Resensi Buku Kartini dari Tana Luwu

Buku Hj Siti Ziarah MakkajarengBuku “Hajjah Siti Ziarah Makkajareng: Kartini dari Tana Luwu (Pejuang Pendidikan dan Pemerhati Perempuan)” karya Ria Warda ini membagi tiga poin besar mengenai kisah Siti Ziarah Makkajareng. Bagian pertama adalah tentang latar belakang keluarga, kemudian sepak terjang dan pemikiran, serta bagian terakhir adalah mengenai kepemimpinan Ziarah.

Siti Ziarah Makkajareng adalah tokoh pendidikan Tana Luwu yang sangat sentral perannya. Ia menjadi sangat menarik untuk diulas karena merupakan perempuan yang secara konsisten mengabdikan dirinya memamujukan pendidikan di Palopo dan Tana Luwu secara umum. Di tengah hegemoni peran laki-laki pada zamannya, ia tampil dengan ide-ide pembaruan khususnya dalam pendidikan yang inklusif, yakni memberi ruang dan kesempatan yang sama bagi perempuan Tana Luwu.

Terlahir dari keluarga bangsawan Luwu, Ziarah memilih untuk lebih egaliter dengan membangun kehidupan sosial yang tanpa jarak dengan siapa saja. Bapaknya adalah Andi Makkajareng Opu Tosessu dan ibunya adalah Andi Mudhara Opu Daengnna Maddutana. Namun demikian, ia memilih menghilangkan gelar “Andi” di depan namanya. Ziarah kecil belajar mengaji dari KH Daud dan banyak menimba ilmu agama dari KH Hasyim yang kedua-duanya merupakan sahabat bapaknya. Setelah lulus SGAI, Ziarah menimba ilmu di Yogyakarta dan mendapatkan gelar kesarjanaannya dari IAIN Sunan Kalijaga. Gelar “Doktoranda” yang diraihnya sekaligus menjadikan dirinya sebagai perempuan sarjana pertama di Tana Luwu pada akhir tahun 60-an. Dari gelar inilah kemudian, panggilan Opu Anda melekat kepada Ziarah, yang merupakan kependekan kata Doktoranda.

Sepak terjang Ziarah dalam buku ini diulas dalam beberapa bab yang keseluruhannya hingga mencapai 82 halaman. Bagian ini merupakan pembahasan paling banyak dalam struktur buku ini. Sepak terjang Ziarah dideskripsikan oleh penulisnya mulai dari merintis taman pendidikan Alquran, taman kanak-kanak, sekolah kejuruan (SKKA) hingga perguruan tinggi pertama di Tana Luwu, bahkan sampai kiprah Ziarah di legislatif. Dari uraian-uraian yang digambarkan di buku ini, kita dapat merasakan perjuangan Ziarah bersama para tokoh lainnya saat awal-awal merintis sejumlah institusi pendidikan penting di Kota Palopo.

Kepemimpinan Ziarah diungkap di bab-bab akhir buku ini. Ia digambarkan sebagai seorang demokrat yang karismatik. Ziarah merupakan tipikal pemimpin yang mengambil keputusan melalui diskusi dan musyawarah, mengutamakan kerja sama dan pembangun tim yang baik. Ia memiliki visi yang konkrit dan kemampuan komunikasi yang baik. Oleh karena kemampuan itu, ia memiliki wibawa dan daya tarik yang kuat bagi orang-orang yang ditemuinya.

Diperkaya dengan cerita-cerita seputar pembangunan Palopo dan Tana Luwu di zaman orde baru, buku ini memberi kita informasi mengenai tokoh-tokoh sentral dalam dakwah Islamiah dan pengembangan pendidikan di daerah ini. Di buku ini, gambaran latar kejadian di balik perjalanan dakwah modern dan pendidikan di Palopo mendapat ruang yang besar. Gambaran tersebut merupakan sudut pandang orang pertama yang memang menjadi pelaku sejarah dan orang-orang terdekat Ziarah. Itulah yang menjadi salah satu keunggulan buku ini, kaya akan ‘ceritad dari orang pertama’ atau memaparkan data primer dari narasumber yang tepat.

