi tren dengan atap tumpang tiganya.

Masjid Jami Tua juga menjadi simbol transformasi. Ia dibangun awal-awal sebagai penanda bahwa Luwu sudah bertransformasi, dari kerajaan yang berkhidmat pada ‘ajaran nenek moyang’ menjadi kerajaan yang bernafaskan Islam, sebagai kiblat barunya. Ripatuppui ri adeE, ripasanrEi risara’E. Transformasi juga bermakna pembangunan. Perubahan harus diikuti dengan pembangunan untuk mendorong kesejahteraan. Maka, selain membangun masjid, transformasi Palopo juga diikuti dengan membangun pasar, alun-alun dan istana kala itu.

Dalam lini masa Palopo, kita juga menemukan istana Datu Luwu di Palopo yang terbuat dari kayu. Istana ini dibombardir saat Perang Loewoe 1905 terjadi. Bangunan ini kemudian dirubuhkan oleh pemerintah kolonial pada akhir dekade tahun 1910-an. Belanda kemudian membangunkan istana untuk Datu Luwu, We Kambo yang bergaya Indisch. Bangunan ini bertarikh 1920, diarsiteki oleh seorang Belanda bernama Obsenter Noble.

Sejarah berulang. Palopo kemudian terbakar saat Baca lebih lanjut

Puisi Merdeka

 

Untuk Malika yang Merayakan Kemerdekaan

Ini Indonesia, nak!
Negeri dengan langit biru nan teduh.
Tanahnya permai, sungainya panjang, lautnya indah.

Bermimpilah setinggi-tinggi langitnya,
ikhtiarlah seluas-luas tanahnya,
telusuri arus-arus budayanya,
selami teka-teki samuderanya!

Untuk pertiwi,
perjuangan akan selalu dimulai.
Kepada negeri,
pengabdian akan selalu kembali.

 

Palopo, jelang 73 tahun Indonesia Merdeka.

Youth, Women and Netizen

Siapakah yang mengendalikan lanskap sosial politik dan ekonomi di Kota Palopo saat ini? Jawabannya adalah anak muda, perempuan dan warganet!

Sadar atau tidak, pasar Palopo saat ini banyak sekali menyasar anak-anak muda (youth). Tengoklah kehadiran cafe, warkop, dan bahkan mall yang ada di kota ini, costumernya didominasi anak-anak muda. Mereka adalah kaum urban dengan rentang usia antara 15-40 tahun. Dan tahukah anda, berapa persen penduduk Palopo dalam rentang usia ini? Ternyata, porsinya mencapai 46,13%.

Kelompok Youth (anak muda) ini adalah kelompok usia produktif, yang selain sebagai target pasar, juga sekaligus sebagai subyek penggerak ekonomi itu sendiri.

Jika ingin didetailkan lagi, dari komposisi kelompok pemuda ini, usia yang dominan adalah 15-24 tahun, kelompok pelajar/mahasiswa. Jumlah mahasiswa yang ada di Palopo sudah lebih dari 19ribu. Jika angka ini mau dikomparasikan, jumlah mahasiswa ini lebih besar dari total penduduk Kecamatan Wara Selatan!

Kelompok kedua adalah kelompok perempuan (women). Dari segi ukuran, kelompok penduduk ini adalah kelompok penduduk terbesar Baca lebih lanjut