Buku setebal 196+xxiv ini diterbitkan oleh CV Mitra Mandiri Persada – Surabaya tahun 2015 lalu. Buku ini memiliki catatan kaki (footnotes) hingga 277 buah yang memberikan informasi yang lebih detail, sekaligus memberikan ketidaknyamanan bagi pembacanya. Kekurangan lain dari buku ini adalah tidak adanya komparasi antara sepak terjang Ziarah dengan pokok-pokok pemikirannya. Hal ini disebabkan karena penulis mengalami kesulitan mendapat dokumentasi tulisan-tulisan Ziarah selama menjadi akademisi. Terlepas dari kekurangan tersebut, mengasosiakan Siti Ziarah Makkajareng dengan Kartini tidaklah berlebihan. Kedua tokoh ini, baik Kartini maupun Ziarah, sama-sama memperjuangkan perempuan dan pendidikan pada zamannya.

Dari kisah Ziarah di buku ini, kita bisa mengambil pesan positif mengenai pembangunan sumber daya manusia yang harus dibangun melalui lembaga pendidikan dan lembaga keluarga (dimana ibu atau perempuan menjadi kuncinya). Buku ini menjadi penting dibaca oleh tenaga pendidik atau akademisi, para muballig dan muballigah, pemerhati perempuan, para pelajar dan mahasiswa, sejarawan, bahkan warga Tana Luwu secara umum. (zhf)

Mengapa 21 Januari 1268 Menjadi Hari Jadi Luwu?

Lambang Kedatuan Luwu (doc) - CopyJati diri sebuah masyarakat selalu dilihat dari latar belakang sejarahnya. Kita patut bersyukur karena jati diri masyarakat Luwu dapat ditelusuri oleh sejumlah pakar. Penelusuran paling monumental adalah penetapan Hari Jadi Luwu. Angka 1268 didapat, dan 21 Januari ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Luwu Nomor 17 Tahun 1994 tentang Penetapan Hari Jadi Luwu.

Dokumen Perda inilah yang mendasari perayaan Hari Jadi Luwu (HJL) tiap tahunnya kita gelar. Adalah Ikatan Profesi Dosen Kerukunan Keluarga Luwu (IPD-KKL) yang menginisiasi penelusuran kejadian Luwu ini. Atas direktif Bupati HM Yunus Bandu saat itu, maka Ketua Umum IPD-KKL kala itu, Prof AS Achmad, mulai mengumpulkan informasi dan data faktual yang dapat dijadikan rujukan menurut prinsip-prinsip ilmu sejarah, walaupun disadari hal itu tentu sangat terbatas keberadaannya. IPD-KKL juga melakukan konsultasi dengan pihak-pihak yang dianggap berkompeten. Temuan awal kemudian didiskusikan dalam sebuah forum pada tanggal 29 Mei 1994 di Restoran Pualam Ujung Pandang. Di forum awal tersebut, hadir beberapa pakar sejarah dan budayawan, sesepuh dan tokoh masyarakat Tana Luwu.

Pasca forum diskusi tersebut, kajian mengenai Hari Jadi Luwu ini kemudian menemukan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut:
1. Tahun ‘Hari Jadi’ pemerintahan di Luwu adalah pada masa pemerintahan Simpurusiang. Jastifikasinya adalah hampir seluruh catatan sejarah yang absah mengngkapkan bahwa Kerajaan Luwu pada masa itu, menurut konsepsi politik modern, telah memiliki wilayah yang nyata, rakyat yang kongkrit, pemerintahan (raja) yang berdaulat dan adanya hubungan dengan dunia luar yang lain yang mapan.
2. Bulan ‘Hari Jadi’ mengacu kepada bulan terjadinya suatu peristiwa besar dan penting di masa yang lalu dan amat mempengaruhi pandangan hidup rakyatnya, bersifat populis dan mempersatukan serta mengandung motivasi yang kuat bagi masyakat membangun daerahnya.
3. Tanggal ‘Hari Jadi’ merujuk kepada tanggal peristiwa yang dipandang paling bersejarah, membangkitkan rasa kebanggaan bagi semua dan diterima oleh segala lapisan masyarakat (semua orang Luwu).

Penelusuran kemudian dilakukan ke dalam suatu forum ilmiah yang lebih luas, yakni dalam sebuah Tudang Ade’ yang digelar di Aula Simpurusiang Palopo tanggal 13 Agustus 1994 untuk mengkrongkritkan tanggal, bulan dan tahun dari Hari Jadi Luwu. Dalam Tudang Ade’ itu dihadirkan beberapa pemakalah antara lain: Prof Mr Dr H Andi Zainal Abidin (Mantan Rektor Universitas 45 Ujung Pandang), Prof Dr HA Mattulada (Guru Besar Antropologi Universitas Hasanuddin), Prof Dr Abu Hamid (Guru Besar Antropologi Universitas Hasanuddin), Drs HD Mangemba (Pakar Budaya Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin), Dr Edward L Poelinggomang (Pakar Sejarah Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin), Drs Sarita Pawiloy (Dosen Pendidikan Sejarah IKIP Ujung Pandang) dan Anthon Andi Pangerang (Budayawan Luwu).

Hasilnya, bahwa berdasar konsepsi ilmu politik modern tersebut di atas, maka pangkal tolak menentukan tahun lahirnya Luwu bermula pada waktu masuknya Islam di Luwu yakni tahun 1593. Dari tahun ini kemudian dihitung mundur 13 Raja yang pernah berkuasa sampai masa Raja Simpurusiang. Dengan asumsi 1 Raja masing-masing memiliki periode 25 tahun, maka ditemukanlah angka 1268 sebagai awal mula tahun kejadian Luwu. Angka 21 Januari kemudian dipilih sebagai Tanggal dan Bulan Jadi Luwu karena mengacu pada tanggal dan bulan yang bernilai sejarah dalam mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan RI. Tanggal dan bulan tersebut adalah waktu pemberian ultimatum kepada Tentara Sekutu sebelum pecahnya Perlawanan Semesta Rakyat Luwu (23 Januari 1946).

Demikianlah Hari Jadi Luwu ini kemudian ditetapkan melalui Perda pada tanggal 29 November 1994, dan kita mulai merayakan setiap tahunnya. Menurut Prof AS Achmad, Hari Jadi Luwu ini akan membantu kita untuk lebih mengenal akan diri kita sendiri dengan lebih baik, mengenal akan kenyataan yang menyelimuti Luwu, mengenai hakikat dan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi. Peringatan Hari Jadi Luwu mengandung motivasi untuk merencanakan dan melaksanakan pembangunan di segala bidang. Dirgahayu Ke 747 Tana Luwu…

Opsal, Opu To Sappaile

Mungkin kita hanya mengenal Opsal atau Opu To Sappaile hanya sekadar nama pusat perbelanjaan dan sebagai salahsatu nama jalan protokol di Kota Palopo. Berangkat dari pesan Bung Karno untuk tidak melupakan sejarah, maka pada tempatnyalah kita lebih mengenal sosok Opu To Sappaile. Peran Opu To Sappaile dalam Perang Luwu sangatlah penting.

Opu To Sappaile sebenarnya bernama asli Andi Baso Lempulle. Ia lahir sekitar tahun 1870 dan merupakan putra dari Andi Tadda Opu Pabbicara Pawelae Ponjalae. Ketika perang 11 September 1905 berakhir, Andi Baso bebas dari tuntutan Belanda. Ia diangkat menjadi Opu Patunru sebagai penghormatan kerajaan terhadap ayahnya, Andi Tadda.

Dua tahun setelah pendudukan Belanda di Luwu, sekitar tahun 1908 ia melamar Datu Luwu, Andi Kambo Opu Daeng Risompa yang berkuasa sejak tahun 1901. Kala itu Andi Kambo telah menjanda.

Opu To Sappaile banyak berperan dalam perjuangan Haji Hasan. Beberapa orang mengatakan bahwa pemberontakan Haji Hasan terjadi akibat perintah Opu To Sappaike. Kegagalan yang dialami oleh Belanda dalam menangkap Haji Hasan, juga diakibatkan karena adanya pemberitahuan dari  Andi Baso Lempulle kepada  Haji Hasan sebelum Belanda melakukan penyerangan.

Semua kecurigaan Belanda atas peran Opu To Sappaile dalam membantu perlawanan Haji Hasan diperkuat dengan ditemukannya keris milik Datu Luwu yang digunakan oleh Haji Hasan. Karenanya, setelah Haji Hasan meninggal di penjara Palopo, Andi Baso Lempulle kemudian dipanggil menghadap Assistant Resident Boer. Saat menghadap, ia lalu ditanya tentang kebenaran keris milik Datu Luwu yang dipakai oleh Haji Hasan dalam pemberontakannya melawan Belanda.

Tanpa berbelit-belit, Andi Baso Lemppulle pun membenarkan ucapan Boer. Saat Boer bertanya mengenai mengapa keris itu berada di tangan Haji Hasan, Opu Tosappaile  kembali menjawab dengan tenang. Ia  mengatakan bahwa sebelum belanda datang ke Luwu, keris itu memang biasa dipinjam Haji Hasan.

Berbagai pertanyaan dan tudingan terus diajukan kepada Andi Baso Lempulle untuk untuk menyudutkannya. Di antaranya juga tentang tuduhan bahwa perang Topoka dan Pemberontakan Pong Simpin adalah dibawa komando Opu To Sappaile. Namun semua pertanyaan dan tudingan tersebut berhasil dijawab dengan tepat dan tenang. Karenanya, Boer tak dapat memasukkan Opu Tosappaile ke penjara sebagai orang bersalah.

Akan tetapi, akibat hasutan dan fitnah orang-orang yang iri hati kepadanya , maka ia pun harus rela menjalani pembuangan. Para pengkhianat tersebut menyatakan kepada Boer, bahwa Opu To Sappaile adalah orang yang pandai bicara. Dan jika hanya ditanya dengan berbagai tuduhan, ia pasti mampu menjawabnya dengan baik. Dengan jawaban dan cara menjawab yang tenang, maka ia pasti tidak dapat disalahkan. Karenanya, Andi Baso Lemppulle tidak usah diperiksa, sebab selama ini banyak orang yang melihat bahwa Opu To Sappaile selalu bertemu dengan Haji Hasan di muka mesjid jika selesai salat Magrib atau Isa.

Sekitar tahun 1915, atas hasutan para pengkhianat, Andi Baso Lempulle Opu To Sappaile kemudian dijatuhi hukuman pembuangan ke Jawa bersama beberapa pejuang lainnya oleh Belanda. Pembuangan itu terjadi pada tahun kisaran tahun 1910-1918. Adapun mereka yang dibuang ketika itu antara lain adalah Andi Baso Lemppulle, Andi Mangile Palempang  Suli (anak Opu To Sappaile), Andi Jusuf Opu Tosibenggareng, Andi Renreng Opu Toppemanu (anak Opu To Sappile), Opu Tomusu, Lopi Pong Timbang, Sempo, Pong Simpin, Opu To Parombeang, Opu Tolane, Andi Pandangai Opu Daeng Tallesang.

Di antara mereka yang dibuang tersebut, beberapa diantaranya masih dapat kembali ke Luwu, seperti Andi Yusuf Opu Tosibenggareng, Andi Pandangai Opu Daeng Tallesang dan Sempo. Dalam pembuangannya  tersebut Opu Tosappaile sempat menikah dengan wanita suku Jawa dan Mempunyai keturunan.

Luwu: Dimensi Sejarah, Budaya dan Kepercayaan

bookDari statistik blog milik saya, konon, kata kunci perujuk yang paling sering dicari search engine adalah kata ‘Luwu’. Sadar atau tidak, realitas ini menunjukkan dua poin penting yang harusnya dicermati oleh orang Luwu. Yang pertama, ada banyak orang yang ingin tahu tentang Luwu, dan yang kedua, tak banyak tulisan yang mampu menyegarkan kekeringan literatur-literatur tentang sejarah dan budaya Luwu.

Tak heran memang, banyak orang ingin tahu tentang Luwu berserta seluruh sejarah dan kebudayaannya. Sebagai sebuah kerajaan tertua di jazirah selatan Sulawesi, Luwu adalah entitas budaya yang memiliki kisahnya sendiri. Dari kesadaran tersebut, sejatinya orang Luwu dapat lebih mengeksplorasi ‘Luwu’ menjadi sebuah kajian yang akan memperkaya khazanah ilmu-ilmu budaya nusantara. Di samping itu, orang Luwu sejatinya pula mampu untuk mengelaborasinya menjadi suatu entitas ekonomi untuk mendapatkan nilai tambah dari kekayaan budayanya tersebut.

Salahsatu langkah yang saya pikir sangat strategis untuk membuat nilai tambah dari kekayaan budaya (selain untuk menyegarkan kekeringan literatur seperti yang telah disebut di atas) adalah dengan menerbitkan publikasi berupa buku tentang hasil penelitian sejarah dan budaya Luwu. Dan hal tersebut saya pikir, oleh M. Akil AS, melalui bukunya Luwu: Dimensi Sejarah, Budaya dan Kepercayaan—berhasil melakukan hal tersebut.

Seperti judulnya, M. Akil AS membahas Luwu dalam tiga dimensi besar, yakni sejarah, budaya dan kepercayaan. Menurutnya, Luwu telah melewati tiga fase kepercayaan yang semakin modern. Tiga fase tersebut adalah kepercayaan dewata sewwae, budaya spiritual dan Islam. Kepercayaan kepada dewata sewwae menurut Akil, didefinisikan sebagai wujud penyerahan diri terhadap Tuhan dengan melakukan prosesi ritual terhadap kekuatan gaib yang mendiami alam raya sebagai bagian dari kekuasaan dewata sewwae (dewata langie, mallinoe dan uwwae). Di Luwu sendiri, kepercayaan terhadap dewata sewwae dewasa ini telah nyaris tak ditemui lagi. Lain halnya dengan budaya spiritual yang ada di Luwu pada masa Dewaraja, yang saat itu sangat maju. Budaya spiritual ini merupakan sebuah fenomena kekeliruan masyarakat yang terjebak dari kurangnya pemahaman asal-usul aliran yang mempengaruhinya, apakah dari animisme-Hindu-Budha-ataukah dari tradisi Islam. Fenomen budaya spiritual ini disebut sebagi ‘tareka’. Hingga Islam datang sekitar 1603 M di Luwu, budaya spritual semacam tersebut masih dimaklumi. Kehadiran Islam di Kerajaan Luwu Baca lebih lanjut

Palopo dalam Spektrum Waktu

070120093922Tidak banyak buku yang secara detail menggambarkan sejarah Palopo masa lalu. Buku Palopo dalam spectrum waktu ini, sedikit banyak berusaha menyegarkan kekeringan literature sejarah perkotaan di Palopo. Khusus bagi generasi yang lahir setelah tahun 80-an ke atas, buku ini sejatinya menjadi bahan baca baru, dalam memaknai Palopo sebagai sebuah perjalanan panjang dan menjadi bagian dari dirinya.

Banyak infromasi penting yang dipaparkan dalam buku ini. Tentang sejarah Jalan Batara, contohnya. Ternyata, sejarahnya tidak bisa dilepaskan dari cerita hidup Andi Sultani, seorang legenda Kota ini. Ceritanya secara sederhana dituturkan oleh Andi Falsafah, dalam bagian cerita “Antara Bua dan Palopo”. Lain lagi dengan asal nama Jembatan Bolong, yang kini berada di Jalan We Cudai (eks Jalan Lagaligo) Kota Palopo. Cerita tentang Jembatan Bolong ini bisa dibaca pada penuturan Onggip, fotografer utama Palopo tahun 60-70an. Melalui “Ketika Saya Harus Ganti Nama”, Onggip atau Djie Wang Gim banyak sekali menuliskan sisi ekonomi perkotaan di Palopo periode 1950-an sampai 1980-an. Pemilik Nusantara Photo dan Toko Remaja ini, juga berkisah tentang meander sungai Kampung Langsat yang dirubah strukturnya oleh Jepang, kondisi kampanye pemilu di tahun 1970-an, tentang Datu Andi Jemma, hingga cerita kedatangan Pak Harto di Sukamaju.

Beberapa kawasan yang banyak menjadi latar cerita para penutur di buku ini, sebenarnya hampir seragam. Kita maklum, karena Palopo saat itu masih sebuah kota kecil, dengan pertumbuhan kawasan-kawasan urban yang masih belum signifikan. Kawasan kota tua GeddongE dan Kawasan Pasar Lama (Luwu Plaza) masih menjadi Baca lebih lanjut